Back to Kompasiana
Artikel

Iklim

Sapto Nugroho

baru mulai berbagi cerita dan mulai mengumpulkan cerita di http://tulisan.pilihan.net

Langit Biru dan Gerhana Bulan Total

HL | 11 December 2011 | 07:36 Dibaca: 799   Komentar: 19   1

Hari kamis tanggal 8 Desember, pagi hari di Tokyo sangat dingin  suhunya sekitar NOL derajat, salju tipis sempat turun.  Salju turun kala udara sangat dingin dan berawan.  Hari Jumat 9 Desember,  suhu agak naik dikit tapi masih dibawah 10 derajat, maka yang terjadi adalah hujan biasa ( bukan hujan salju ).

Langit Biru di Tokyo, dan malamnya tampak jelas terlihat gerhana bulan

Langit Biru di Tokyo, dan malamnya tampak jelas terlihat gerhana bulan

Hari sabtu pagi, 10 Desember 2011, udara cerah sekali.  Biasanya memang setelah hujan, hari berikutnya langin sangat jernih tanpa awan satupun di atas sana, jadi langit BIRU BANGET.  Beberapa tahun yang lalu ada saudara yang pernah main ke Tokyo heran kok langit bisa biru banget.  Suadara saya ini tinggal di Jakarta, dia bilang kok Jakarta nggak pernah bisa lihat langin sebiru ini.  ”Mustinya pemerintah daerah Jakarta ada program Langit Biru“, begitu katanya, nggak tahu apa dan bagaimana project itu mau dijalankan.

Tanggal 10 Desember, hari sabtu inilah setelah sebelumnya turun salju dan hujan udara dan langit di Tokyo sangat cerah. Tidak ada awan di langit, di siang hari tampak biru.  Tak ada awan ini berakibat udara terasa dingin. Pada bulan desember ( musim dingin ), di Tokyo jam 5 sore langit sudah gelap, siang harinya tambah pendek.

Sekitar jam 11 malam, saya bersama anak saya yang masih kelas 3 SMP, keluar ke beranda rumah. Udara sangat dingin, mungkin sekitar 5 derajat celcius. Meski dingin dibela2in keluar untuk melihat bulan yang mau dimakan ( gerhana bulan ).  Karena langit bersih dari awan, maka selain bulan yang tampak besar jelas di sekitarnya tampak jelas rasi2 bintang yang ada.  Anak saya masuk kembali ke rumah, dan mengambil buku pelajaran dari sekolah. Ada satu buku pelajaran yang di dalamnya ada foto rasi2 bintang.  Sambil menanti gerhana bulan, kami berdua mencoba mengamati bintang2 di sekitarnya, ada rasi Orion,  Sirius dan lain lain ( maaf nggak hafal, karena nggak begitu ngerti soal astronomi ). Tapi anak saya senang sekali karena bisa melihat dengan mata kepala sendiri bintang2 yang selama ini hanya dilihat di buku pelajaran.

Karena udara dingin, tidak tahan lama di luar rumah. Beberapa kali kami mencoba mengambil foto tapi agak susah. Posisi bulan persis di atas, sehingga untuk mengambil gambar kepala musti menengadah ke atas.  Ambil foto tiga kali,  leher terasa pegal dan sakit2.  Paling enak ambil foto sambil tiduran, tapi mana tahan tiduran di beranda yang dingin.

Beberapa teman di Indonesia mengatakan bahwa di tempatnya tidak bisa melihat gerhana karena tertutup awan dan ada juga yang hujan.  Banyak yang cerita juga bahwa pada sakit lehernya karena terlalu lama melihat ke atas. Teman2 yang senang dengan astronomi tentu sangat mengabadikan moment ini, apalagi untuk melihat Lunar Eclipse nya.

Ada cerita lain, cahaya bulan itu punya kekuatan atau energi tersendiri. Akibatnya saat gerhana bulan kemarin ada orang yang terasa lemas dan agak nggak enak badan dan lalu tertidur. Begitu gerhana bulan selesai, orang itu sehat kembali.

Kembali ke masalah langit cerah yang membuat mudah melihat gerhana bulan,  menjadi pertanyaan dalam benak saya apa yang dikataka saudara saya dulu : “Kenapa di atas Jakarta tidak pernah ada langit biru seperti ini?” ( lihat foto yang saya tampilkan di atas ).  Apakah karena polusi ? atau memang letak geografi dari kota Jakarta yang tidak memungkinkan punya langit biru ? Semoga ahli geografi dan cuaca ada yang bisa menerangkan tentang fenomena langit biru ini.

Sangat senang sewaktu melihat langit biru, kalau saja rakyat Jakarta atau di mana saja bisa melihat langit biru tentunya juga akan merasa senang, dan terasa bumi itu indah dan malamnya bisa lihat gerhana bulan dengan jelas.

Salam langit biru

Sumber Foto Gerhana Bulan dari Imelda Coutrier

1323588863248622781

Gerhana Bulan 10 Des 2011, foto : Imelda Coutrier

1323588956664079661

Gerhana Bulan 10 Des 2011, foto : Imelda Coutrier

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 4 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 6 jam lalu

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 11 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 15 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: