Artikel

Iklim

Filman Syah

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Berkarya tanpa tuntutan. Itu jujur dan rileks.

Tanda (Manusia dengan Alam) I


REP | 23 February 2012 | 01:28 Dibaca: 70   Komentar: 0   Nihil

*Oleh : Filmansyah*

Menampakkan sedikit-sedikit peristiwa sebelum-sesudah terjadi. Samar-samar, belum jelas artinya. Berprasangka atas keadaan yang dilihat. Itulah tanda. Sifat tanda yakni sembunyi dimana-mana. Tanda berada pada makna implisit. Dibalik tulisan tanda bersembunyi, dibalik perkataan tanda menyelinap, sebelum peristiwa besar terjadi tanda mengabarkan lebih dulu, setelah peristiwa besar lewat ada tanda yang ditinggalkan. Tanda muncul bisa diciptakan oleh manusia untuk manusia, alam pun menciptakan tanda untuk manusia sebagai bentuk proses interaksi. Sederhananya, contoh salah satu proses manusia saat memberi tanda, yakni dengan berbahasa tubuh yang bermaksud untuk mengkode-kan sesuatu, dan bagi orang lain yang melihat bisa paham. Bila yang lebih kompleks, ada pada perkataan dan tulisan yang didalamnya mengandung makna yang harus diinterpretasikan, bisa melalui metode tertentu agar mencapai pemahaman yang kuat. Terkadang tanda disajikan sangat multi-interpretatif, ada beberapa alasan yang kuat, seperti saat situasi zaman yang tidak membiarkan kebebasan berbicara, maka perlu meng-implisitkan makna asli atas tanda itu sendiri.

Persoalannya bagaimana memaknai tanda dengan benar atau paling tidak mendekati kebenaran, sedangkan menginterpretasikan tanda sangat syarat dengan multi-makna, yang sangat memperumit dalam menarik makna yang sesungguhnya. Proses tanda itu lahir juga karena konstruksi budaya dalam tatanan suatu masyarakat. Jadi memang ada keharusan memiliki kepekaan dan kejelian untuk merespon keadaan, terutama yang dekat dengan lingkungan tempat tinggal kita. Setiap tempat juga berbeda-beda setting budayanya. Kita sebagai penikmat tanda, kadang hanya sekedar menyaksikannya sambil-lalu. Dengan prinsip seperti ini, kepekaan tidak akan bisa diperoleh. Bila seharusnya tanda itu sebenarnya bermaksud untuk menyampaikan hal yang penting, maka jadi tidak berarti sama sekali.

Alam berinteraksi dengan manusia lewat tanda yang disebarkannya kepermukaan. Misalnya, saat gunung merapi yang mau meletus. Tetumbuhan yang berada di areal dekat gunung akan mati layu karena panas, binatang penghuni gunung akan turun kebawah untuk berimigrasi mencari tempat aman, penduduk yang dekat dengan gunung dapat merasakan cuaca yang ekstrim karena udaranya berubah menjadi hawa panas. Itu saatnya penduduk berpikir harus segera pindah mencari tempat yang jauh dari gunung tersebut dan pertanda bahwa gunung itu tinggal menghitung hari akan meletus. Bayangkan bila manusia tidak dapat membaca tanda-tanda meletusnya gunung ini. Bayangkan saja.

Akhir-akhir ini sungguh miris rasanya menyaksikan berita banjir yang melanda sejumlah daerah di Indonesia. Kita sama tahu, Kalimantan termasuk paru-paru dunia karena hutannya yang begitu luas. Salah satu provinsi, sebutlah Kalbar, kasus banjir sering terjadi apalagi dibulan penghujan ini. Luasnya hutan, kontur tanah baik, tetap tak bisa mengelakkan bencana banjir. Hutan dan tanah akan mampu menampung curah hujan. Secara ilmiah dijelaskan, pohon hanya bersifat memperlambat jatuhnya air ke tanah, sehingga air dapat diserap maksimal oleh tanah, dan batang-batang pohon. Ya, jika kondisi hutan yang normal akan begitu. Namun kondisi hutan di Kalbar telah jauh dari kondisi normal, karena banyaknya pembalakan liar, dan hutan yang dijadikan lahan bisnis sehingga ekosistem hutan sedikit-banyak terganggu. Belum lagi binatang penghuni asli hutan juga turut terganggu lingkungan hidupnya. Saya hanya memaparkan secara umum atas tempat yang mengalami pembalakan liar, bila pembaca ingin mengetahui secara detail, silahkan buka situs media online dan data-data pendukung agar lebih memahami hal-hal krusialnya.

Alam memberikan tanda yang sangat sederhana agar manusia dapat memahaminya. Bencana banjir, longsor, dan kerusakan ekosistem laut. Itu karena alam merespon kegiatan manusia yang merusak. Dan sebenarnya untuk menanggulangi ini semua sangat sederhana, yakni perbaikan dan rubah pola hidup untuk lebih peduli terhadap alam. Namun gerakan sederhana ini jarang ada yang bisa mengamalkannya. Akibatnya, alam merespon dan manusia-manusia menamakannya sebuah bencana. Alam hanya merespon, akar masalahnya ada pada pengrusakan alam oleh manusia. Tradisi ini semestinya harus dihentikan, agar keharmonisan hidup antar manusia dan alam saling terjaga.

Selanjutnya nanti akan dibahas tanda manusia untuk manusia.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: