Back to Kompasiana
Artikel

Iklim

Ma Darmawan

Pembaca setia kehidupan

Belajar “Green” dari Kearifan Lokal (2)

OPINI | 09 December 2010 | 04:56 Dibaca: 130   Komentar: 2   0

“Go green”, demikian sebuah plakat yang penulis lihat ketika melakukan perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng menuju Bogor. Ironisnya, sebuah sungai yang penulis lihat berwarna hitam pekat. Di kanan kiri sungai terdapat pemukiman penduduk yang padat. Mungkin kondisi Jakarta sebenarnya lebih buruk dari penulis lihat dalam perjalanan, karena asumsi penulis, terdapat kultur menutup-nutupi aib yang sedemikian melekat pada bangsa Indonesia ini. Sungguh sebuah kultur yang kontra-produktif saat ini. Di antara sekian banyak kultur-kultur warisan, bangsa Indonesia barangkali termasuk yang paling buruk dalam memilah mana kultur yang harus dilestarikan dan mana yang diperbaiki.

Budaya asal bapak senang dan budaya membodohi untuk meraup keuntungan yang besar terpupuk ketika para demang, adipati, lurah dan bahkan para pangeran dan raja menjadi kaki tangan VOC dalam memungut hasil bumi dari masyarakat pedesaan maupun menjadi kaki tangan pemerintah Hindia Belanda dalam menarik pajak. Kultur tidak tepat waktu konon katanya merupakan warisan dari sistem kolonial Belanda. Sesama bangsa Eropa, namun negeri Belanda memiliki sistem transportasi kereta api yang selalu telat sedangkan negara tetangga Jerman sebaliknya.

Itu adalah beberapak kultur yang seharusnya dihilangkan dari bumi Indonesia, namun kultur, tradisi, dan wisdom yang sedemikian adiluhung seharusnya dikaji ulang dan dimaknai kembali sehingga bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi sesama (memayu hayuning bhawana).  Kultur tepo sliro terhadap sesama, atau bahkan terhadap alam raya yang merupakan perantara Sang Khalik untuk memberi rizki kepada manusia.

Apabila mengkaji permasalahan etika dan estetika, sebenarnya bangsa Nusantara ini memiliki kekayaan khazanah yang luas. Masalah inisiatif hijau, sebenarnya bangsa Nusantara ini memiliki ke-adiluhung-an. Namun sayang sekali hanya menjadi legenda dan cerita karena orang yang tertarik pada kearifan lokal biasanya hanya berasyik masuk dengan koleksi keris, koleksi tombak, ilmu terawangan, mistik dan lain sebagainya. Sebaliknya orang yang agamis-ekstrim akan memandang bahwa semua tradisi dan kearifan lokal adalah musyrik. Begitu pula dengan pemahaman para cerdik cendekia yang tidak mau menerima sebuah argumen tanpa adanya rasionalitas dan empirisme.

Dalam budaya lokal Jawa, terdapat konsep mengenai kosmologi. Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, misalnya, didirikan di hutan Beringan yang secara kosmologis terletak di tengah-tengah antara Laut Selatan dan Gunung Merapi. Masyarakat tradisional Jawa memahami bahwasanya manusia sebagai jagad kecil dari keseluruhan kehidupan dan kekuatan tertinggi, sehingga ia harus menghayati posisinya dalam kosmos.

“Jika ditarik dalam suatu kesimpulan, masyarakat Jawa sejak dahulu telah memiliki kesadaran bahwasanya manusia sebagai jagad kecil dari keseluruhan kehidupan dan kekuatan tertinggi, hendaknya menghayati posisinya dalam kosmos.” (diambil dari : http://pantarhei1filsafat1ugm.wordpress.com/2008/05/20/keselarasan-dalam-konsep-kosmologi-jawa/ )

Oleh karena itu, poros Merapi-Kraton-Laut Selatan menunjukkan sebuah lanskap masa lalu yang menyelaraskan kehidupan di bumi. Agar masyarakat mau menjaga lingkungan, maka para leluhur jaman dahulu memberikan wejangan dan nasihat secara turun temurun.

Manusia Jawa jaman dahulu hidup berdasarkan aturan yang dibuat berdasarkan keselarasan dan harmoni dengan lingkungan. Tinggal bagaimanakah jaman sekarang, kearifan lokal itu menjadi pertimbangan dalam menyusun green inisiatif sehingga tidak hanya menjadi artefak masalalu.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

“Curhat Jokowi Kelelep BBM dan Kena …

Suhindro Wibisono | | 29 August 2014 | 16:40

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 7 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 7 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 11 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 14 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 7 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 9 jam lalu

V2 a.k.a Voynich Virus (part 19) …

Ando Ajo | 9 jam lalu

Meninjau Konsistensi kehalalan Produk …

Donny Achmadi | 9 jam lalu

Gojlokan Dian Kelana, Membuatku Kecanduan …

Seneng Utami | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: