Back to Kompasiana
Artikel

Limbah

Marmutitam

pedagang - pegawai - pelajar

Dunia Tipu-tipu

OPINI | 27 July 2010 | 03:25 Dibaca: 112   Komentar: 2   0

dunia adalah wilayah tempat kebaikan dan keburukan bertemu, tempat dimana kebaikan bisa dibungkus dengan kejahatan atau banyak kejahatan dibungkus dengan kebaikan. didunia manusia bisa bebicara dengan wajah manis penuh puji dan sanjungan, tetapi hati kusam dan penuh maki. dunia hari-hari adalah dunia penuh warna, dunia dengan pergantian warna yang sering tidak bisa diikuti oleh keterbatasan mata manusia memandang.

dunia tempat berbagai macam manusia berkumpul melakukan dosa dan maksiat secara terang-terangan atau secara sembunyi, kumpulan manusia-manusia yang seenaknya mencaci manusia lain, seolah dia bukanlah seorang manusia yang suatu saat akan mendapat cacian yang sama.

setiap manusia mengoleksi ribuan topeng peradaban yang disimpan rapi dalam lemari kebohongan, dipakai sesuai sandiwara yang akan dilakonkan dipagi dan petang hari. memakai topeng moral di siang hari, tapi di kesunyian malam menikmati lekuk-lekuk erotis maksiat dengan wajah penuh birahi.

alah.. banyak manusia lebih senang menjadi hakim bagi orang lain , menjatuhkan hukuman bersalah, memenjarakan banyak manusia lain dalam kesombongan, mereka tidak tertarik untuk menjadi hakim untuk dirinya sendiri, karena sadar betapa berat dan nistanya menghukum diri sendiri, setidaknya itu menurut mereka sendiri.

ribuan rakyat yang mencari makan, meniduri tanah negeri ini setiap hari mencaci bangsa ini sebagai bangsa bedebah, mengolok-olok kebodohan rakyat negeri ini. mata mereka marah, wajahnya penuh kesumat ingin melumat negeri ini karena masih saja menjadi bangsa yang rendah, kemudian amarah yang sama dikeluarkan lagi oleh anak negeri lain karena kenyamanannya yang terusik, makanannya diambil, tempat tidurnya ditiduri. jadilah pertengkaran demi pertengkaran tak berujung tak bermakna.

carilah sejenak pojok sunyi tak bertuan, tinggalkan suasana gaduh yang dilakoni saban hari, pagi sampai petang, hentikan sejenak mengejar riba-riba harta yang juga tak pernah dibawa mati.

matikan dunia yang setiap hari berisi cerita-cerita yang sebenarnya tak pernah berganti, cuma soal judulnya saja yang beganti, akan tetapi isi dan makna nya sama saja. sejenak tinggalkan dunia ini, pergilah jauh ke tempat tak bertepi, yang ada didalam diri kita sendiri.

ga lah… dunia ini hanya tipu-tipu saja, esok sore juga akan berubah. toh setiap manusia punya ribuan topeng yang siap dipakai.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selayang Pandang Tentang Demonstrasi …

Fera Nuraini | | 01 October 2014 | 20:57

Siswa Korea Tertarik “Sambal” Indonesia …

Ony Jamhari | | 02 October 2014 | 09:39

Belajar Mandiri dari Pola Didik Orangtua di …

Weedy Koshino | | 02 October 2014 | 09:53

Obat Galau Jurusan Kuliah …

Bening Tirta Muhamm... | | 02 October 2014 | 09:54

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 2 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 3 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 8 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: