Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Petrik Matanasi

Peziarah & Pemerhati Sejarah Nusantara. Asal Balikpapan. Kuliah sejarah 7 tahun di UNY Jogja. Kini selengkapnya

Sungai yang Hilang

OPINI | 18 November 2010 | 13:26 Dibaca: 287   Komentar: 0   1

ADA hari dalam setahun yang membuatku rela berdiri dan menunggu di depan rumah kami yang kecil, di kaki bukit kecil. Masih dipinggir Sungai Mahakam. Di sebuah desa, bernama Loa Janan, yang kala itu masih sepi. Ditahun 1990.

Bersama Ibu dan tetangga, saya menanti naga besar lewati sungai di depan rumah kami. Ribuan orang memang menanti naga itu. Dermaga-dermaga kecil di tepi-tepi Mahakam biasanya ramai. Naga Erau, dari pesta rakyat Tenggarong, di hulu Mahakam. Naga Erau memang tiap tahun lewat Sungai Mahakam. Sungai penting bagi kerajaa Kutai purba. Naga Erau yang lewat itu satu hal unik yang saya tunggu tiap tahun. Entah karena besarnya, atau karena jarang saya lihat, namun saya suka menunggunya.

Itu satu kenangan bersama Mahakam. Hampir sepuluh tahun kami hidup dengan airnya disana. Mandi, minum dan lain sebagainya, dan tentunya sekedar numpang bermain-main dengan airnya yang tak pernah kering,menurut saya.

Sungai Mahakam salah satu sungai terpanjang di Kalimantan. Ribuan orang masih bergantung pada Mahakam. Bukan hanya Naga Erau saja yang melintas Mahakam. Kapal pengangkut batubara juga sering lewat. Melihatnya, saya seperti melihat gunung hitam berjalan diatas air. Ratusan kayu bulat juga kerap mengpung ditarik kapal menuju pabrik kayu lapis di tepi-tepi Mahakam. Entah darimana kayu itu, saya tidak tahu. Kala itu kayu masih banyak ditebang. Tidak seperti sekarang.

Meski tak pandai berenang, saya tidak pernah lepas dari sungai dimasa bocah. Lepas dari Mahakam, Sungai Bugis dan Sungai Salak—yang kalah jauh besarnya dengan Mahakam—adalah tempat bermain saya. Bermain di sungai memang berbahaya. Karenanya orang tua menciptakan banyak mitos agar anaknya tidak bermain di sungai. Tapi, bukan anak-anak namanya jika tidak bermain. Dan mitos yang diciptakan orang tua pun tak mempan.

Saya punya banyak kawan pergi ke sungai. Amin Afandi salah satunya.

Pernah suatu hari, setelah hujan deras kami bermain di sungai berdua. Meski arus deras tetap saja kami bermain. Tentunya dengan sangat berhati-hati. Meski pernah kehilangan sandal mahal, saya tidak pernah kapok bermain di sungai Bugis.

Sungai yang terakhir saya sebut itu, punya banyak cerita dengan saya. Sungai ini membelah sebagian daerah Balikpapan. Sungai Bugis yang membelah antara Balikpapan Baru dengan Kampung Timur adalah tempat main saya. Sejak kelas 4 SD saya mengenal sungai kecil itu. Ada banyak pohon karang munting disana. Juga ikan gabus. Bocah yang usianya lebih tua dari saya yang mengajak saya kesana. Kelas 6 SD, masih dengan bocah-bocah yang lebih tua dari saya juga, hutan dan bukit kecil itu kami jelajahi.

Terakhir menjelajahi sungai itu di kelas 3 SMA bersama kawan-kawan Remaja Pecinta Lingkungan (REPLI)—sebuah eksul yang entah bagaimana nasibnya sekarang. Karena mengenal daerah itu sejak kecil, saya biasa memandu kawan-kawan REPLI jelajah alam disitu. Mereka biasanya saya arahkan melewati rawa-rawa. Hingga pakaian bagus mereka penuh Lumpur. Menyenangkan juga.

Sekarang, Sungai Bugis sudah tinggal cerita. Tidak ada sisanya lagi. Mungkin, atas nama peradaban kaum yang mengaku modernis, Sungai itu hilang. Sebuah real estate mentereng berdiri tidak jauh dari situ. Sebuah kenyataan yang sulit saya terima. Kami adalah generasi terakhir yang menikmati sungai yang kini hilang itu. Setelah itu saya melihat banyak sungai penting dalam sejarah nusantara. Sungai Brantas, Bengawan Solo, Citarum dan lainnya. Sungai-sungai yang menemani peradaban manusia di nusantara.

Dari yang saya pelajari selama kuliah, sungai telah banyak membuat peradaban juga kerajaan hidup, bahkan berjaya. Ada Kutai bersama Mahakam, Majapahit bersama Brantas, Mataram bersama bengawan Solo, Sriwijaya bersama Sungai Musi-nya.

Manusia tidak bisa lepas dengan air. Tidak heran jika manusia banyak tinggal di tepi sungai. Termasuk juga manusia purba. Sungai pernah membuat manusia berkawan dengan alam. Dimana manusia hidup rukun dengan buaya juga. Sungai juga memberi kearifan lokal pada manusia. Dengan menjaga sungai, manusia ikut merawat bumi. Menjaga sungai berarti memperpanjang waktu bagi sungai menafkahi manusia dalam peradaban yang tanpa henti.

Apa jadinya jika makin banyak sungai yang hilang? Berganti dengan rumah mewah yang hanya dinikmati segelintir orang saja. Kemana air harus mengalir? Ke sawah petani yang memberi makan kita? Atau ke rumah-rumah kumuh kaum miskin? Apakah kita sedang mengkhianati alam yang memberi kita hidup dengan merusak sungai?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 6 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 7 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 8 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 10 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: