Back to Kompasiana
Artikel

Limbah

Sayyed Ep Sayyed Muh Ep

- the Good die young La Haula Wala Quwwata illa Billah

Islam dan Dry Cleaning

REP | 19 October 2010 | 05:05 Dibaca: 849   Komentar: 16   1

citerterkini.blohspot.com

pic dari : citerterkini.blogspot.com

Artikel ini disajikan khusus bagi kalangan menengah ke atas, mereka yang memiliki koleksi pakaian yang tidak mungkin dicuci dengan cara biasa. Solusi dari pengikut sekte Hanafiyyah terkait cara pensucian pakaian yang memiliki warning: Dry Cleaning Only.

Diantara rahmat Allah yang ekslusive diberikan kepada umat Muhammad adalah adanya solusi membersihkan benda-benda yang terkena najis tanpa harus membuangnya percuma. Benda-benda kesayangan yang mutanajjis –terkena najis- bisa suci melalui proses pencucian (dengan atau tanpa sabun cuci) sehingga benda tersebut boleh dipakai kembali. Bandingkan dengan umat nabi-nabi terdahulu, mereka harus rela membuang/memotong semua benda yang terkena najis, tentunya cara ini memberi kesan mubadzir dan berdampak pada banyaknya koleksi pakaian kita yang akan menjadi cacat, rusak dan sia-sia.

Teori pencucian benda yang terkena najis dalam fiqih Syafii harus melalui alat khusus yang terangkum dalam –Wasail taharoh– (alat-alat yang digunakan untuk bersesuci) berupa air, debu, batu dan samak. Dengan bantuan salah satu dari empat alat ini maka benda yang terkena najis akan kembali suci dan bisa dimanfaatkan seperti sebelum terkena noda, tentunya dengan syarat hilangnya rasa, bau dan warna najis tersebut. Sayangnya diantara alat-alat diatas tidak ada satupun yang menyinggung masalah benda yang tidak bisa dicuci dengan cara biasa, seperti metode pencucian melalui pengeringan atau uap yang banyak ditawarkan oleh para pemilik jasa loundry di kota-kota besar. Bukankah pakian mahal akan cepat rusak dan tidak layak pakai lagi jika terpaksa menggunakan mesin cuci biasa yang mengandalkan air untuk menghilangkan noda-noda najisnya?

Solusi mencui dengan cara pengeringan

Masalah dry cleaning ternyata telah dibahas tuntas oleh Madzhab Hanafi dalam kitab-kitab fiqihnya. Menurut madzhab ini, cara menghilangkan najis tidak hanya dibatasi dengan alat-alat yang telah dipaparkan oleh pengikut Syafii. Selama maksud dan tujuan dari pensucian benda tersebut telah dihasilkan maka benda itu dihukumi suci dan boleh dimanfaatkan kembali. Oleh karena itu, pensucian benda atau pakian dengan cara pengeringan baik melalui sinar matahari maupun lainnya sudah sangat mencukupi. Karena inti dan tujuan dari penyucian benda itu adalah menghilangkan rasa, bau dan warna najis yang menempel. Bukankah cara ini lebih simpel dan menjadikan pakaian kesayangan kita akan terasa semakin awet serta jauh dari kerusakan.

Jika anda telah memahami maksud dan tujuan artikel ini, maka jangan ragu-ragu lagi untuk membeli pakaian yang berbandrol selangit itu, karena sistem Dry Cleaning sudah memenuhi standar pensucian benda atau pakaian secara Syar’ie. Paling tidak ada Imam Hanafi yang akan mempertanggung jawabkan riset yang beliau tawarkan. Berterimaksihlah kepada Mujtahid-mujtahid terdahulu yang telah menjadikan hukum-hukum agama lebih membumi.

Thnks – Syarh Bulughul Maram. 2nd Floor of G-Unit Dorm.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 16 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 17 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Ngomong:”Mulutmu …

Wahyu Hidayanto | 7 jam lalu

MEA 2015; Bahaya Besar bagi Indonesia …

Choerunnisa Rumaria | 7 jam lalu

Bersenang-Senang dengan Buku …

Mauliah Mulkin | 7 jam lalu

Kematian Pengidap HIV/AIDS di Kota Depok …

Syaiful W. Harahap | 8 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: