Back to Kompasiana
Artikel

Iklim

Andi Oktavian Santoso

Sedang menikmati hidup sebagai seorang suami, ayah, pembelajar, pendidik, dan social entrepreneur. Pendiri SEED Community selengkapnya

Belajar dari Air

REP | 15 January 2011 | 06:30 Dibaca: 206   Komentar: 7   0

Beberapa minggu terakhir, kita mendengar tentang bencana banjir yang bertubi-tubi menerpa beberapa negara. Negara bagian Queensland Australia dilanda banjir bandang yang cukup parah. Banjir longsor juga terjadi di Brazil, juga Pakistan, Filipina, seolah berbalas-balasan. Kita tentu belum lupa ingatan bahwa bencana serupa tahun lalu juga menimpa Wasior Papua dan meluluhlantahkan banyak rumah, banyak jiwa menderita akibat banjir, beberapa waktu ini banjir juga menerpa kota-kota di Jawa Timur, Kalimantan dll. Banjir dimana-mana.

Mungkin bagi sebagian kita yang tinggal di Jakarta, banjir sudah menjadi langganan tahunan, juga kota-kota besar seperti Surabaya, Semarang yang setiap tahun dirudung masalah yang sama, banjir.

Apa yang kita bisa pelajari dari musibah banjir? Hmm mungkin kita sedikit kesulitan menjawab pertanyaan ini.  Saya teringat ketika dua tahun lalu, menginap di Semarang, di rumah adik saya, pagi-pagi sekali, tiba-tiba air dengan begitu cepat memasuki kamar tempat tidur kami, dan dalam waktu sekejab rumah adik saya terendam banjir semata kaki. Cukup mengejutkan datangnya air tersebut… tiba-tiba dan tidak ada yang bisa menduga.

Berbicara tentang banjir, tentu kita berbicara tentang air. Ya air, adalah sumber kehidupan, air bisa datang dari mana saja, dari pegunungan, air terjun, sungai, lautan, sumur, maupun air PDAM yang setiap bulan harus kita bayar biaya pemakaiannya. Air menjadi media penolong kehidupan manusia dari sejak dahulu kala. Manusia tidak bisa hidup tanpa air, dan air telah menjadi sahabat peradaban dengan setia.

129507302237597370Apa yang kita bisa pelajari dari air? Jikalau ini pertanyaannya maka, kita bisa memikirkan banyak hal. Air adalah salah satu elemen kehidupan yang pada prinsipnya hidup untuk mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, air senantiasa memberi, membagikan dirinya kepada siapapun yang membutuhkan. Air ada untuk memberi nutrisi kepada mahluk hidup, tumbuhan, dan membawa pertumbuhan bagi semua mahluk, air selalu bersifat positif pada umumnya. Bahkan negara-negara maju telah lama memanfaatkan air menjadi teknologi pembangkit tenaga listrik, alias PLTA (Pusat Listrik Tenaga Air). Indonesia dulu juga dikenal memilki beberapa PLTA yang sangat menolong, namun kini membaca persitiwa-peristiwa bencana banjir, hati kita menjadi pilu, seolah-olah air menjadi sosok yang sangat menakutkan, mengancam nyawa, dan meluluhlatahkan kehidupan dan keberadaan kita. Kita tentu masih ingat ketika Tsunami Aceh melanda, sungguh mengerikan…

Apa yang kita bisa pelajari dari air? Air diciptakan untuk menghidupi semesta, bekerjasama dengan mentari, air memberi keseimbangan hidup. Air hadir untuk memberi kesegaran, memberi kehidupan, dengan cara memberi diri untuk orang lain. Ya, air senantiasa berbagi, tidak peduli musim, air akan terus mengalir selama keberadaannya masih dibutuhkan, ia akan senantiasa berbagi. Namun jangan, salahkan air, ketika kita mengambil ruang-ruangnya untuk berada, jangan salahkan air ketika kita tidak lagi memberi tempat bagi kehadirannya, ia bisa menerkam kita, ia bisa menyentak kesadaran kita, ia bisa memaksa kita untuk meninggalkan tempat-tempat keberadaan kita.

Apa yang kita bisa pelajari dari air? Rangkullah orang lain, beri ruang untuk orang lain, beri tempat untuk keberadaan sesama kita, hiduplah untuk memberi, hiduplah untuk berbagi, jangan tampung, namun salurkanlah.. dan kehidupan akan terus berjalan dengan harmonis. Terima kasih air, jasamu begitu besar, engkau ada untukku, dan untukmu…

Mari pelihara, dan gunakan air dengan bersahabat, maka niscaya ia akan mengasihi kita.

Love life live love,

Christopher Andios

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Live Streaming dan Selfie Berhadiah di …

Yayat | | 21 November 2014 | 20:43

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 13 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 13 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 15 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Review “Supernova: Gelombang” : Kisah …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Guru Destiani, Menulis dan Menginspirasi …

Adian Saputra | 8 jam lalu

Karya Arek ITATS: Game Tooth Kid “Sang …

Xserver Indonesia | 8 jam lalu

Dua Ribu Rasa …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Guru Menulis Berdiri, Siswa Menulis Berlari …

Muhammad Irsani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: