Back to Kompasiana
Artikel

Iklim

Dilla Zhafarina

Aku adalah riak rasa yang tak bersuara

Dari Manusia untuk Bumi

HL | 28 March 2013 | 03:17 Dibaca: 375   Komentar: 0   5

13644115121270535839

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Bumi adalah sebuah ruang paling sempurna di jagad raya ini. Di sini manusia menggantungkan kelangsungan hidupnya. Manusia memiliki keuntungan dari 4 milyar tahun perkembangan bumi, dan menurut sejarah terbentuknya bumi, manusia baru berusia 200.000 tahun. Dalam waktu 200.000 tahun itu, manusia telah melakukan banyak kerusakan pada bumi. Keserakahan manusia dalam mengelola apa yang disediakan bumi telah menyebabkan banyak hal merugikan seperti, bencana alam, perubahan iklim, cuaca yang tidak tetap, ozon semakin menipis, hingga ancaman pemanasan global yang sangat mengerikan. Bumi merintih butuh pertolongan, perhatian, dan kepedulian untuk melestarikannya.

Kalian pasti tahu piramida makanan dimana posisi paling bawah ditempati oleh tumbuhan, dilanjutkan dengan hewan baru kemudian manusia. Apa kalian tahu apa artinya ini? Lingkungan atau alam akan terus berjalan tanpa hadirnya manusia di bumi. Hal ini juga disampaikan pada film yang berjudul “The Day The Earth Stood Still”. Film ini menceritakan tentang alien yang akan menyelamatkan Bumi dari kita manusia. “Bumi masih memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki diri, dan kesempatan kedua bisa terjadi dengan menyingkirkan manusia yang selalu menghancurkan bumi.” Demikian kutipan dialog dari film tersebut. Manusia untuk tetap bertahan hidup tidak bisa tidak bergantung pada bumi. Bumi tak pernah bergantung pada manusia.

Bahkan PBB mengingatkan, pada tahun 2030 dunia akan lebih membutuhkan tambahan 50 persen makanan, 45 persen lebih tambahan energi, sekitar 30 persen tambahan air. Padahal, perubahan dalam lingkungan akan menciptakan pasokan yang lebih terbatas. Apabila manusia gagal mengatasi semua kebutuhan ini, maka risiko yang akan terjadi yakni manusia di bumi akan terperosok dalam kemiskinan dan kemelaratan. Apa kita mau berakhir seperti ini?

Kitalah penyebab bumi menjadi sekarat dan kita manusia juga yang dapat menyembuhkannya. Sebagai anak muda yang masih ingin hidup di masa yang akan datang, haruslah peduli pada bumi. Tidak perlu perlu susah-susah membuat aksi yang bombastis. Percuma mengadakan aksi besar tetapi hanya sekali saja dan tidak ada kelanjutannya, sedangkan ada hal-hal kecil disekitar kehidupan kita yang sering dilakukan tapi luput untuk diperhatikan.
kawan, ada banyak hal kecil berdampak besar yang dapat kita lakukan sebagai aksi kepedulian terhadap bumi. Misalnya saja mengurangi intensitas dalam menggunakan kendaraan bermotor. Gunakan sepeda motor kalau jarak tempuhnya lebih dari 2 km. Bagi yang memakai mobil juga sama, usahakan maksimalkan kuota penumpang dalam mobil tersebut. Kalau memang hanya seorang saja, lebih baik tidak usah pake mobil. Sebagai gantinya, biasakanlah pakai sepeda. Ingat, polusi hasil asap kendaraan bermotor turut memiliki andil besar dalam pemanasan global.

Buat ibu-ibu yang suka belanja, usahakan bawa kantong belanja sendiri. Hindari pemakaian plastik untuk satu pemakaian saja. Sampah plastik merupakan limbah yang sangat sulit untuk diurai. Butuh waktu ratusan tahun untuk mengurai limbah ini.

Hal sederhana yang tak kalah penting adalah batasi konsumsi listrik dalam rumah kalian. Apa hubungannya listrik dengan menjaga kelestarian bumi? Pembangkit listrik yang mayoritas dibangun di semua negara berbahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara dan gas alam) yang notabene mengeluarkan CO2 atau gas rumah kaca dan telah terbukti secara ilmiah berakibat langsung terhadap kenaikan temperatur rata-rata bumi. Lalu bagaimana cara mengurangi pemakaian listrik secara maksimal? Yang dapat dilakukan yaitu segera ganti lampu bohlam dengan CFC yang lebih hemat energi. Kemudian yang pake AC, jangan terlalu berlebihan. Selain boros listrik, ada beberapa zat yang berbahaya buat ozon kita. Solusinya, pake kipas angin aja atau buat ruangan dengan banyak fentilasi supaya angin bisa keluar masuk. Lebih alami bukan?

Yang terakhir adalah irit air. Meskipun 70% luas permukaan bumi diselimuti oleh air, tetapi dari 70% Jumlah air itu tidak semua dapat digunakan. Ini penting kita pikirkan karena volume total air di dunia yang sekitar 1.4 milliar km3, jumlah volume air tawar hanya 2.5 % dari volume total air dunia itu atau setara dengan 35 juta km3. Tetapi hanya kurang dari 1 % saja yang dapat digunakan oleh manusia serta ekosistem di muka bumi.

Sekali lagi, kitalah penyebab bumi menjadi sekarat dan kita manusia juga yang dapat menyembuhkannya. Jadi, mari kita mulai dari sekarang!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Kasus PR Habibi, ketika Guru Salah Konsep …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 9 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 10 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 11 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Gimana Terhindar dari Jebakan Oknum Trading …

Adhie Koencoro | 8 jam lalu

Dari Priyo Sampai Ahok, Akhirnya Demokrat …

Auda Zaschkya | 8 jam lalu

Daya Tarik Kota Emas Prag, Ditinggalkan …

Cahayahati (acjp) | 8 jam lalu

Cycling, Longevity and Health …

Putri Indah | 9 jam lalu

Menemukan Pembelajaran dari kasus Habibi dan …

Maria Margaretha | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: