Artikel

Iklim

Gibb

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

aku bersumpah bahwa aku adalah orang yang tak berguna | http://kilatpicisan.wordpress.com

Oseng-Oseng Cabai


OPINI | 24 September 2011 | 09:07 Dibaca: 137   Komentar: 6   2 dari 3 Kompasianer menilai menarik

Saya pernah mendengar cerita tentang sebuah kawasan yang sangat kering. Sedemikian tandusnya sehingga orang-orang di kawasan tersebut biasa makan nasi dengan sayur oseng-oseng cabe. Karena cuma pohon cabe yang bisa tumbuh di daerah itu. Saya tidak tahu cerita itu benar atau tidak. Tapi menurut saya, cerita itu cukup mengerikan, karena saya nggak doyan masakan pedas.

Saya selalu ngeri membayangkan jika pulau jawa sampai dilanda kekeringan. Saya takut kalau nanti cuma pohon cabe saja yang bisa tumbuh di jawa. Walaupun sebenarnya, saya nggak tahu, memangnya cuma pohon cabe yang bisa tumbuh di tanah yang tandus?

Tapi berita-berita beberapa tahun terakhir sering mengabarkan soal bencana kekeringan. Biasanya, berita-berita ini muncul tidak lama sesudah berita-berita soal banjir. Hanya ada dua musim di Indonesia, dan dua-duanya berpotensi bencana. Hujan mendatangkan banjir, kemarau mendatangkan kekeringan. Kok celaka bener ya…

Tadinya saya menduga, musim hujan yang panjang akan diikuti oleh musim kemarau yang pendek. Ternyata tidak, Musim hujan yang panjang, akan diikuti oleh musim kemarau yang panjang pula. Siklus cuaca membuatnya demikian.

Ketika musim hujan yang panjang datang, air yang ditumpahkan memang banyak. Tapi air itu tidak diserap oleh lapisan tanah. Air hujan tersebut mengalir begitu saja di permukaan tanah, mengakibatkan banjir. Lalu ketika kemarau datang, kekeringan lah yang mengancam. Karena air yang dibawa oleh musim penghujan tidak diserap oleh tanah. Padahal, air tanah ini adalah sumber air utama andalan manusia.

Selain cuacanya memang makin ganas, ulah manusia juga lah yang membuat kekeringan jadi makin parah. Misalnya, banyak permukiman yang dibangun di lahan yang seharusnya merupakan daerah resapan air. Belum lagi eksploitasi air tanah yang berlebihan, misalnya yang dilakukan oleh industri Air Minum.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air menyatakan air merupakan hak asasi manusia yang harus dipenuhi negara. Tapi adakah orang yang percaya pada UU tersebut? Kalau saya sih percaya pada Tuhan, bukan pada UU. Sepertinya saya harus belajar mencintai masakan pedas. Belum ada perubahan yang berarti dalam usaha untuk mengantisipasi bencana kekeringan..

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: