Back to Kompasiana
Artikel

Iklim

Teresa Aquino Fernandez

Edisi Kongres PAN ke V di Bali pada 28 Februari-03 Maret 2015

Jokow dan Ahok Kalang-kabut !

REP | 19 January 2013 | 22:35 Dibaca: 1367   Komentar: 0   0

135860966856278064

Sumber foto : www.ekspres.com

Ada yang bilang Jokowi baru sadar kalau ia adalah Gubernur DKI. Selama ini ia seakan di atas angin, iya tersanjung oleh singgasana pencitraan yang diinagurasikan warga Jakarta.

Kehadirannya yang dikira bak Malaikat itu, membuat ekspektasi warga DKI membumbung tinggi. Bahkan sampai-sampai Jokowi dianggap sang “juru selamat” yang sesaat bisa mengubah segala persoalan Jakarta.

Disaat Pilkada, Jokowi benar-benar termakan oleh politik penyanjungan rakyat. Ia termakan pujian. Kasarnya mereka saling memakan. Warga pun termakan oleh image building Jokowi. Satu yang kurang didalami warga Jakarta, bahwa mereka lupa meletakkan Jokowi dalam takaran sebagai manusia biasa.

Akhirnya semua jadi takabur. Banjir kemarin yang mengganas itu, seakan menggambarkan bahwa “Jokowi bukan siapa-siapa”. Atau juga bukan tukang sulap.

Orang-orang yang dulu menutup mata sambil memberi dua jempol pada Jokowi pun kini nyengir-nyengir saja sambil bilang “hmm Jokowi”.Dengan latar belakang sebagai Sarjana Ilmu Kehutanan UGM, Jokowi pikir semua siklus alam ini ekologisme an sich. Padahal alam hanyalah “mikro kosmos”. Sementara manusia beserta sifat kearifan adalah pusat siklus semesta.

Maka tak wajar bila ia menganggap semua soal pelik Jakarta ini remeh-temeh.Selama masa kampanye Pilkada DKI berlangsung, hampir 15 kali Jokowi berjanji di TV, tapi sekali pun ia tak pernah mengucapkan insyaAllah. Artinya ia terlalu melambung tinggi meletakkan kemampuan nisbih-nya di atas segala kuasa Tuhan.

Disaat banjir yang mengganas di beberapa titik DKI itu, saya ingin Jokowi bilang “Ternyata Tuhan itu lebih besar dari omong besar saya”.Lalu dimana Ahok?

Ia hanya bisa menampilkan sisi diktator nya selama 100 hari kerja. Ketika banjir menggila, ia menghilang tanpa sekata pun di TV. Sudah tau musim hujan tiba, ia lebih memilih ribut-ribut cari sensasi dengan Farhat Abas (Pengacara).

Apa buah dari diktator nya Ahok? Cuap-cuap di TV ga ada hasil. Tak satu pun indikator keberhasilan atas kegarangannya itu. Kalau ada coba tunjukan? Mereka (Jokowi dan Ahok), hanya menunjukkan kepanikan semua. Blusukan sana-sini ga ada hasil. Selamat bekerja Mas Jokowi dan Ci Ahok. []

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengejar Potensi Ekonomi (Selain) Dari Batu: …

Unggul Sagena | | 01 February 2015 | 00:25

Lebih Sayang Suami Atau Gadget? …

Cahyadi Takariawan | | 01 February 2015 | 08:04

Inspirasi, Imajinasi, dan Referensi Dalam …

Ryan M. | | 31 January 2015 | 20:03

Mengejar Jodoh Ala Anak Muda Saudi …

Mariam Umm | | 31 January 2015 | 19:56

Anggota DPR Dilarang “Ngartis”, …

Kompasiana | | 30 January 2015 | 12:24


TRENDING ARTICLES

Mitologi Jawa dalam Kepemimpinan Jokowi …

Musri Nauli | 13 jam lalu

Sebab Senyapnya KMP di Kegaduhan …

Pebriano Bagindo | 14 jam lalu

Titik Temu, Catatan Kritis untuk Mata Najwa …

Mahi Baswati | 19 jam lalu

Siapa Adu Domba Jokowi dan Megawati? …

Nusantara Link | 20 jam lalu

Menyorot Sisi Humanitas Kisruh Sawito, Samad …

Nararya | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: