Back to Kompasiana
Artikel

Iklim

Yovi Toni

hidup optimis di kubangan limbah

Mandi dan Minum Air Hujan, Berani?

HL | 17 March 2013 | 17:30 Dibaca: 5960   Komentar: 50   17

1363521129146619035

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Rata-rata curah hujan Indonesia di atas 2 meter per tahun. Yang artinya kalau semua air hujan yang turun tidak mengalir ke mana-mana, tidak meresap dan tidak menguap maka Indonesia terendam setinggi 2 meter. Jumlah yang terlalu banyak, sehingga malah menimbulkan keluhan. Kita senang di hari-hari pertama musim hujan, lalu mengeluh di hari-hari berikutnya dan sangat lega ketika musim hujan akhirnya benar-benar pergi. Sekali lagi, karena kita menganggap hujan turun melampaui kebutuhan sehari-hari kita.

Di banyak tempat, dalam situasi banjir dan tanah longsor, sumber air tawar yang paling utama adalah air hujan. Bahkan untuk beberapa daerah beriklim kering di Indonesia, air hujan menjadi satu-satunya sumber air sepanjang tahun.

Tapi untuk daerah yang berlimpah air bersih, air hujan kurang mendapatkan tempat, bahkan imejnya buruk. Ini hanya gara-gara ada anak kena flu sehabis kehujanan, atau kena diare sehabis minum air hujan. Air hujan dituduh sebagai biangnya.

Dan karena Indonesia berkelimpahan air tanah, kita lebih sering mendengarkan cerita buruk tentang air hujan. Beda dengan wilayah beriklim kering seperti Afrika, Australia Utara atau di Pakistan, di mana air hujan sangat dihargai.

Ketika air hujan dipakai untuk minum dan dan mandi, saya mencatat beberapa keluhan yang paling sering diungkapkan.

Kekuatiran pertama: apakah aman menggunakan air hujan sebagai air minum? Kedua, mengapa air hujan rasanya hambar, tidak sesegar rasa air tawar. Ketiga, mengapa mandi air hujan, menimbulkan rasa licin seperti masih ada sabun yang lengket? Keempat, adakah metode pengolahannya sehingga air hujan bisa seperti air tawar pada umumnya?

Air hujan itu bersih dan murni:

Dalam siklus air, semua air permukaan dimurnikan oleh proses penguapan yang kemudian membentuk awan, terkondensasi dan turun sebagai hujan. Harusnya tidak ada perdebatan, bahwa air hujan adalah air yang paling bersih dan paling murni. Paling bersih dalam artian, bebas mikroorganisme pathogen; paling murni dalam artian bebas partikel terlarut.

Salah satu ukuran kemurnian air adalah TDS (total dissolved solids= total padatan terlarut) dalam ppm (parts per million). Makin sedikit nilai TDS, makin tinggi kemurniannya. Misalnya air laut 30.000 ppm, air sungai 500-1.000 ppm, air kemasan 10-120 ppm, dan air hujan 3-20 mg/L. Air hujan memiliki partikel terlarut paling sedikit. Sebuah kelebihan sekaligus kekurangan.

Walaupun bersih, tetapi dalam perjalanan dari awan hingga ke tanah, mungkin saja air hujan tercemar misalnya karena jatuh ke atap rumah yang kotor,atap rumah mungkin saja tercemar kotoran burung atau bangkai serangga dan atap asbes bisa melarut. Atau mungkin ditampung dalam wadah yg kotor dan penyimpanannya tidak ditutup. Yang paling sering, kualitas air hujan menurun karena tercemarnya udara di lokasi turunnya hujan. Itu sebabnya air hujan di daerah pedesaan jauh lebih bersih dari daerah perkotaan yang banyak industrinya.

Jadi masalah bersih dan higienisnya air hujan sebagian besar tergantung pada kondisi di atas. Kalau hal-hal tersebut beres, maka air hujan aman dipakai sebagaimana air tawar lainnya.

Rasa hambar air hujan:

Air bisa berbeda rasa karena adanya mineral yang berbeda, baik jenis maupun jumlah. Padahal air hujan tidak mengandung mineral. Lidah tiap orang sudah terprogram untuk memberikan persepsi yang berbeda tentang rasa air yang “segar”. Itulah yang sering menjadi masalah karena minum air yang rasanya asing bagi lidah lalu dirasakan sebagai “tidak menghilangkan rasa haus” walaupun sudah minum banyak. Dan lalu disebut airnya tidak segar.

Saya pernah mempunyai teman yang tinggal di pantai dan sering minum air payau. Kalau bikin kopi dengan air tawar, dia selalu menambahkan sedikit garam dan menurut dia itulah kopi yang enak.

Unsur “rasa” pada air bukanlah masalah kesehatan. Itu lebih ke masalah estetika. Dan rasa hambar pada air hujan disebabkan karena hampir tidak adanya partikel yang terlarut.

Badan serasa licin sehabis mandi air hujan:

Penjelasannya ada dalam ilmu kimia: bagaimana sabun bekerja?

Pertama, molekul sabun bisa dibayangkan sebagai ular: ada kepala, ada ekor. Kepalanya itu mineral logam dan ekornya yg panjang itu lemak. Begitu masuk air, keduanya terpisah. Kepalanya larut dalam air dan tetapi ekornya tidak larut. Masih ingat kan, lemak (minyak) yang tidak mau bercampur dengan air.

Kedua, busa yang kita dapatkan setiap mandi dan mencuci adalah karena lemak dari sabun yang membuat ikatan baru dengan mineral kalsium atau magnesium yang biasanya selalu ada di air tawar. Begitu busa terbentuk, dia keluar dari dalam air. Dan terbilas kalau disiram. Jadi ketika kita mandi, lemak dari sabun yang menempel ke badan, bisa dengan mudah lepas karena ada mineral kalsium dari air tawar.

Air hujan tidak mempunyai mineral kalsium itu. Makanya semua cerita di atas lalu tidak berlaku lagi.

Celakanya, karena yg kita cari waktu mandi adalah busa sabun, dengan semangat kita menggosok lebih banyak sabun di badan, walaupun busa tidak kunjung terbentuk. Hasilnya, makin banyak lemak terus menempel dan yang sudah menempel tidak mau larut dalam air. Frustrasi berlanjut waktu kita membilas badan. Kita terus menyiram lebih banyak air hujan tetapi badan kita tetap saja licin. Kita kehabisan air, menyerah dan hanya bisa bilang “mandi air hujan kok licin di badan yah….”

Jadi yang bikin licin badan bukanlah air hujan tetapi sabun yang kita pakai.

Karenanya kurangi pemakaian sabun saat mandi air hujan, dan tidak paksakan menggosok sabun hingga terbentuk busa. Atau jika punya sedikit kapur sirih, tuangkan seujung sendok kapur sirih ke dalam air untuk mensuplai kalsium.

Mengolah Air Hujan?

Apakah kita perlu mengolah air yang sudah murni? Membuat air hujan menjadi berasa air tawar artinya menambahkan mineral logam ke dalam air hujan. Ada yang mensiasatinya dengan menambahkan sedikit garam dapur dan kapur sirih agar penampilannya serupa air tawar pada umumnya. Ini cara yang cerdas dan hebat. Tapi ini juga sebuah upaya yang hanya cari repot dan tidak perlu. Hanya karena rasanya asing, bukan berarti air hujan bermasalah.

Jadi, daripada memikirkan cara membuat air hujan sesegar air tawar, lebih baik membiasakan lidah dengan rasa baru tersebut.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Heritage Kereta Api, Memadukan Bisnis …

Akhmad Sujadi | | 20 August 2014 | 08:31

Kabar Gembira, Kini KPK Ada TVnya! …

Asri Alfa | | 20 August 2014 | 11:16

Kesadaran Berdaulat Berbuah Ketahanan dan …

Kusuma Wicitra | | 20 August 2014 | 12:38

Saonek Mondi Sebuah Sudut Taman Laut Raja …

Dhanang Dhave | | 20 August 2014 | 12:13

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 8 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 9 jam lalu

Massa ke MK, Dukungan atau Tekanan Politis? …

Herulono Murtopo | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: