Back to Kompasiana
Artikel

Iklim

Prihatmaji

aji adalah saya, tapi saya bukan aji. karena saya bisa rudi, robert atau rina. sebagai selengkapnya

“Sang Pengendali Air”

REP | 28 April 2011 | 14:24 Dibaca: 298   Komentar: 0   1

Konon, Tuhan tidak menciptakan lagi tiga macam benda di bumi. Tiga macam benda tersebut, yaitu tanah, air dan udara. Tuhan mempercayakan manusia untuk mengelola bumi dan seisinya termasuk tanah, udara dan air sampai hari akhir. Kewajiban manusialah untuk membudidayakan segenap anugerah sumber daya bumi ini bagi kepentingan penghuni bumi.

Sulit membayangkan keadaan saat ini, alih-alih saat musim kemarau kemarin paceklik air, malah terdengar kabar di Sulawesi terjadi banjir bandang. Ketika terjadi bencana alam, terngiang petuah dari orang bijak bahwa alam sudah tidak bersahabat lagi pada manusia. Pertanyaannya adalah apakah manusia pernah berusaha uluk salam dan bertegur sapa dengan sang alam?.

Pada musim kemarau kita teriak-teriak kepanasan dan kurang air. Sumur-sumur kering yang menyebabkan kita gali dan gali lagi. Suhu dan kelembaban udara setali uang membikin gerah kehidupan sehari-hari kita.
Di jalanan hanya ada emosi dan emosi yang mendidih. Di rumah gerah membikin kita tidak kerasan. Seolah-olah matahari diletakkan satu depa di atap rumah kita.

Ketika musim hujan tiba, kita bersyukur alam menjadi indah nan sejuk, dan sudah sampai disini saja. Air melimpah hanya kita pandangi, seolah lupa bahwa saat kemarau setetes air saja sangat kita dambakan. Air hujan menuruni atap jatuh ke tanah hanya kita lihat keindahan visualnya, mungkin kita abadikan dalam “puisi dan lagu”. Celakanya, kita juga mahir membikin syair dan prosa tentang kekeringan dan kemarau panjang.

Walaupun manusia tempat lupa dan keluh kesah, tetapi ada baiknya kita mulai belajar tentang mempersiapkan kehidupan di dua musim ini, khusunya musim hujan. Hiduplah di musim hujan seakan-akan kita mengarungi musim kemarau, dan nikmatilah musim kemarau seolah-olah kita berada di musim penghujan.

Jangan biarkan satu tetes air pun sekedar lewat di sekitar rumah kita tanpa ada manfaatnya. Sudahkan rumah anda bertalang, sehingga air akan terakumulasi pada suatu tempat dan memungkinkan kita simpan untuk keperluan remeh sehari-hari. Barangkali kita lebih suka menjadi penikmat cucuran air turun ke bumi dan mengikhlaskannya hilang di riol kota.

Apa yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Bogor dengan metode biopori patut kita teladani. Usaha ini cukup istimewa kalau melihat posisi Bogor yang terletak di dataran tinggi sehingga kemungkinan banjir kecil. Untuk apa repot-repot menyerapkan air, toh wilayah Bogor hanya dilewati aliran air. Daerah Jakartalah yang rutin mendapat parsel banjir tahunan, tetapi belum intim dengan metode-metode penyerapan air. Kesadaran untuk peduli pada wilayah sekitar telah dibuktikan sebagian warga Bogor dengan usaha biopori tadi.

Metode biopori sangat tepat dilakukan di tanah relatif luas dengan karakter non pasir, karena lubang hasil pengeboran akan tetap terjaga bentuknya. Apabila tanahnya berpasir, hasilnya kurang maksimal karena dimungkinkan lubang di tanah akan terurug sehingga penyerapan air tidak maskimal. Metode ini dilakukan dengan mengebor tanah sedalam 1 m dengan diameter 10 cm, kemudian ditutup dengan sampah organik.

Diharapkan air hujan dapat meresap ke dalam lubang tersebut, senyampang kompos hasil sampah organik tadi dapat dipanen secara rutin.

Metode lain yang tepat digunakan pada tanah berpasir ialah menggunakan galian tanah sedalam 50 cm atau lebih dengan luas menyesuaikan dengan ukuran lahan yang tersedia dan diisi dengan koral. Galian dapat dibeton atau dibiarkan berdinding tanah saja. Diharapkan lubang berisi koral tadi dapat meresapkan air hujan kedalam tanah dengan lebih cepat. Penggunaan pipa pralon dari PVC atau tanah liat yang dilubangi juga terbukti efektif untuk meresapkan air, baik diletakkan vertikal maupun horisontal dalam tanah.

Secara “formal” sumur-sumur resapan dapat menggunakan buis beton dengan kedalaman disesuaikan posisi air tanah. Jangan sampai menyentuh air tanah karena dikhawatirkan akan mengganggu kualitasnya. Tentu saja metode ini relatif mahal dibanding dua metode sebelumnya. Yang terpenting adalah bagaimana mempercepat air hujan atau buangan cepat meresap kedalam tanah.

Lebih ideal lagi sebelum air hujan kita resapkan, kita manfaatkan untuk kegiatan non higienis seperti cuci kendaraan, siram tanaman atau sekedar kita manfaatkan untuk kolam ikan. Baru setelah kita eksplorasi air tadi, kita resapkan untuk di seleksi oleh alam menjadi air sumur.

Lebih luas lagi prinsip yang kita anut adalah jangan biarkan air dari rumah kita, baik air buangan atau air hujan keluar dari pekarangan kita. Kalau kita beranggapan bahwa riol selokan, parit sampai riol kota adalah tempat buangan air, sebenarnya air itu hanya pindah saja. Barangkali kepindahannya adalah bencana bagi orang lain di sepanjang aliran tersebut dan menjadi musibah bagi orang yang berada di muara saluran-saluran air tadi.

Niscaya dengan menerapkan prinsip tersebut bayangan terdapat pelabuhan di Kentungan Yogyakarta akan sirna. Bisa jadi beberapa tahun mendatang banjir melanda Jogja dan garis tepi airnya adalah daerah Kentungan ke arah Kaliurang. Pelabuhan Jogja Baru barangkali juga bisa muncul di daerah Piyungan sebelum naik ke arah Wonosari. Kalau di Jakarta mungkin di daerah Ciawi Bogor (penghabisan tol Jagorawi) sebagai pelabuhan Jakarta Baru. Semoga film Water World-nya Kevin Kostner tetap menjadi karya fiksi bukan kenyataan di tahun mendatang.

Kalaulah Sang Avatar (the legend of Ang) adalah pendali ketiga unsur alam (air, udara, tanah, ditambah api) susah untuk kita tauladani, cukuplah kita sebagai Si Pengendali Air saja, khususnya lagi di musim penghujan ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 11 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 15 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 16 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 19 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: