Back to Kompasiana
Artikel

Iklim

Sariffuddin

Konsultan individu dan penulis pada www.metametu.org

[Pelanggan] banjir Semarang belajar manajemen bencana

REP | 02 July 2013 | 12:46 Dibaca: 194   Komentar: 0   0

13727450701623262371

dokumentasi pribadi, 2013

Semarang kaline banjir - tagline ini rasanya sangat melekat dengan Kota Pesisir Semarang ini. Kota yang tumbuh dan berkembang di sepanjang pesisir Laut Jawa ini terus menjadi pelanggan banjir setiap musim penghujan. Kerusakan dan kerugian akibatnya sangat besar dan mengganggu aktivitas perekonomian kota yang sebagian besar berada di daerah pesisir. Bukan hanya banjir, rob dan penurunan tanah (land subsidence) juga menjadi masalah rutin yang dihadapi warga ¬†pesisir. Meskipun pesisir Semarang merupakan daerah ‘rawan’ bencana terutama rob dan banjir, tetapi wilayah ini menjadi favorit warga untuk bermukim dan mengembangkan usaha mereka. Industri, pertokoan, rumah hingga sekolah banyak yang berdiri di daerah rawan ini. Terutama kawasan industri yang berada di daerah pesisir untuk mendekatkan dirinya dengan pelabuhan tanjung mas. Alhasil, arus urbanisasi terus menerus bertambah dan menjadikan kepadatan rumah di wilayah pesisir sangat tinggi.

Antusiasme warga untuk tinggal di daerah ‘rawan’ banjir bukan mengherankan lagi, karena ¬†’gula’ berupa kawasan industri memang berada di daerah itu. Layaknya fenomena gula dan semutpun terjadi. Di lain pihak, mereka dihadapkan pada persoalan banjir yang terjadi hampir setiap tahun. Mereka ‘dipaksa’ untuk beradaptasi dan hidup berdampingan dengan bencana. Padahal kemampuan adaptasi sangat bergantung dengan kemampuan individu dan komunitas. Kemampuan individu berhubungan dengan tingkat kesejahteraan, adapun kemampuan komunitas berhubungan dengan sistem pengelolaan bencana di lingkup mereka.

Persoalan ini yang menggerakkan pemerintah Kota Semarang bekerjasama dengan Rockefeller Foundation (sebagai donatur) dan Mercy Corps (sebagai implementer/ pelaksana) untuk berperan aktif dalam pengembangan kemampuan warga menghadapi bencana. Kegiatan ini merupakan bagian dari grand design adaptasi kota terhadap bencana dan perubahan iklim dalam program ACCCRN (Asian Cities Climate Change Resilience Network). Kegiatan ini berupa pelatihan Manajemen Bencana dan Peringatan Dini Banjir yang diselenggarakan pada hari minggu tanggal 30 Juni 2013 di Kantor Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Peserta pelatihan adalah warga di 7 kelurahan terdampak banjir yaitu Kelurahan Wonosari, Gondoriyo, Tambakaji, Wates, Beringin, Mangungharjo dan Mangkang Wetan. Pelatihan ini merupakan tahap awal dalam penguatan kapasitas KSB di 7 kelurahan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Drama Proyek Jembatan Linggamas …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 12:32

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 1 jam lalu

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 13 jam lalu

Hari Ibu Selow Aja …

Ifani | 13 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: