Back to Kompasiana
Artikel

Iklim

Ali Yasin

Peminat perubahan sosial

Bisnis Tolong-menolong dalam Banjir Ibukota

OPINI | 18 January 2013 | 11:14 Dibaca: 247   Komentar: 0   0

Kontan, publik tertuju perhatiannya ke Ibukota Jakarta. Air banjir menggenang hampi di seluruh sudut. Tak hanya kawasan langganan, tapi kawasan sentral seperti bundaran HI, istana, sampai dengan jakarta selatan pun terendam air. Perumahan dan kawasan elite yang diklaim bebas banjir, ternyata tak luput dari genangan air dengan variasi ketinggian, mulai dari 1 meter hingga ada yang 3 meter.

Presiden SBY langsung tinjau lokasi. Perintahpun meluncur ke Gubernur Jokowi agar segera dicari penyelesaian. Banjir limatahunan itu telah membuat denyut nadi kehidupan Jakarta nyaris lumpuh. KRL gak bisa melaju sampai stasiun tujuan penumpangnya.Mobil banyak yang gak bisa dioperasikan karena ketinggian air melebihi mesin. Begitu juga angkutan umum.

Banjir besar di ibukota menyadarkan lagi betapa air dalam volume berlebih sangat menyusahkan. Selain listrik yang harus dimatikan, tentu aktivitas kerja tidak bisa berjalan normal karena ruangannya terisi air. Sebagai contoh, konon tidak kurang dari 28 kantor cabang/pembantu BRI tidak bisa beroperasi. Kantor publikpun tak luput dari ancaman serupa.

Saling menyalahkan pun jadi topik yang menghangat. Di tengah liputan update, berbagai stasiun TV menyempatkan berbagai sudut pandang para ahli. Kupasannya tentu untuk mengurai siapa yang harus “disalahkan”. Seperti kasus sebelumnya, yang telah didefinisikan sebagai pihak tersalah adalah penduduk di pinggiran sungai.

Banjir telah menjadi ajang debat. Ajang adu teori, adu wawasan dan tentunya adu kepentingan. Salah satunya untuk “pencitraan”. Beradu cepat untuk tampil di TV ataupun media lainnya. Hanya untuk menampilkan siapa paling peduli, siapa paling depan bersimpati, memberi bantuan tenda sampai dengan sembako.

Disinilah berlaku konsep Banjir bukanlah petaka. Justu ia menjadi berkah. Sebagai momen yang oleh banyak kalangan dianggap menyusahkan, ternyata oleh sebagian orang justru menyenangkan. Itulah sebagian masyarakat kita termasuk para elite kita yang berlomba hadir ditengah kejadian banjir. Tak urung niat kedua yang lebih utama, yaitu pemberitaan. Itung-itung sambil menyelam minum air.

Tolong menolong telah menjadi pekerjaan dadakan. Dasarnya tentu keadaan. Orang lapar butuh makan, dingin butuh selimut, sakit butuh obat, kehujanan butuh tenda darurat dan lain sebagainya. Evakuasi dan tindakan penyelamatan lainnya bagaimanapun memang harus diutamakan.

Persoalannya, penampilan nama lembaga/parpol di berbagai spanduk selalu mencorong dan hampir selalu memenuhi sudut lokasi bantuannya. Entah karena ingin butuh pengakuan di hadapan para korban mungkin. Bisa saja, merasa tak sempurna jika tak menampilkan hal itu. Sebab, untuk menghadirkan bantuan tersebut juga bukan perkara mudah.

Posko bantuan, posko peduli, atau apapun namanya menjadi alat komunikasi efektif untuk menarik simpati publik. Rasa kemanusiaan digugah, naluri berbagai dibangunkan agar orang lain mempercayakan bantuannya melalui mereka. Tak urung, bantuan material/non material pun masuk. Siapa tega melihat bayi diselamatkan dari amukan air hanya dengan menggunakan sebuah bak plastik. Siapa tega melihat orang tua renta menderita sakit dan kedinginan, harus berteduh dibawah tenda terpal yang usang. Siapa tega melihat wanita hamil tua harus rela berdesakan di posko penampungan yang padat.

Bantuan, apapun bentuk tak bisa disalahkan. Hanya cara mengumpulkan dan menyalurkan harus dengan nilai-nilai kemanusiaan pula. Apakah ada kewajiban harus menampilkan spanduk, baliho, poster, atau media publikasi lain sehingga membuat publik tahu bahwa yang menyalurkan adalah lembaganya.

Kalaupun alasannya untuk kepercayaannya dari para donaturnya, tentu bukan jadi alasan untuk memperbanyak pengakuan secara membabi buta. Sebab, yang dibutuhkan justru sikap amanah yang ditandai dengan kecepatan dan ketekunan kerja menolong, bukan semata-mata minta tolong (donatur) sehingga bisa menolong korban.

Kita harus menghindari perilaku bisnis yang berorientasi cari untung dalam menolong korban banjir. Meski hanya untuk cari pengakuan. Negeri ini membutuhkan orang/lembaga yang ikhlas dalam menolong. Sebab hanya dengan cara itulah, penyelamatan korban bisa diselesaikan lebih cepat.

Bukan hal aneh, misal ada tokoh, atau lembaga/parpol, baru akan memberikan bantuan jika ada liputan media koran, TV dan lain sebagainya. Konon, ada sesal jika penyerahan bantuan tak terupload di berita media tersebut. Apalagi menjelang pemilu 2014 yang sebelumnya parpol telah mendapatkan nomor urut pemilu. Tentu jadi even marketing yang sangat menguntungkan.

Inilah yang disebut bisnis tolong-menolong. Selalu ada pamrih, termasuk dalam kepentingan mencari popularitas dihadapan calon pemilih. Mengapa negeri ini selalu terjebak dalam komersialisasi musibah, termasuk banjir di ibukota? Tanyakan pada rumput yang bergoyang….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tim Indonesia Meraih Emas dalam Taste of …

Ony Jamhari | | 20 September 2014 | 13:35

Pendaftar PNS 1,46 juta, Indonesia Minim …

Muhammad | | 20 September 2014 | 12:59

Dari Melipat Kertas Bekas Bergerilya Berbagi …

Singgih Swasono | | 20 September 2014 | 17:28

Di Pantai Ini Tentara Kubilai Khan Mendarat! …

Mawan Sidarta | | 20 September 2014 | 13:30

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 10 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 12 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 13 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 13 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: