Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Daniel H.t.

Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009

Tri Rismaharini, Walikota Perempuan Tanpa Kompromi, Meraih Prestasi Adipura 2011 untuk Surabaya

REP | 11 June 2011 | 11:01 Dibaca: 8121   Komentar: 20   8

13077556711871936366

Ibu Risma merayakan bersama warga Surabaya keberhasilan kota ini mendapat Adipura 2011 (www.surabaya.go.id)

Tri Rismaharini adalah Walikota perempuan pertama yang dimiliki kota Surabaya. Di tangan Risma-lah kota Surabaya berhasil meraih kembali penghargaan Adipura 2011 untuk kategori kota metropolitan. Setelah 5 tahun bertutut-turut tidak pernah memperolehnya.

Padahal kali ini mekanisme dan standar penilaian yang digunakan jauh lebih ketat dan tinggi. Para juri penilai akhir pun melibatkan kalangan eksternal Kementerian Lingkungan Hidup. Sebelumnya hanya berasal dari internal Kementerian Lingkungan Hidup. Para juri yang tergabung dalam Dewan Pertimbangan Adipura (DPA) sebagian besar berasal dari kalangan eksternal, yakni dari kalangan akademisi, mantan menteri, rektor, dan tokoh lingkungan hidup independen. Maka tingkat obyekfitas dan kredebilitasnya jauh lebih tinggi.

Prestasi Ibu Risma, demikian Ibu Walikota Surabaya ini biasa disapa, sebenarnya sudah dapat diduga sebelumnya. Karena dia adalah orang yang sejak masih di birokrat dikenal sangat memperhatikan kebersihan dan keindahan kota Surabaya.

Tekadnya tersebut mulai tersalur ketika dia menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya (2005-2008) dan Kepala Perencanaan Kota Surabaya (2008-2010). Banyak sudut kota Surabaya, seperti lahan-lahan kosong sampai dengan pulau-pulau jalan yang tak terpelihara dan gersang disulap menjadi taman-taman dengan bunga-bunga warna-warni yang asri.

Rasanya hampir setiap hari Ibu Risma ini mengelilingi kota Surabaya untuk melihat-lihat sudut kota mana yang bisa dia tanami dengan berbagai aneka tanaman dan bunga untuk mempercantik kota Surabaya menjadi hijau bersih. Sepertinya dia tak rela membiarkan ada lahan yang gersang di kota Surabaya.

Saking bersemangatnya, sampai-samapi dia sempat dijuluki pejabat yang “gila taman.”

Hasilnya, kota Surabaya yang sebelumnya dikenal sebagai kota yang garang dengan kegersangannya, panas terik menyengat kulit, dengan sampah di mana-mana, berhasil disulap menjadi kota yang penuh dengan taman nan asri. Membuat kota Surabaya menjadi selain bersih, hijau, dan asri, juga enak dipandang mata, sekalipun kita berada di tengah jalan raya dengan kepadatan lalu-lintas.

Taman-taman itu semuanya dengan telaten dan rutin dirawat sampai dengan sekarang.

Taman-taman itu pun bukan hanya sekadar taman-taman belaka, tetapi sedapat-dapatnya taman-taman itu dibuat sedemikian rupa agar dapat dimanfaatkan masyarakat, sebagai ruang sosial dan rekreasi. Sekaligus semakin menyadarkan warga Surabaya akan pentingnya kebersihan, penghijauan, dan keindahan sebuah kota.

Hasilnya bisa dilihat, banyak taman kota di Surabaya tidaklah “kesepian.” Di kala senja taman-taman itu pun mulai dikunjungi masyarakat. Semakin malam semakin ramai. Hebatnya lagi, itu semua tetap berlangsung dengan tidak membuat taman-taman itu rusak ataupun kotor.

Salah satu taman terbesar dan terkenal di kota Surabaya adalah Taman Bungkul. Dulu, lokasi yang terletak di tengah kota Surabaya ini, hanya namanya saja taman, tetapi fisiknya jauh dari wujud sebuah taman. Gersang berbatu-batu, dengan ditumbuhi beberapa pohon liar dengan daun-daunnya yang jarang-jarang. Sangat jarang dikunjungi orang.

Sekarang, Taman Bungkul telah berubah menjadi taman rekreasi yang asri. Dilengkapi dengan fasilitas skateboard dan BMX. Setiap malam ramai dikunjungi warga Surabaya untuk rekreasi di tengah keramaian kota. Tidak ketinggalan juga disediakan jalur khusus untuk para penyandang cacat. Bahkan kini dilengkapi dengan fasilitas internet nirkabel gratis!

1307762838528363511

Taman Apsari, merupakan satu kesatuan dengan kompleks perkantoran pemkot Surabaya (www.surabaya.go.id)

13077631471263905152

Taman Bungkul, taman rekreasi yang dilengkapi internet nirkabel

1307763936608390798

13077635392065249617

Taman Bungkul nan asri ini, pas di tengah kepadatan lalu-lintas Surabaya

1307764702921799006

http://liburan-santai.blogspot.com/2010/09/taman-bungkul-surabaya.html

13077637201895058334

Pulau-pulau jalan di Surabaya banyak yang seperti ini

13077637821742318512

Sejak Ibu Risma memerintah kota Surabaya, situs internet resmi milik pemerintah kota pun dibenahi, dengan dilengkapi dengan fitur-fitur yang komprhensif dan selaludiperbaharui. Di situs dengan alamat www.surabaya.go.id itu selain berita tentang kegiatan pemerintah kota, juga dilengkapi dengan informasi tentang tempat-tempat wisata di Surabaya, pelayanan publik yang mengfasilitasi keluhan warga Surabaya yang langsung mendapat respon dari pemerintah kota, pengurusan perizinan secara online, dan lain-lain.

Meskipun Ibu Risma berhasil membawa kota Surabaya meraih penghargaan Adipura 2011, masih ada beberapa kekurangan yang harus dibenahi sebagaimana diingatkan tim juri Adipura. Salah satunya yang terpenting adalah penataan reklame yang dinilai terlalu banyak dan semrawut penempatannya. Sehingga merusak pemandangan kota.

Tentang penataan reklame ini bukan tidak pernah menjadi perhatian Ibu Risma. Sebaliknya begitu perhatiannya Ibu Risma terhadap kondisi papan reklame, terutama yang berukuran besar, di Surabaya, sampai-sampai sempat membuat dia berseteru hebat dengan DPRD Surabaya.

Dipelopori antara lain oleh Wisnu Wardhana, yang adalah Ketua DPRD Surabaya sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Jawa Timur, Ibu Risma didesak untuk mencabut kembali Peraturan Walikota Surabaya Nomor 56 dan 57 Tahun 2010, yang mengatur tentang penataan dan tarif pajak reklame. Dalam peraturan itu ditetapkan untuk reklame ukuran besar (8 meter persegi ke atas) tarif pajak reklamenya dinaikkan mulai 100% sampai dengan 400%. Sedangkan reklame ukuran kecil, malah diturunkan sampai dengan 40%.

Alasan Ibu Walikota mengatur demikian adalah dalam rangka menata kembali reklame-reklame, terutama yang besar di kota Surabaya. “Supaya Surabaya tidak menjadi hutan reklame,” katanya waktu itu. Yang tentu saja merusak pemandangan kota. Selain itu, alasannya adalah keberadaan reklame-reklame berukuran besar/raksasa rawan membahayakan keselamatan masyarakat karena berisiko roboh (halmana beberapakali pernah terjadi).

Alasan itu tidak diterima sebagian anggota DPRD Surabaya. Entah ada apa dan alasan apa sebenarnya sebenarnya yang membuat mereka begitu marah dan bersemangat menentang peraturan baru walikota tersebut. Sampai-sampai dibentuk Pansus hak angket untuk mengadili Ibu Risma yang baru satu bulan lebih dilantik sebagai walikota Surabaya itu. Alasan mereka adalah peraturan tersebut akan mematikan perusahaan-perusahaan reklame di Surabaya.

Aneh sebenarnya kedengaran. Masa hanya demi kepentingan perusahan-perusahaan reklame itu, mereka begitu marah dan bersemangat menantang Walikota? Jangan-jangan alasan sebenarnya justru ada kepentingan mereka secara pribadi yang dirasakan bakal terancam?

13077647461408948972

Hutan reklame di Basuki Rachmat, yang perlu ditertibkan (matanews.com)

“Perang” Walikota Tri Rismaharini versus DPRD Surabaya mencapai klimaksnya di 31 Januari 2011, ketika rapat Pansus hak angket itu menghasilkan rekomendasi agar DPRD Surabaya memecat Tri Rismahartini sebagai walikota Surabaya!

Luar biasa! Luar biasa anehnya. Sebuah kebijakan pemerintah daerah bisa diadili oleh DPRD. Dan hanya gara-gara sebuah peraturan yang mengatur tentang reklame, seorang walikota mau dipecat.

Ancaman pemecatan itu tak membuat Ibu Risma gentar sedikitpun. Dia tetap pada pendiriannya untuk tidak mengubah, apalagi mencabut kembali Peraturan walikota Surabaya tentang penataan dan tarif pajak reklame itu.

Antiklimaks terjadi pada awal Februari 2011. Mereka di DPRD Surabaya, terutama Wisnu Wardhana dan beberapa koleganya, yang paling bersemangat mau memecat Ibu Risma sebagai walikota Surabaya, malah terkena sanksi dari parpolnya: Dipecat.

Ini namanya mau memecat, malah dipecat.

Wisnu Wardhana bersama tiga orang kader Partai Demokrat, dikenakan sanksi cukup berat karena dianggap melawan kebijakan partai. Wisnu dipecat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Jawa Timur. Bahkan terancam pula ditarik/dicopot dari kursi Ketua DPRD Surabaya.

Sikapnya pun berubah 180 derajat. Menjadi baikan dengan Ibu Risma. Semangat untuk memecat Ibu Risma pun seketika padam. Maka kursi Ketua DPRD Surabaya pun aman baginya.

Prestasi dan kepribadian yang teguh luar biasa dari Ibu Risma itu kini telah membuahkan hasil nyata, dengan bukti kota Surabaya berhasil meraih penghargaan Adipura 2011. Sementara kota Jakarta, baik Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur, tahun ini tidak kebagian satu pun penghargaan Adipura. Salah satu alasan utamanya sebagimana dikemukan tim juri adalah karena kelima wilayah kota itu gagal menjaga kebersihan kotanya, dengan tebaran sampah di banyak tempat.

Prestasi dan kepribadian Ibu Risma itu bukannya diakui oleh warga kota Surabaya sendiri, tetapi juga diakui secara nasional, dengan bukti penghargaan Adipura 2011 itu.

Ibu Risma juga sempat terpilih sebagai salah satu tokoh penting oleh BBC Indonesia, yang mewawancarainya pada tanggal 31 Januari 2011 lalu. Dalam rubrik “Tokoh,” BBC Indonesia menjulukinya sebagai “Wanita Tanpa Kompromi.”

Wawancara BBC Indonesia dengan Tri Rismaharini tersebut dapat didengar di sini.

Berkat ketegaran dan sikap tanpa kompromi inilah yang membuat kota Surabaya menjadi seperti sekarang ini. Terkenal dengan kebersihannya dengan taman-taman yang asri. Sampai-sampai pernah mendapat liputan khusus dari beberapa stasiun televisi, dengan himbauan kepada kota lain untuk tidak malu-malu menjadikan Surabaya sebagai kota percontohan.

Tentu saja semua ini tidak menghilangkan penghargaan kepada Kota Palembang, yang juga meraih angka tertinggi dari dewan juri Adipura bersama dengan Surabaya. Sama-sama mendapat nilai 73. Palembang hanya kalah selisih angka nol koma sekian dari Surabaya. Bahkan untuk kebersihan, Palembang masih lebih unggul dari Surabaya.

Mudah-mudahan tahun depan Surabaya kembali berhasil meraih Adipuradengan hasil yang lebih sempurna. Terutama setelah salah satu kekurangannya berhasil dibenahi, yakni penatan reklame-reklame yang selama ini memang sangat mengotori pemandangan kota Surabaya.

Bukan hanya sampah saja yang dapat mengotori sebuah kota, tetapi juga penataan reklame yang amburadul, terutama yang berukuran besar/raksasa.  Sudah merupakan rahasia umum bahwa bisnis reklame di kota-kota besar seperti di Surabaya tidak lepas dari cekraman para mafia yang melakukan  transaksi jual-beli lahan strategis, dan membuat bagaimana sampai sebuah lokasi yang sebenarnya tidak boleh dijadikan lokasi reklame, bisa terpasang iklan raksasa di sana. Inilah tugas berat seorang Ibu Risma. Namun dengan dukungan penuh warga Surabaya, saya yakin hal ini dapat diatasi bersama. Dan, tanda-tanda positif itu sudah mulai ada, dengan mulai terbenahinya penataan papan-papan reklame besar/raksasa di Surabaya kini. ***

Sumber:

- www.surabaya.go.id

- BBC Indonesia

- Jawa Pos

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Miss Sarah Ballard, Guru Inggris Madrasah …

Eddy Roesdiono | | 18 September 2014 | 12:24

Marshanda: Tamparan Hukum untuk Psikiater …

Akhmad Mukhlis | | 18 September 2014 | 11:32

Terjebak di Fort Santiago Sambil Menikmati …

Dhanang Dhave | | 18 September 2014 | 09:00

Sindrom Anak Tengah …

Syahdan Adhyasta | | 18 September 2014 | 12:09

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14



HIGHLIGHT

[Fiction Fantasy] Reptilians! …

Mio | 8 jam lalu

‘Sightseeing’ Kota Brussels, …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | 8 jam lalu

Perayaan 14 Tahun Messi Bersama Barcelona …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Dream Catcher; Sudah Bukan Fashion Item yang …

Alfadea Winasis | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: