Back to Kompasiana
Artikel

Iklim

Mohan Budiman

Sungai, Lautan, Pulau, dan Ekologi

Perubahan Iklim dan Masyarakat Nelayan

OPINI | 29 July 2013 | 14:56 Dibaca: 298   Komentar: 0   0

Perubahan iklim berdampak luas pada jutaan masyarakat nelayan Indonesia: cuaca yang tidak menentu sudah mengganggu mata pencaharian di banyak pulau. Kejadian-kejadian seperti tenggelamnya beberapa kapal dan terdampar adalah sebagian kecil dari dampak perubahan. Nelayan adalah sebuah profesi yang memiliki ketergantungan pada ekosistem yang rentan akan perubahan sangat besar: Kenaikan suhu lingkungan dari suhu toleransi karang berpengaruh terhadap zooxanthellae di dalam karang karena zooxanthellae sangat sensitif terhadap perubahan suhu sehingga mengakibatkan pemutihan karang, hal ini akan mengakibatkan berkurangnya populasi ikan di laut. Naiknya muka air laut juga merupakan ancaman bagi tambak-tambak dan permukiman penduduk di daerah pesisir pulau Jawa dan Bali.

The Indonesia Country Report on Climate Variability and Climate Change (ulasan analitis mengenai dampak perubahan iklim di Indonesia) adalah sebuah bukti jika Indonesia merupakan Negara yang menjadi korban perubahan iklim, tapi ironisnya perdebatan-perdebatan tentang kontribusi Indonesia pada pemanasan global melalui pembakaran hutan, penggundulan hutan serta degradasi lahan gambut selalu menutupinya.

Dampak-dampak tersebut memiliki tantangan terhadap pembangunan dalam aspek lingkungan sosial dan ekonomi secara berkelanjutan. Untuk mengatasi hal tersebut, kita perlu segera mengintegrasikan mitigasi dan adaptasi. Kita perlu mengupayakan pengurangan Gas Rumah Kaca dan mempersiapkan masyarakat agar lebih siap, tahan dan kuat terhadap ancaman yang diakibatkan oleh perubahan iklim utamanya nelayan.

Mitigasi

Dalam pengertian umum mitigasi adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan kerugian tidak terjadi atau jika terjadi pun tidak menyebabkan dampak yang lebih parah, sedang para pakar perubahan iklim menyebut mitigasi sebagai upaya untuk mengurangi Gas Ruma Kaca.

Komitmen Presiden Republik Indonesia pada G-20 Pittsburgh dan COP15 menurunkan emisi gas rumah kaca 26%-41% pada 2020 yang melingkupi sektor kehutanan dan lahan gambut, pertanian, energi dan transportasi, industri, dan limbah dengan beberapa strategi adalah sebuah upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah dan beberapa pihak asing.

Dalam skala kecil mitigasi bisa berupa tindakan-tindakan cinta lingkungan seperti mengurangi penggunaan plastik, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan AC yang non CFC, dan hemat energi. Hal ini memang terdengar sepele, tapi jika semua penduduk melakukannya maka akan berdampak cukup besar bagi menurunnya emisi gas rumah kaca.

Adaptasi Masyarakat Nelayan

Para nelayan memiliki pengertian berbeda tentang perubahan iklim, mereka memaknai perubahan iklim dengan sulitnya membaca tanda-tanda alam (angin, suhu, astronomi, biota, arus laut), karena terjadi perubahan dari kebiasaan sehari-hari, sehingga nelayan susah untuk memprediksi kapan waktu melaut dan memprediksi dimana daerah tangkapan yang potensial. Kemampuan nasional untuk memprediksi iklim bagi wilahnya harus dimiliki oleh Indonesia, karena Climate system bersifat temporally dan spatially vary, dan saat ini BMKG sedang mengembangkannya. Tapi bukan hanya itu tantangannya, masyarakat nelayan yang sebagian besar letak geografisnya terisolasi dimana akses untuk mendapatkan informasi sangat terbatas adalah satu diantara beberapa tantangan yang harus diperhatikan, sebab, meski informasi dari BMKG tentang iklim dapat diakses setiap saat dalam web, twitter, facebook, ataupun blog, namun keterbatasan pendidikan, fasilitas di permukiman nelayan yang sebagian besar memiliki infrastruktur yang buruk dan sosialisasi pada nelayan masih kurang, sehingga hal seperti itu tidak banyak membantu meraka.

Kedua adalah perencanaan zona pesisir yang lebih optimal dan menejemen zona pesisir yang terintregasi. Pemerintah daerah memiliki peran yang menentukan dalam pengelolaan kawasan pesisirnya karena konteks otonomi daerah, dimana daerah dipacu untuk dapat memanfaatkan daerah secara maksimal dan bertanggung jawab atas sumberdaya alam yang dimiliki (ekosistemnya). Tapi kenyataannya kelestarian alam sering kali dikalahkan oleh kepentingan industri: rusaknya terumbu karang akibat pencemaran dan pariwisata yang tidak ramah lingkungan, dan berkurangnya ekosistem mangrove adalah buktinya. Ini akan berdampak cukup besar bagi mata pencaharian 65% orang yang hidup di daerah pesisir yang bekerja sebagai nelayan.

Ketiga adalah peningkatan penelitian untuk perbaikan teknologi penangkapan ikan, pengolahan hasil tangkapan, teknologi kapal nelayan dan diversifikasi usaha bagi nelayan perlu dikembangkan, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Penelitian-penelitian tentang perubahan iklim juga perlu dilakukan untuk menambah pemahaman akan dampak lokal dari perubahan iklim.

Keempat adalah dorongan oleh pemerintah pada pihak bank dan asuransi untuk menjangkau dan membidik daerah nelayan, agar para nelayan dapat mengembangkan usaha mereka. Saat ini banyak bank enggan untuk memberikan pinjaman pada masyarakat nelayan dengan alasan kehidupan mereka yang boros, yang dikhawatirkan mengganggu proses pengembalian uang pinjaman. Sedang untuk perusahaan asuransi cenderung lebih banyak menekspansi di pabrik dan perkantoran, padahal nelayan adalah sebuah komunitas yang sangat memerlukannya, kerusakan kapal penangkap akibat badai dan cacat tubuh adalah hal yang sering menimpa para nelayan. Pemerintah harus berani berperan sebagai pihak penjamin bagi mereka.

Menyikapi perubahan iklim, semua pihak harus bertindak cepat untuk menyelamatkan pembangunan, baik itu pemerintah pusat, daerah, maupun masyarakat disemua lapisan memiki tanggung jawab yang sama besar. Kita harus mempersiapkan sejak dini baik untuk mitigasi maupun adaptasi sebelum semua terlambat. Meminjam kalimat dari Ban Ki-moon “Ilmu pengetahuan telah menunjukkan: Perubahan iklim sedang terjadi. Faktanya ada di sekitar kita. Kita akan melihat kenaikan muka air laut, badai, banjir, kekeringan, kelaparan, kemiskinan, dan punahnya beberapa spesies hewan dan tumbuhan. Kita harus bekerja sama, ini adalah tantangan moral generasi kita.”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Aku dan Kompasianival 2014 …

Seneng Utami | | 22 November 2014 | 02:18

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Seru! Beraksi bareng Komunitas di …

Kompasiana | | 19 November 2014 | 16:28


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 11 jam lalu

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 12 jam lalu

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 15 jam lalu

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemeran Film Dokumenter Act of Killing Haram …

Handy Fernandy | 9 jam lalu

Asyiknya Wisata di TRMS Serulingmas …

Banyumas Maya | 11 jam lalu

Ajang Kompasianival Melengkapi Pertemanan …

Thamrin Dahlan | 11 jam lalu

Generasi Sandwich …

Sitti Fathimah Herd... | 11 jam lalu

Eh, Susi Nongol Lagi! …

Mbah Mupeang | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: