Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Abimosaurus

Berbagi Tak Pernah Rugi

Belajar Meramu Pestisida Nabati untuk Pertanian Organik

HL | 05 August 2010 | 17:57 via Mobile Web Dibaca: 1052   Komentar: 3   1

aku dan pak haji zaka

Aku sedang asik mendengarkan penjelasan Pak Haji Zaka

Saya belajar membuat pestisida organik secara tidak sengaja. Awalnya hanya sekedar ingin tahu, sekarang mencoba untuk serius membuatnya. Kasihan petani yang sudah demikian dijajah oleh pestisida kimia.

Saya masih ingat beberapa tahun yang lalu. Duniaku hanya sebatas laboratorium dan laboratorium. Kadang-kadang diajak ke lapang untuk melihat ‘dunia nyata’. Sampai akhirnya, mungkin karena tidak ada yang mau, aku diminta untuk menjadi peneliti pendamping petani. Setelah melihat TOR dan juklaknya, aku jadi befikir ‘Bos’ku di kantor pasti salah milih orang. Jelas-jelas di TORnya ditulis peneliti senior, yang dikirim peneliti ‘bau kencur’. Tapi apa boleh buat, semua seperti sudah ditakdirkan. Mau tidak mau, suka tidak suka aku mesti belajar tentang pertanin.

Aku mendapatkan wilayah yang sebenarnya kurang layak di sebut pertanian, yaitu di Jakarta Utara, tepatnya di Rorotan. Ternyata di ibu kota metropolitan ini masih tersisa sedikit petak-petak sawah. Jadilah aku terjun sekalian di dunia pertanian ini.

Aku banyak belajar dari Pak Haji Zaka. Hampir tiap minggu aku main ke saungnya. Mendengarkan semua penjelasannya dan keterangan-keterangannya. Salah satunya tentang pestisida nabati ini. Pak Haji banyak menunjukkan padaku tanaman-tanaman yang bisa digunakan sebagai pestisida organik dan bagaimana cara membuatnya. Pak Haji juga banyak memberiku ceramah tentang bahaya pestisida kimia dan manfaat pestisida nabati. Keterangan Pak Haji itu aku tulis di posting berikut ini:

Buku Pupuk Organik Granul

Pengendalian Hama dan Penyakit dengan Pestisida Nabati

Setelah itu aku sering ke petani-petani, belajar langsung ke lapang. Mencoba mengamati petani dan permasalahannya. Tetunya ‘kacamata’ yang saya pakai adalah ‘kacamata’ saya sebagai seorang mikrobiolog. Apa yang bisa aku sumbangkan ke petani.

Aku melihat petani sudah sangat terjajah oleh pestisida kimia. Ngeri sekali kalau melihat petani menyemprot pestisida kimia. Lihat di posting ini.

Antara Petani dan Pestisida

Aku jadi lebih giat dan semangat untuk belajar tentang pestisida nabati. Aku coba searching di internet, beli buku-buku di Gramed, dan tanya-tanya langsung ke petani. Aku ketemu dengan orang-orang yang bergelut dengan pestisida kimia. Kebetulan beberapa temanku sedang mengambil S3 tentang pestisida nabati, jadi aku sedikit banyak ‘nyuri’ ilmunya.

biji bengkoang

Biji bengkoang untuk pestisida nabati

Sekarang aku mencoba lebih serius untuk pestisida nabati ini (meskipun aku juga sedang fokus di bidang lain). Aku belajar lebih banyak, tanya lebih banyak, membaca lebih banyak, dan mencoba lebih banyak. Jangan sampai petani kita dijajah oleh bahan-bahan berbahaya kiriman dari luar. Petani Indonesia bisa maju dengan bahan-bahan yang ada di sekitar mereka untuk mengalahkan hama dan penyakit tanaman. Insya Allah.

biji mindi

Biji mindi untuk pestisida nabati

Sebenarnya, menurutku secara pribadi, petani bisa membuat pestisida nabati sendiri. Repot sedikit tidak apa-apa. Rupanya petani kita agak sulit untuk itu. Maunya instant dan langsung jadi langsung pakai. Tidak mau pusing dan cenderung menggunakan segala sesuatu secara berlebihan. Masalah ini perlu dicarikan solusinya.

Saat ini aku sedang belajar, bagaimana membuat ekstrak pestisida nabati yang efisien untuk beberapa macam hama?

Bagaimana membuat pestisida nabati ini tahan disimpan dalam beberapa waktu, kalau bisa sampai 6 - 12 bulan.

Bagaimana memubat pestisida nabati dalam skala besar, kalau perlu skala industri, agar petani mudah mendapatkan pestisida ini?

Mengekstrak dan meramu pestisida nabati tidak terlalu sulit. Sudah banyak contohnya dan sudah banyak metode yang disarankan. Yang agak repot adalah untuk mencoba ke hama-nya langsung. Serangan hama kadang-kadang tidak merata dan ada di tempat-tempat yang cukup jauh dijangkau. Aku tidak sempat mencobanya secara langsung. Problem kedua adalah beberapa bahan tidak mudah didapat. Mencarinya harus di pinggir-pinggir hutan, itu saja jumlahnya terbatas. Problem ketiga adalah penyediaan dalam volume besar. Misalkan saja ada permintaan 100rb liter. Pusing juga mencari bahan-bahannya.

Tidak terasa sejak tiga tahun yang lalu aku sudah banyak menulis posting tentang pestisida nabati ini, silahkan dibaca, semoga bermanfaat.

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit dengan Pestisida Nabati
  2. Antara Petani dan Pestisida Kimia
  3. Daftar Tanaman untuk Pestisda Nabati

  4. Contoh Pembuatan Pestisida Nabati

  5. Ekstrak Pestisida Nabati

Buku membuat pupuk organik granul yang mungkin juga Anda perlukan:

[scribd id=16072937 key=key-97a9zisr04417oq75yc mode=list]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Terima Kasih Sunyi …

Syndi Nur Septian | | 25 July 2014 | 01:45

Rahasia Kecantikan Wanita Dayak Kalimantan …

Ayu Sintha | | 24 July 2014 | 20:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: