Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Herlambang Tunas Gaharu Magelang

Petani Gaharu dan Singkong Gajah (Merdeka) di Lereng Gunung Merapi, penggagas dan pendiri Paguyuban Tunas selengkapnya

Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera…

OPINI | 16 September 2010 | 12:58 Dibaca: 801   Komentar: 17   3

Banyak slogan, ajakan, himbauan bahkan perintah dan mandat untuk menjaga kelestarian lingkungan, hutan maupun alam. Siapa sih yang seharusnya menjaga lingkungan? Siapa sih yang semestinya menjadi aktivis-aktivis hijau? Jawaban yang selalu muncul ya ini tugas dan tanggung jawab kita bersama (masyarakat). Perlu ada pemahaman akan arti dan hasil yang didapat dari proses ini, selain hijau lestari ya sebaiknya ada sisi peningkatan ekonomi. Perlu ada sosialisasi dan pengenalan jenis-jenis tanaman yang berdaya guna ganda : konservasi hijau dan peningkatan ekonomi.

Gaharu adalah salah satu jenis tanaman yang mempunyai daya manfaat ganda, penghijauan dan peningkatan ekonomi. Tanaman gaharu dikenal dengan kandungan resin aromatiknya yang  merupakan produk hutan yang sangat spesifik. Resin ini tersimpan dalam kayu pohon penghasil gaharu akibat dari infeksi yang terjadi secara alami atau pun secara buatan pada pohon tersebut. Infeksi yang menyebabkan terjadinya damar gaharu itu menjadi pemicu terbentuknya sejenis getah padat dan lunak yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu. Kegunaan gaharu sudah dikenal cukup luas dan digunakan untuk berbagai keperluan seperti parfum, pewangi ruangan, sarana peribatan beberapa agama, obat herbal, dan sebagainya.

Penyebaran jenis tanaman ini  meliputi wilayah hutan alam di dataran rendah sampai dataran tinggi dengan daerah sebaran Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Papua serta beberapa daerah lain. Jenis-jenis tanaman penghasil gaharu yang tersebar pada hutan alam tersebut sudah semakin sulit ditemui karena pengambilan bagian pohon yang mengandung gaharu dilakukan dengan menebang pohonnya langsung, sehingga tanaman penghasil gaharu menjadi jenis yang dikelompokkan ke dalam jenis tanaman yang terancam punah.

Produk gaharu yang dihasilkan merupakan jenis komoditi ekspor yang mempunyai harga sangat tinggi. Dengan melakukan teknik budidaya yang tepat, satu batang pohon gaharu dengan umur tanam 8 - 10 tahun bisa menghasilkan setidaknya 37 juta rupiah. Mengingat potensi alam kayu penghasil gaharu sudah jauh menurun populasinya, maka tindakan budidaya tanaman penghasil gaharu menjadi alternatif untuk dapat menghasilkan produk hutan tersebut. Teknik-teknik budidaya sudah dikembangkan melalui penelitian yang dilakukan Departemen Kehutanan, bahkan upaya pembentukan damar gaharu yang beraroma melalui infeksi pun bisa dilakukan berbagai teknik.

Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 3 m x 3 m, sehingga dalam satu hektare lahan bisa ditanam 1100 pohon. Bibit gaharu bisa diperoleh dengan cara generatif dan vegetatif. Secara generatif dilakukan dengan menyemaikan biji dan mengambil anakan atau cabutan, sedangkan perbanyakan vegetatif dilakukan dengan stek cabang, stek tunas, cangkok cabang dan kultur jaringan.

Praktik budidaya tanaman  gaharu dapat dilakukan dengan melakukan tumpangsari pada areal tanaman dengan tanaman pertanian atau yang lebih dikenal dengan sistem agroforestry. Praktik tersebut menunjukkan bahwa sistem ini nantinya akan memberikan dampak ganda berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat di satu sisi dan kelestarian sumber daya hutan dan lahan di sisil ain. Penanamn gaharu juga dapat menekan laju erosi tanah sehingga juga cocok untuk menanggulangi lahan kritis. Peningkatan kesejahteraan dari budidaya gaharu ini juga akan mengurangi tekanan masyarakat terhadap hutan, sehingga hutan tetap lestari dan masyarakat sejahtera.

Gaharu ini hanyalah salah satu jenis tanaman yang mempunyai nilai ganda, konservasi dan peningkatan perokonomian/kesejahteraan masyarakat. Ada banyak jenis tanaman lain yang juga bisa ditanam dengan hasil ganda. Tanaman produksi perkebunan seperti pala, cengkeh, coklat dll bisa juga dijadikan pilihan dalam kegiatan penghijauan.

Dengan adanya nilai tambah secara ekonomi, dipastikan bahwa masyarakat tidak akan segan, enggan untuk terlibat secara aktive dalam proses “green” yang selama ini menjadi isu yang banyak digembar-gemborkan oleh banyak pihak.

Salam hijau lestari.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 11 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 18 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 19 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 19 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: