Back to Kompasiana
Artikel

Iklim

Een Irawan Putra

I was born in Arga Makmur, North Bengkulu, Bengkulu Province. Always liked the forestry issues selengkapnya

Kampung Dukuh

HL | 31 March 2011 | 15:29 Dibaca: 1040   Komentar: 15   2

13015849081599900962

“Selamat datang di komplek kampung adat DUKUH”. Itulah tulisan yang akan kita baca disebuah plang disaat akan memasuki kampung ini. Plang yang posisinya sudah miring dan banyak ditempel stiker-stiker partai dan para calon legislatif.

Perjalanan menuju kampung ini memang cukup jauh. Sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karena kondisi jalannya yang banyak tikungan dan naik turun menyisiri bukit hingga tembus ke pantai membuat laju kendaraan tidak bisa cepat. Dari Garut kita menuju ke Kecamatan Pamengpeuk trus lanjut menuju Kecamatan Cikelet. Dari Cikelet menuju kampungnya juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Kondisi jalan yang berbatu-batu dan berlobang membuat perjalanan yang jaraknya kurang lebih 7 km ini membutuhkan waktu sekitar satu jam. Mobil-mobil kecil dan rendah tidak akan bisa masuk ke desa ini.

Ketika saya menginap beberapa hari di Kampung Dukuh, saya melihat kampung ini adalah salah satu kampung kecil yang mencoba mempertahankan adat dan budayanya yang masih tersisa ditengah gencarnya pengaruh kehidupan modern dan kemajuan teknologi. Kampung yang masih asri, damai dan tenang. Bangunan rumah yang semuanya sama yaitu terbuat dari bambu (dinding gedeg), kerangka rumah dari kayu dan atapnya terbuat dari ilalang dan dilapisi ijuk rumbia. Tidak ada penerangan dari listrik dikala malam hari. Kebisingan malam hari hanya karena suara jangkrik dan binatang malam, bukan dari riuhnya sinetron-sinetron yang ada di setiap channel televisi.

Kampung Dukuh terletak di Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet. Secara adat kampung ini dipimpin oleh Kuncen. Konon dulu kampung ini didirikan oleh Ki Candra Pamulang dari Cidamar, Cidaun, Cianjur Selatan yang kemudian setelah datangnya Syeh Abdul Jalil dari Sumedang, kampung ini diserahkan kepada Syeh Abdul Jalil. Syeh Abdul Jalil dulunya adalah seorang Penghulu Raja di Sumedang dan membuka sebuah pesantren di pinggiran Kota Sumedang. Kuncen yang memimpin sekarang ini adalah generasi yang ke-14 yaitu Ajengen Uluk Lukman Hakim yang lahir pada tanggal 10 September 1957. Kuncen dipangku secara turun temurun berdasarkan keturunan atau hubungan darah.

Kampung Dukuh terbagi menjadi dua. Dukuh Dalam dan Dukuh Luar. Yang memisahkan antar perkampungan ini hanya sebuah pagar bambu saja. Perbedaanya hanya pada aturan dan pola kehidupannya masyarakatnya. Di kampung luar sudah boleh ada listrik, warung, bangunan menggunakan semen dan beratap genteng, dll. Sementara di kampung dalam harus mengikuti aturan adat yang sudah ada. Penuh dengan kesederhanaan dan tradisional sunda.

Kampung Dukuh dalam terdapat 99 jiwa dan 30 KK. Sedangkan Dukuh Luar terdapat sekitar 307 jiwa dan 59 KK. Sebuah kampung yang cukup kecil sebenarnya. Luas kampung tesebut hanya sekitar 1,5 ha. Saya tidak tahu berapa luas lahan garapan dan berapa luas totalnya jika digabungkan dengan luas kampung mereka. Kampung Dukuh juga memliki hutan larangan (15 ha) yang tidak boleh dimasukin oleh siapaun juga kecuali untuk berdoa dan upacara adat. Di hutan larangan ini terdapat beberapa makam para tokoh yaitu Makam Syeh Abdul Jalil, Makam anaknya Syeh Abdul Jalil yaitu Hasan Husein, Makam Kuncen yang pertama dan beberapa makam pembantu syeh serta pembantu kuncen. Disana juga terdapat makam orang-orang dari Kampung Dukuh. Setiap hari sabtu banyak tamu yang datang ke kampung ini untuk berziarah. Mulai yang datang dari Jakarta, Bandung, Garut, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya. Tapi uniknya PNS (Pegawai Negeri Sipil) dilarang masuk dan berziarah ke hutan larangan. Selain itu juga dilarang bagi yang non muslim.

Ketika saya berbicara dengan Kuncen, beliau sekarang ini berniat untuk menghijaukan kembalil Kampung Dukuh. Mengajak masyarakatnya menanam kembali lahan-lahan yang sudah gersang dan gundul akibat penebangan. Hanya beliau tidak ingin ada bantuan dari pemerintahan atau sebuah perusahaan perkebunan. Karena menurut beliau akan menambah masalah dan terkadang bantuan yang diharapkan tidak efektif.

Klo menurut saya niat Kuncen bukanlah hal yang mustahil bisa terwujud. Karena luas wilayah yang tidak begitu luas dan beliau bisa menggerakkan masyarakatnya. Tinggal bagaimana kita menyampaikan saja ke teman-teman lainnya apakah ada teman kita yang bisa bantu untuk mewujudkan mimpi Kuncen.

Saya membayangkan kampung yang kecil dan penuh kesederhanaan ini bisa rimbun, hijau, banyak pepopohan besar sehingga keasrian, kedamaian, kesejukan yang sudah ada di kampung ini bertambah dan berlipat-lipat. Masyarakatnya bisa menjaga hutannya kembali dan tingkat pendapatan meraka dari sumberdaya alam yang ada semakin baik. Perekonomian mereka semakin baik. Masyarakatnya semakin kompak dan tetap memegang teguh budaya dan adat mereka. Mereka bisa bangga dengan adat dan budaya yang mereka miliki, bukan ikut hanyut dan tenggelam karena derasnya budaya luar yang masuk ke kampung mereka.

Ahh betapa indah dan serasinya suatu kampung jika apa yang saya bayangkan bisa terwujud. Mimpi kuncen bisa terwujud. 10 Pepeling atau Nasehat Adat Sunda Parahiyangan ngolah lahan anu arif dan bijaksana tetap menjadi acuan manusia dalam memanfaatkan lahan hutan dan lingkungan sekitar. Sebuah ekosistem bisa tetap lestari dan rakyatnya menjadi sejahtera.

Berikut 10 Pepeling yang sudah turun temurun yang ada di budaya sunda.
1. Gunung – Kaian : Gunung-gunung ditanamin kayu-kayu atau pohon
2. Gawir – Awian : Sebuah lerengan ditanamin bambu
3. Cinyusu – Rumateun : Mata air untuk dirawat atau dijaga
4. Sempalan – Kebonan : Suatu daerah atau kawasan datar ditanamin untuk kebun
5. Pasir – Talunan : Bukit ditanamin pohon-pohon keras
6. Dataran – Sawahan : Daerah yang datar dijadikan sawah
7. Lebak – Caian : Daearah bawah harus diberi air
8. Legok – Balongan : Kalau lobang dijadikan kolam
9. Situ – pulasaraeun : Danau untuk dipelihara, dijaga dan dikelola
10. Lembur – Uruseun : Kampung untuk dikelola

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kurikulum 2013: Buku, Seminggu Dibagikan …

Khoeri Abdul Muid | | 20 August 2014 | 17:25

Hati-hati, Cara Mengutip Seperti Ini Pun …

Nararya | | 20 August 2014 | 20:09

Anak Sering Kencing (Bukan Anyang-anyangan) …

Ariyani Na | | 20 August 2014 | 18:03

Obat Benjut Ajaib Bernama Beras Kencur …

Gaganawati | | 20 August 2014 | 14:45

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 10 jam lalu

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 14 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 15 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 15 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: