Back to Kompasiana
Artikel

Limbah

Abimosaurus

Berbagi Tak Pernah Rugi

Cerita Sampah, Masalah, dan Solusinya Bagian 1

OPINI | 24 May 2010 | 08:08 Dibaca: 711   Komentar: 0   0

sampah

Sampah menjadi masalah di mana saja, di kota mana saja, di kota atau di desa, dan siapa saja. Sampah menurut saya adalah hal yang sewajarnya dan semestinya. Selalu ada sampah. Ibaratnya, orang makan. Tidak semua yang kita makan akan habis. Selalu ada sisa dan ada yang dibuang. B A B kita adalah sampah kita. Kentut (maaf) kita adalah sampah kita. Nafas kita adalah sampah kita. Keringat kita adalah sampah kita. Kalau kita mati, tubuh kita pun jadi ’sampah’. Binatang lain atau organisme lain juga memiliki perilaku yang mirip, selalu ‘buang sampah’. Bangakai binatang menjadi ’sampah’ juga. Mirip manusia. Kalau diperhatikan, mesin pun juga buang sampah. Motor dan mobil buang asap, itulah sampahnya. Pabrik juga buang sampah, tetapi kita menenyebutnya ‘limbah’. Intinya sama saja: sampah.


Link terkait: Mengelola Sampah Warga



Jadi, maksudku, sampah memang sudah menjadi ’sunnatullah’ alias ‘hukum alam’. Melekat seperti dua keping mata uang. Sampah di sisi lain dan kehidupan di sisi lainnya. Rasanya tidak mungkin kita menghindarinya. Karena kita tidak bisa menghindarinya,maka langkah terbaik adalah MENGHADAPINYA.

Lalu, kenapa sampah jadi masalah.

Dengan kalimat lain, aku pernah ditanya oleh seorang pengusaha: “Kenapa limbah jadi masalah”.

Dengan enteng aku menjawabnya:”Karena berkumpul jadi satu.”

Itu jawaban yang sekelebat tiba-tiba muncul dipikiranku. Kalau limbah tidak berkumpul bareng-bareng tidak akan jadi masalah. Demikian pula sampah. Kalau sampah tidak berkumpul jadi satu tidak akan jadi masalah. Kalau sampah tidak numpuk di tong-tong sampah, kalau sampah tidak numpuk di selokan-selokan, kalau sampah tidak numpuk di sungai-sungai, kalau sampah tidak numpuk pintu-pintu air, kalau sampah tidak numpuk di dam-dam, sampah tidak akan jadi masalah.

Jadi…masalahnya adalah karena sampah berkumpul jadi satu, dari sedikit lama-lama menjadi bukit. Mereka, para sampah itu, bersama-sama, berkumpul, saling gotong royong untuk membuat M A S A L A H.

Sederhana sekali….
Jangan keburu-buru mengambil kesimpulan.

Ini hanya ada di dalam imanjinasiku.

Masalah sampah adalah masalah yang sangat rumit. Ruwet buntet. Kalau ada yang bisa mengurai ‘benang ruwet’ ini, dia akan menjadi pahlawan.

Karena masalahnya sangat rumit, maka salah satu cara untuk mencari solusinya adalah dengan M E N Y E R D E R H A N A K A N masalah itu. Ketika masalah sudah menjadi lebih sederhana, maka jalan keluarnya pun jadi mudah terlihat.

Ok. Kembali ke masalah sampah. Kalau menurut jalan pikiranku tadi masalah sampah adalah karena sampah berkumpul dalam jumlah cukup besar di satu tempat. Solusinya sesederhana masalahnya, buat papan pengumuman besar-besar dan ditulisi SAMPAH DI LARANG BERKUMPUL. Taruh papan pengumuman ini di tempat-tempat yang biasa digunakan untuk berkumpul para sampah ini.

Mudah sekali, kan.

Kalau mereka masih bandel dan tetap berkumpul terus. Maka harus diambil tindakan tegas. Pake cara warisan kolonial: Devide et impera, yiaitu jurus Pecah Belah. Kalau perlu pangil SatPol PP, polisi, pasukan anti huru hara, atau Densus 88 untuk membubarkan mereka.

Jangan panggil DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan), karena jurus mereka berbeda. DKP pake jurus kumpul-kumpul. DKP paling suka menggumpulkan mereka di satu tempat yang mereka beri judul T P A : Tempat Pembuangan Akhir. Para sampah, dedengkot-dedengkotnya justru malah berkumpul jadi satu. Mereka menjadi semakin kuat untuk membuat masalah. Rasanya solusi T P A yang sudah berumur entah berapa abad itu, sama sekali belum menyelesaikan MASALAH SAMPAH. Berani taruhan, tunjukkan T P A mana yang sudah berhasil menyelesaikan masalah sampah.

Agar para sampah-sampah ini tidak sempat berkumpul, mereka harus dipisahkan sejak dari awal. Coba kita telusuri, mulai dari mana para sampah itu berkumpul. Ada yang tahu…????

Ya.. betul…. mulai dari tong sampah.

Ada di mana tong-tong sampah ini?

Tong sampah ada di rumah, di sudut-sudut kantor, di ruangan, dan di tempat-tempat umum lainnya. Oleh karena itu sampah mulai dipisahkan mualai dari tong sampah itu. Sampah mulai dicerai-beraikan ketika pertama kali mereka menjadi sampah. Yaitu ketika mulai dicampakkan dan sudah tidak berguna lagi. Sebagai misal begini. Ketika kita beli permen. Permen itu dibungkus dengan bungkus plastik. Plastik pembungkus jelas bukan sampah karena dia masih berguna untuk bungkus. Trus…ketika kita merobek plastik itu dan memakan permennya, sang plastik yang sudah terkoyak-koyak itu menjadi tak berguna lagi. Maka jadilah dia S A M P A H. Sampah plastik itu jangan dicampur adukkan dengan sampah-sampah yang lain. Artinya dia harus dikumpulkan dengan sejenisnya.

TO BE CONTINUED………NEVER ENDING STORY


Mengelola Sampah Warga


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Sebenarnya, Berapa Sih Jumlah Caleg Gagal di …

Politik 14 | | 23 April 2014 | 14:46

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotman Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 20 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 22 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 22 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 23 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 23 April 2014 07:15

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: