
Dibaca: 438
Komentar: 62
2 dari 6 Kompasianer menilai inspiratif
idong (warga Baduy Dalam) dan padi yang habis diketam (dok. syam)
Ini masa kawalu. Bulan-bulan perayaan musim tuai padi bagi masyarakat adat Baduy di desa Kanekes. Masa kawalu yang biasanya jatuh pada sekitar Januari - Maret pada kalender Masehi. Meski masa panen tapi warga Baduy makin menekankan hidup bersahaja, misalnya berpuasa dan berpantang mengonsumsi telur. Demi kekhusyukan masa kawalu, mereka menolak kunjungan orang luar dalam rombongan besar.
Tanda-tanda masa panen huma tampak di sepanjang jalan tanah menuju kampung Cibeo (Baduy Dalam). Padi-padi beraneka jenis dijemur di tepi jalan. Tempat menjemur padi, sangat sederhana. Hanya berupa rak dengan dua batang bambu panjang melintang yang ditopang tiang-tiang kayu. Padi-padi diikat, kemudian digantung berbaris horizontal. Agar tak basah kena hujan dan embun, rak diatapi daun kirai (sejenis pohon sagu, Metroxylon rumphii). Atap dimiringkan dengan bagian paling tinggi ke arah matahari terbit dan bagian rendah ke arah matahari terbenam.
Penjemuran padi cara tradisional yang dalam istilah masyarakat adat Baduy disebut “dilantaian” biasanya berlangsung selama sepekan. Dibiarkan tergantung siang-malam. Setelah kering, padi disimpan selama sepekan di sawung atau pondok di tengah ladang, kelak dibawa ke lumbung di kampung.
Meski berada di tepi jalan setapak yang kerap dilalui orang, belum pernah ada laporan petani Baduy kehilangan padi yang sedang dijemur. Kepatuhan pada adat membuat mereka tak berani saling mencuri. Warga luar Baduy pun menghormati dan tak berani mencuri padi masyarakat Baduy.
“Tahun ini panen padi dari huma hanya sedikit,” tutur Idong. Lelaki muda murah senyum ini adalah warga kampung Cibeo, satu dari 3 kampung di kawasan adat Baduy Dalam. Seperti kepala keluarga masyarakat Baduy Dalam lainnya, Idong pun berladang. Sedikitnya dia sudah lewati 16 kali musim padi sedari ia menikah.
“Dua tahun inilah yang paling buruk. Panen sedikit. Padi banyak gebeng (hampa tak berisi).” sambil berjalan mendaki meniti jalan setapak licin dia bercerita sembari menganalisa kegagalan panen. “Musim hujan sepanjang tahun, padi diserang kungkang (walang sangit).”
Saya jadi teringat kebun yang saya kelola, di Cijapun, Pedalaman Selatan Sukabumi. Perubahan iklim akibat pemanasan global memang mendera petani macam kami. Hujan sepanjang tahun 2010 berdampak nyata pada hasil bercocok tanam. Sederhananya, hujan mengurangi intensitas sinar matahari yang amat dibutuhkan daun untuk fotosintesis. Kian sedikit proses fotosintesis berlangsung, makin sedikit pula jumlah bunga yang kelak diharapkan menjadi buah. Hasil panen padi di sawah milik masyarakat sekitar Cijapun merosot jauh, banyak yang hasil panen hanya seperempat hasil tahun-tahun sebelumnya. Begitupun pada tanaman buah dan sayur buah, misalnya papaya dan cabe. Bunga pepaya yang muncul jauh berkurang ketimbang tahun sebelumnya dimana musim panas berlangsung panjang. Cabe berbunga sedikit. Maka wajar bila kemudian harga cabe di pasaran di Indonesia sempat tiba-tiba melonjak berpuluh kali lipat.
Di luar bencana alam (erupsi gunung berapi, banjir, dll) yang memorak-porandakan sentra pertanian di Indonesia, perubahan iklim dengan musim hujan yang kepanjangan menjadi faktor penting pada kegagalan panen di Indonesia.
Kegagalan panen akibat perubahan iklim memicu krisis pangan di Indonesia dan sebagian besar dunia. Masih beruntung Masyarakat Baduy. Adat melarang mereka menjual padi hasil. Setiap keluarga memiliki huma dan otomatis punya lumbung tempat penyimpanan padi. Keluarga muda rerata punya satu lumbung, tapi para tetua bisa memiliki sampai dua puluhan. Ketika panen melimpah mereka bisa menabung padi dalam jumlah cukup sebagai cadangan menghadapi masa paceklik di tahun berikutnya.
Tahun 2010 silam, Idong hanya memanen sekitar 300 ikat padi. “Tahun ini, ya sekitar 200 ikat,” tutur Idong. “Sesudah ditumbuk, satu ikat padi jadi 2 liter beras. Kalau padinya jelek, bisa kurang dari 2 liter. Tak cukup untuk makan keluarga selama setahun.”
Dilarang Jual, Boleh Beli!
Beberapa warga Baduy lain bahkan mendapat hasil panen lebih sedikit. Syarif misalnya, putera pu’un (ketua adat) kampung Cibeo Baduy Dalam. Hanya memanen 20 ikat padi.
Biasanya, bila ada yang hasil panennya buruk, masyarakat Baduy akan saling tolong dengan meminjamkan padi simpanan. Tapi Syarif punya keterangan bagaimana cara urang baduy mengatasi kebutuhan pangan di saat seperti kini. “Biarpun tak boleh jual padi, tapi orang Baduy boleh beli beras dari luar.”
Untuk mendapatkan uang, orang Baduy dibolehkan menjual hasil ladang non-padi, hasil hutan non-kayu, dan kerajinan tangan ke luar. Hasil ladang berupa pisang dan ubi jalar selain untuk kebutuhan pangan, mereka jual ke pengumpul di terminal Ciboleger yang terletak di tepian desa Kanekes (Baduy). Begitu pun jahe dan kencur serta hasil tanaman lain. Hasil hutan non-kayu utama yang mereka hasilkan adalah madu dan gula aren. Juga bambu dan atap. Beberapa hasil hutan non-kayu lainnya menjadi bahan penting kerajinan tangan khas baduy, di antaranya biji keluwek (kepayang, Pangium edule), kulit buah dan biji cariu (Entada phaseoloides), kulit kayu teureup (terap, Artocarpus odoratissimus), bagian dalam batang handam (paku resam, Gleichenia linearis), dan lain-lain. Selain kerajinan tangan berupa pernak-pernik asesoris, masyarakat baduy juga terampil menenun kain khas mereka.
Masyarakat Baduy nyaris tak banyak perlu membeli banyak produk dari luar. Selain beras, mereka hanya berbelanja sekadarnya. Terutama ikan asin dan garam. Jenis bahan makanan lain yang penting mereka beli adalah minyak goreng. Tapi penggunaan minyak goreng lebih diutamakan sebagai bahan bakar lampu sederhana; sebuah mangkuk berisi minyak goreng dan diberi sumbu yang sebagian besar terendam tapi ujung sumbunya berada di atas permukaan minyak agar dapat disulut api.
Selebihnya, masyarakat Baduy tak memerlukan banyak benda yang mesti dibeli dari luar kampung. Sebuah konsep keswadayaan yang berkepribadian khas mereka.
Perubahan Iklim, Madu, Lebah, dan Padi
Seperti para lelaki Baduy lain, Karmain biasa mengumpulkan madu. Dia tergeli-geli sendiri bercerita pengalamannya kena rubung kena sengat lebah. Kena demam hingga sepekan. Suatu kali ia bermaksud memanen sarang lebah di atas pohon kiara. Tinggi. Terpanjat dengan 15 sambung tali tambang. Sesampai di dahan dekat lebah bersarang, api yang ia bawa padam. Padahal untuk usir lebah pakai asap, perlu api. Turun lagi demi api ia rasa tanggung. Maka nekat ia panen madu di sarang penuh lebah tanpa alat bantu apa pun. Hasilnya dobel. Dapat madu, kena demam.
Panen raya madu alam biasanya terjadi di ujung musim kemarau. Kemarau meletupkan musim bunga. Keberadaan bunga berbanding lurus dengan ketersediaan nektar bagi lebah untuk diubah menjadi madu. Dan sejak tengah 2009, kemarau tak hadir bagian di Barat Nusantara. Produk madu alam di Baduy pun merosot.
Merosotnya jumlah hasil panen padi di huma juga berkait keberadaan lebah. Diceritakan Karmain, bila musim panas berlangsung baik, ketika bunga-bunga padi rebak, lebah-lebah ramai datang. Keberadaan lebah di huma tak hanya memberi manfaat pada penyerbukan padi. Tapi juga pengendalian hama.
“Kalau banyak lebah di huma, serangan (hama) kungkang pasti sedikit. Apalagi lebah jenis tihuan,” Karmain menjelaskan bahwa lebah menjadi musuh alami bagi serangga pengganggu tanaman. Sayang, kali ini musim memang tak berpihak bagi petani.
Huma dan Hutan
Huma atau ladang masyarakat Baduy dikelola secara tradisional. Pola peladangan gilir-balik (shifting cultivation). Pada masa Orde Baru dimana Soeharto berkuasa di Indonesia, pola berladang gilir-balik ini kerap disebut peladangan berpindah. Sekilas kedua istilah peladangan itu tak berbeda. Tetapi pada maksud yang dituju oleh rezim orde baru, keduanya bertolak belakang. Istilah peladangan berpindah ditumpangi pemberian citra negatif, yakni kepada pola pertanian tradisional yang dituduh merusak kelestarian hutan. Peladangan gilir-balik adalah sebuah kearifan tradisi di banyak masyarakat adat se-Nusantara sebagai cara peremajaan hutan secara terpola.
Membuka ladang tak boleh di sembarang hutan. Pola peladangan gilir-balik di masyarakat Baduy sangat taat adat. Sebelum membuka huma baru, tiap warga mesti melapor sekaligus meminta izin pada pu’un.
Kawasan yang dapat dibuka untuk huma sudah ditetapkan dalam tata guna lahan. Luasnya hanya sepertiga dari keseluruhan wilayah Baduy. Sisanya adalah kawasan hutan adat yang terlarang untuk dialih fungsikan dan kawasan pemukiman, yang masing-masing menempati sepertiga bagian. Penetapan kawasan dipatuhi oleh semua warga Baduy yang tersebar di 53 kampung (Baduy Dalam 3 kampung dan Baduy Luar 50 kampung).
Jenis huma di Baduy terbagi beberapa jenis. Secara garis besar terbagi menjadi huma kolektif dan perseorangan. Huma yang dikelola secara kolektif dan hasilnya diperuntukkan untuk adat (huma serang di kawasan Baduy Dalam) dan kebutuhan pembangunan desa (huma tuladan di kawasan Baduy Luar). Ada pula huma pu’un (ladang khusus untuk pemimpin adat), huma tangtu yang digarap oleh masyarakat Baduy Dalam, huma panamping dikelola oleh masyarakat Baduy Luar, dan huma Urang Baduy alias huma yang digarap masyarakat Baduy Luar dan berada di luar wilayah desa Kanekes.
Memerhatikan huma-huma di Baduy, mengingatkan pada satu konsep pertanian yang sekarang didengung-dengungkan sebagai konsep pertanian ekologis. Jenis padi yang ditanam beragam. Masyarakat Baduy masih memelihara sekitar 40 jenis padi lokal. Tanaman yang dibudidayakan juga amat beragam. Selain padi, tampak juga hanjeli (Coix lacryma-jobi), ubi jalar, aneka jenis kacang-kacangan lokal, aneka tanaman bumbu masak, dll. Tanaman dirawat tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimiawi. Di tengah hamparan padi masih dipertahankan pohon-pohon besar seperti durian, albasia, dan petai, dan lain-lain. Konsep ini banyak disebut sebagai konsep hutan-kebun, wana-tani, atau agro-forestry.
Keberadaan huma-huma baru yang dibuka secara bergilir setiap tahun tak kurangi luas dan kelestarian hutan. Mereka tetap patuh pada larangan membuka hutan larangan (leuweung kolot). Situasi umum hutan di kawasan Baduy pernah dituturkan Kepala desa Kanekes (Baduy), Jaro Dainah, dan menjadi laporan Cornelius Helmy dan C Anto Saptowalyono. Seluas 3.000 hektar kawasan ulayat Baduy tetap dipertahankan sebagai hutan demi kelestarian 120 titik mata air (Kompas, 27/03/2010).
Tapi kelestarian hutan larangan milik masyarakat adat Baduy bukan tanpa ancaman. Karmain, warga kampung Cibeo menyebut ancaman terbesar atas kelestarian hutan mereka datang dari masyarakat luar Baduy. Beberapa kali mereka memergoki pencurian kayu di hutan larangan. Aparat polisi hutan (polhut) pun tak banyak daya atasi hal ini.
“Polhut sendiri masih belum berhasil mengatasi pencurian kayu di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun yang tak jauh dari hutan larangan Baduy. Takutnya nanti bila kayu di taman nasional habis, pencuri masuk ke wilayah hutan Baduy,” tutur Karmain dengan mimik serius.
Peningkatan jumlah penduduk Baduy sendiri lambat laun persoalan terhadap ketersediaan lahan berladang. Karenanya saat ini masyarakat Baduy sedang mengusahakan menambah lahan pertanian dengan membeli lahan di luar Baduy sebagai cadangan lahan peladangan.
Meski terancam perubahan iklim yang juga mendera dunia secara global, ditambah tekanan dari masyarakat luar Baduy, serta meningkatnya kebutuhan masyarakat Baduy sendiri… tapi warga Baduy tetap yakin musim akan berubah membaik. “Alam sedang sakit dan pasti nanti bakal sembuh,” begitu keyakinan mereka. Selama mereka tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur yang ditanamkan adat. Dan musim kawalu tahun ini, mereka tetap memaknainya sebagai masa sujud syukur pada kemurahan bumi dapat bersinambung.###