Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Emmy Gratiana

Saya suka membaca dan menulis (kadang-kadang), saya suka berteman dengan siapa saja.

Prospek Pengembangan Kayu Kejimas (Duabanga Mollucana)

REP | 19 May 2011 | 07:39 Dibaca: 1070   Komentar: 2   1

Tahukah anda dengan menanam pohon anda turut dalam usaha melestarikan lingkungan juga dari jenis - jenis pohon tertentu memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga sama dengan berinvestasi.  Saat ini di beberapa kabupaten di Bali dan Nusa Tenggara Barat  masyarakat sedang gencar menanam Kejimas (Duabanga mollucana).  Jenis tanaman ini adalah dari Famili Sonneratia, dengan nama lokal yang berbeda di Pulau Jawa dikenal dengan”Takir”, Madura “Taker”, “Rajumas” di Sumbawa, dan “Binuang Laki” di Kalimantan. Sangat cocok tumbuh pada ketinggian 300-1200 m dpl, dan membutuhkan cahaya untuk pertumbuhannya.   Secara fisik tinggi tanaman dapat mencapai hingga 25 - 45 m, diameter batang 70 - 100 cm, batangnya lurus dan bulat. Pemanfaatan kayunya digunakan sebagai kayu pertukangan, veneer kayu lapis dan pulp. Jenis ini saat ini sedang mendominasi hutan rakyat di Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan dan beberapa kecamatan di Kabupaten Jembrana. Mengapa jenis tanaman ini mulai mendominasi?  karena kebanyakan petani akan menanam jika  jenis tanaman yang ditanam mempunyai nilai ekonomis yang menjanjikan. Dan juga diketahui adanya serangan penyakit terhadap pohon Sengon ( Paraserianthes falcataria ) yaitu penyakit “karat puru”, menyebabkan petani beralih menanam jenis tanaman lain yang mempunyai prospek nilai ekonomis tinggi.  Seorang petani yang telah menikmati hasilnya menyampaikan dengan datu batang pohon kejimas dengan umur 7 tahun tinggi 10 m dan diameter 35-50 cm, dihargai Rp 700.000,-  bayangkan jika punya 1 ha lahan dengan pengkayaan pada hutan rakyat (jumlah tanaman maksimal 400 batang) dalam waktu 7 tahun akan menghasilkan ???? ya nilai yang fantastis.

Budidaya jenis tanaman ini susah - sudah gampang dan sebaliknya gampang-gampang susah,   karena benihnya yang sangat halus (dalam 1 gram benih kejimas dapat tumbuh    = 80 batang bibit kejimas), juga harga benihnya yang tinggi 1 kg benih dapat dihargai s/d Rp 2.000.000,- Tetapi  di tangan warga Kubakal - Karangasem sangatlah mudah oleh karena itu hampir setiap warganya memilih usaha tetap dan sampingan dengan membuat bibit jenis ini.  Harga anakan (bibit) kejimas berumur 3 - 6 bulan (yang sudah layak ditanam di lapangan) dijual dengan harga Rp 700 - 1000 per polybag/batang.  Warga Banjar (Dusun) Kubakal Desa Pempatan Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, hampir semua mengusahakan budidaya bibit ini, yang juga menjadi sumber penghasilan dari tempat inilah bibit kejimas beredar ke beberapa kabupaten di Bali.

Di Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Sumbawa, Dompu dan sebagian Bima merupakan tempat penyebaran asli dari jenis tanaman ini.  Daerah ini dengan kayu jenis ini pernah mendapat masa keemasan masa panen dari hutan alam Duabanga mollucana. Areal hutan ini pernah menjadi konsesi dari sebuah HPH dan mendapat nilai ekonomi yang tinggi.  Sekarang  masa keemasan itu telah lewat karena di hutan alam tegakan ini sudah habis, dan mulai dikembangkan pada areal hutan rakyat di beberapa kabupaten di Nusa Tenggara Barat.

Jadi bagi yang memiliki lahan kosong/ atau yang memiliki lahan sebagai tambahan jenis tanaman didalamnya  berinvestasilah dengan cara yang bijak, menanam pohon menyelamatkan lingkungan tetapi juuga mendapat nilai tambah dari penjualan kayunya.

Di Bali yang berminat untuk membeli bibit kejimas dapat menghubungi :

1. Bapak Wayan Sandi No.Hp : 087861529499

2. Bapak Wayan Suprapta No. Hp : 085237270630

3. Ibu kerti No. Hp : 081999427625

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 6 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 6 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 11 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: