Back to Kompasiana
Artikel

Iklim

Ajeng Kania

Guru di SD yang sedang asyik menemani bayi mungilnya

Rekor Gunung Berapi di Negeriku

OPINI | 29 October 2010 | 22:50 Dibaca: 1780   Komentar: 6   0

The Greatest Crater in Indonesia (Kawah Terbesar di Indonesia)  akibat letusan G. Tambora (1915)

The Greatest Crater in Indonesia (Kawah Terbesar di Indonesia) akibat letusan G. Tambora (1915)

Merapi menggeliat kembali. Pesona Gunung Berapi berkaitan sejarah, lokasi, letusan dan aspek manfaatnya,  mengingat saya pada naskah buku Sayembara Pusbuk 2010, mengupas tentang Anugrah dan Bencana Gunung Berapi. Gunung Merapi tercatat salah satu gunung berapi paling aktif di dunia, dikenal dengan wedhus gembel-nya (awan panas) mematikan.

Berikut nukilannya hasil eksplorasi dari berbagai sumber:

Berdasarkan data Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Indonesia memiliki 129 gunung berapi, terdiri gunung berapi tipe A sebanyak 79 buah, gunung berapi  tipe B sebanyak 29 buah dan tipe C berjumlah 21 buah. Rangkaian ini membentang 7.000 km dari Aceh hingga Sulawesi Utara.  Gunung berapi ini merupakan terbanyak di dunia yakni 13 persen gunung api dunia ada di Indonesia.

Gunung berapi yang paling barat di Republik Indonesia adalah G. Jaboi di Pulau Weh, Propinsi NAD.  Menyeberang ke Pulau Sumatera, G. Seulawah Agam (digunakan nama pesawat Garuda pertama) merupakan titik paling barat dari gugus Pegunungan Bukit Barisan. Gunung berapi ini menyambung dalam Sirkum Mediretania dengan pegunungan berapi di Pulau Jawa dan Nusatenggara berakhir di Maluku. Kemudian menyambung dengan Sirkum Pasifik dalam rangkaian pegunungan di Maluku dan Sulawesi Utara dikenal Cincin Api (ring of fire), dan berlanjut ke Filipina, Jepang, AS berakhir di Chile.

Di Jawa Tengah, setidaknya terdapat 9 gunung berapi. Selain Merapi bertipe A, ada juga G. Slamet, G. Butak Patarangan, G. Sumbing, G. Sundoro dan G. Merbabu.  Sedangkan tipe B yakni G. Ungaran dan G. Lawu.

Bila ditinjau dari ketinggian maka,  G. Kerinci (3805 mdpl) di Sumatera tercatat gunung berapi tertinggi di Indonesia. Bila diukur dari dasar laut, G. Wetar di Laut Banda (Maluku) ternyata memiliki ketinggian 5.282 meter di atas Carzten Pyramid (5030 mdpl).  Bila diukur dari permukaan laut, G. Puncak Jaya (Carzten Pyramid) di Papua (tidak berapi)  yang memiliki ketinggian 5.030 mdpl memegang rekor gunung tertinggi di Indonesia.

Rekor letusan gunung berapi di Indonesia sebagai letusan terbesar sepanjang sejarah Indonesia dipegang oleh G. Tambora di Pulau Sumbawa (NTB). Gunung Tambora meletus pada tanggal 5 April 1815. Letusan dahsyat gunung tersebut diperkirakan menyemburkan material sebanyak 36 mil kubik. Letusan itu pula menciptakan kawah dengan diameter 7 kilometer yang dalamnya mencapai 800 meter. Rekor ini mengalahkan letusan G. Krakatau yang menyemburkan hanya 5 kilometer kubik.  Ledakan dahsyat G. Tambora mengakibatkan separuh gunung hilang berubah dari ketinggian di atas 4.000 mdpl menjadi 2.851 mdpl.

Debu halus yang disemburkan dari letusan G. Tambora menutupi langit di atas wilayah yang luas sekali. Lapisan debu G. Tambora menghalangi sinar matahari mencapai bumi. Akibatnya terjadinya perubahan musim secara tiba-tiba di beberapa bagian bumi. Pada musim panas tahun 1815 di belahan bumi sebelah utara tiba-tiba menjadi musim dingin. Tanah pertanian tertutup debu dan tidak bisa diolah sehingga dalam waktu singkat sekitar 80.000 penduduk di Pulau Sumbawa meninggal kelaparan. Ini rekor jumlah korban akibat letusan gunung berapi di negriku selama ini.

Erupsi membuat Anak Krakatau semakin Meninggi (www.google.com)

Erupsi membuat Anak Krakatau semakin Meninggi (www.google.com)

Letusan G. Krakatau di tahun 1883 tak kalah mengerikan. Gunung Krakatau berada di dasar laut tepatnya di Selat Sunda. Letusannya menimbulkan gelombang tsunami mencapai ketinggian 36-40 meter dan menelan korban sebanyak 36.417 jiwa.

Siapa sangka wilayah Jakarta aman tsunami? Wilayah Jakarta yang berjarak sekitar 169 km dilanda gelombang tsunami setinggi 3 meter. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 mdpl. Sementara G. Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 mdpl. (**)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 9 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 9 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 9 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Naik Transjakarta Rp 40 Ribu …

Aba Mardjani | 8 jam lalu

Memotivasi Mahasiswa untuk Belajar Lewat …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Munas Golkar Tak Diijinkan di Bali Pindah …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Patah …

Rahab Ganendra | 9 jam lalu

Taklukkan Ciputat Maka Kau Taklukkan …

Dzulfikar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: