Artikel

Penghijauan

Detha Arya Tifada

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Environmental youth activist, jurnalism science in Social and political science institute jakarta.. see more about me in... http://dethazyo.blogspot.com/

World Water Day 2011 in Bunderan HI


HL | 23 March 2011 | 00:35 Dibaca: 222   Komentar: 38   16 dari 20 Kompasianer menilai aktual

1300845447679946199

Momentum hari air sedunia yang jatuh pada tanggal 22 maret 2011, sudah selayaknya menjadi renungan setiap manusia. Bayangkan saja data Bank Dunia tahun 2008 menunjukkan, sebanyak 50.000 anak Indonesia meninggal dunia karena masalah sanitasi air dalam setahun. Belum lagi masalah kekeringan akibat privatisasi yang menjamur hampir keseluruh pelosok negeri. Perlu diketahui pula, bahwa ada indikasi sektor sumber daya air khususnya air bersih dan sanitasi bukanlah prioritas dalam kebijakan pembangunan di Indonesia.

Berangkat dari itu pada kesempatan ini, puluhan masyarakat yang tergabung dalam LSM seperti WALHI( Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), Sahabat WALHI Jakarta, KruHa (Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air) beserta Mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Jakarta. Menunjukkan rasa perdulinya dengan melakukakan aksi di bunderan Hotel Indonesia siang tadi.

Kenapa hari air diperingati lewat aksi? Cara ini diyakini sebagai salah satu cara untuk mengingatkan dengan menyuarakan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga ketersediaan air agar tetap terjaga.

Saat ini, rakyat miskin dipaksa berjungkir balik dan mengemis untuk mendapatkan air, padahal hak rakyat atas air merupakan tanggung jawab Negara.

Pernyataan tersebut disampaikan Tubagus Ahmad, Maneger Penggalangan Sumber Daya WALHI Jakarta, saat unjuk rasa peringatan Hari Air Sedunia di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (22/3/2011).

13008148341370972272

Tubagus Ahmad (manager PSD WALHI Jakarta)

Ia juga menambahkan, Melihat realita yang ada di Indonesia, beberapa daerah sudah mulai merasakan dampak dari susahnya mendapatkan Hak atas air. meskipun hal tersebut sudah diatur dalam pasal 33 UUD 1945 yang secara jelas menjelaskan bahwa pemerintah memanfaatkan kekayaan alam termasuk air, tanah dan lain-lain digunakan sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat. Tapi faktanya UUD tersebut tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Bagai singa yang kehilangan taring.

Melalui aksi ini secuil harapan muncul agar masyarakat dapat menolak segala bentuk bentuk privatisasi air secara berlebihan. Jika masyarakat tidak menanggapi dengan serius masalah ini, bisa jadi air akan semakin sulit didapat. Apakah masyarakat mau mebeli air terus-menerus untuk kebutuhan sehari-hari? Tentu tidak. Oleh karena itu marilah kita lantangkan suara “air untuk rakyat bukan untuk diprivatisasi.”

13008149001323214606

sang demonstran

1300814964800709176130081499550793308913008150866285209971300815144428168702

130081520645546722

me in action

Sumber Foto: DOK Pribadi

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: