Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Toto Pardamean

Lahir di Tanjung Balai (Asahan)Sumatra Utara.Senang Menulis dan Membaca.Pemerhati Masalah Pendidikan dan Sosial.Mendambakan Pendidikan yang selengkapnya

MENJEMPUT KADER LINGKUNGAN DI SEKOLAH FORMAL

OPINI | 19 September 2011 | 03:45 Dibaca: 194   Komentar: 0   0

Pendahuluan

Issue Penyelamatan Lingkungan tampaknya terus dikumandangkan oleh berbagai kalangan. Fenomena Alam yang mulai memperlihatkan amarahnya tampaknya mulai menimbulkan rasa cemas teramat besar dikalangan manusia. Dalam rentang waktu yang semakin kritis diperlukan langkah-langkah praktis untuk memulai revolusi hijau yang dianggap sebagai jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bumi. Berbagai organisasi baik pemerintah maupun nonpemerintah bergerak dalam bentuknya masing-masing namun sangat sedikit yang menyentuh secara langsung kepada anak-anak muda yang tengah menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah-sekolah, padahal mereka adalah pewaris bumi ini dan merekalah yang paling rentan menjadi korban dari kerusakan alam tersebut.

Anak Muda sebagai Kekuatan

Anak muda sebagaimana karakternya adalah kaum lepas yang sukar untuk ditaklukkan jika ia sudah merasa jalan yang ia pilih adalah jalan yang mampu memenuhi kebutuhannya. Ia akan siap melakukan apa saja sebagai bentuk pertahanan diri dari tindakan yang ia anggap mengancam keasyikannya dengan dunia yang ia pilih.Sayangnya tidak sedikit komunitas anak muda tersebut justru memilih jalan yang salah yang tanpa disadari sebenarnya mereka terjebak kedalam simpul masalah yang akan menghancurkan masa depan mereka.

Yang mampu memobilisasi anak muda akan berpeluang menguasai dunia. Pertanyaannya adalah siapakah yang mampu merangkul anak-anak muda itu ?

Banyak bukti otentik yang bisa kita lihat betapa peran anak muda menjadi katalisator. Ada partai tertentu yang menjadi besar dan berperngaruh karena didukung sebagian besar anak muda. Ada organisasi lain yang disegani bahkan ditakuti karena dukungan anak muda. Bahkan para penjahat narkoba lebih tertarik untuk merekrut anak muda menjadi garda depannya untuk memperluas jaringan peredaran narkoba walaupun tidak semua pemakai narkoba adalah anak muda. Mengapa kita menjadi khawatir kala menyaksikan sedemikian besar jumlah anak muda yang terjebak dalam jaringan bandar narkoba (misalnya), karena kita menyadari semua yang kita bangun selama ini akan hancur dalam waktu relative singkat jika para garda bangsa itu digunakan oleh pihak yang tidak pernah mau pusing memikirkan akibat yang akan ditimbulkan penggunaan narkoba itu demi keuntungan yang sangat menjanjikan.

Kita tahu keberadaan mereka dalam lingkar kesesatan diawali oleh keberhasilan para gembong kesesatan itu memahami jiwa dan kebutuhan anakmuda itu, mereka rela mengorbankan waktu,tenaga,pikiran dan uang untuk melayani semua kebutuhan anak-anak muda itu seolah-olah mereka paling mengerti apa arti kasih sayang dan perhatian walaupun sebenarnya semua yang mereka lakukan adalah sebuah kamuflase/illusi yang diprogram sedemikian rupa sampai batas dan target tertentu. Bermula dari pemahaman terhadap karakter anak muda dan kesediaan untuk memberi perhatian dan pelayanan sepenuhnya dalam waktu dan target terbatas , maka semuanya menjadi oke, jadilah mereka kurir atau jaringan.. Itulah yang sering membuat kita menjadi gusar dan marah ketika melihat sejuta generasi muda kita yang tengah mengalami masa pancaroba hidup di Negara yang morat-marit dilepas dan diabaikan sehingga ada pihak yang cerdik memanfaatkan mereka dan situasi ini untuk kepentingan diri atau kelompoknya tanpa mau perduli apapun akibatnya bagi anak-anak muda itu.

Kita harus merangkul kembali Anak Muda itu.

Yang hendak saya fokuskan dalam diskusi ini adalah, semua kita telah diberi bukti kebenaran atas peran anak muda yang sangat dahsyat itu namun kita tidak mampu merangkul mereka untuk sebuah aktivitas yang jauh lebih penting bahkan sangat menentukan nasib masa depan mereka.

Coba kita bayangkan seandainya para aktivis lingkungan (siapa saja) baik dari kalangan Pemerintah dan Nonpemerintah mampu melakukan recruitment semacam itu, siapa yang berani mencoba merusak lingkungan ini, siapa yang berani merusak hutan dsb.

Jika di sekolah-sekolah, para Bandar dan kurir narkoba mampu melihat peluang itu dan tanpa diminta mereka sudah berada disekitar pagar sekolah, setia menunggu berbagai kesempatan dan peluang untuk memanfaatkan posisi strategis para anak muda itu. Kitapun seharusnya memposisikan diri jauh lebih dekat dengan para anak muda tersebut.

Issue lingkungan adalah salah satu dari sekian banyak masalah kita, disekolah hal ini hanya tersentuh tatkala guru bidang studi Geografi memberi pelajaran (itupun kalau si Guru bersemangat untuk menghubungkan materi ajarnya dengan issue-issue penting yang tengah terjadi disekitar kita) hanya itulah mekanisme yang dilakukan untuk menopang kampanye hijau, sangat tidak efektif ditambah lagi anak-anak lebih cemas tak lulus matematika, bahasa Inggris, bahasa Indonesia di UN ketimbang jadi korban bencana alam seperti banjir, global warming sejenisnya.

Sebagai seorang pendidik, saya terus mengikuti gerakan-gerakan kampanye hijau, dan saya tahu betapa banyak dana yang dihabiskan untuk mengangkat issue itu walaupun sebagian besar dana itu habis di hotel-hotel mewah atau balai pertemuan mewah hanya untuk sebuah seminar dan konfrensi. Yang hadir para pakar, aktivis dan sejumlah pejabat. Penyelenggaraan semacam itu memang penting tetapi akan jauh lebih bermanfaat jika dilengkapi dengan aksi riil dengan mengembangkan issue-isue lingkungan tersebut sebagai kegiatan pembelajaran aplikatif di sekolah-sekolah.. Sebagai seorang guru di sekolah pinggiran desa, dengan segala keterbatasan terkadang berpikir mengapa kita tidak memulai memfokuskan pemikiran dan tindakan kita dalam mengkader para siswa-siswi sekolah itu sebagai garda terdepan dalam penyelamatan lingkungan. Menjadikan mereka sebagai kader lingkungan akan efektif mengingat kontrak usia mereka lebih panjang (secara logika), mereka adalah korban keserakahan generasi sebelum mereka, semangat juangnya lebih kental, pemikirannya masih murni/ideal.

Di Sumatera Utara saja entah berapa organisasi yang berbasis gerakan advokasi lingkungan dan kemasyarakatan ada, tetapi hanya satu-satu (mungkinpun tidak ada) yang tertarik untuk terjun kesekolah-sekolah memberikan pendidikan dan pelatihan untuk hal-hal positif semacam ini. Mereka hanya berbicara sendiri, berargumentasi antar sesamanya, berdemo ke DPR dan seterusnya selesai. Padahal seperti yang saya utarakan diatas, para siswa-siswi itu adalah potensi yang sangat besar yang dapat dirangkul dan dikader untuk gerakan-gerakan lingkungan (atau apalah namanya) yang memberi manfaat positif bagi kelangsungan hidup manusia.

Menjadi sangat penting tatkala guru-guru bidang studi yang berhubungan dengan persoalan itu (Geografi, terutama) dijadikan fasilitator aktif untuk melakukan kaderisasi lingkungan hidup kepada anak didik tersebut. Ilmu Geografi merupakan media strategis yang dinilai mampu mengedepankan issue lingkungan tersebut kepada anak didik, tinggal bagaimana kita mampu memformulasi kegiatan pembelajaran geografi tersebut menjadi sesuatu kegiatan yang menarik dan menantang, sehingga didalam pembelajaran geografi tersebut jiwa mereka terpanggil untuk mulai bertindak secara bertahap menjaga lingkungan hidup.

Merubah Model Pendekatan

Kita harus mulai merevolusi metode/pendekatan yang salama ini teramat konvensional dalam mengedepankan issue-issue lingkungan. Model ceramah dan diskusi perlu dikombain dengan keterlibatan emosional yang cerdas berupa pemberdayaan potensi yang dimiliki masing-masing individu para siswa-siswi itu. Kegiatan aksi perlu diprogram dalam bentuk keberlanjutan sehingga tidak bersifat incidental atau sementara atau kasuistik. Program yang disusun harus dapat menembus soal keuntungan riil dalam pengelolaan lingkungan.

Daur ulang sebagai salah satu metode/pendekatan pendidikan lingkungan sangat baik untuk terus dikembangkan dalam arti mampu menjadi lapangan kerja yang produktif. Kegiatan daur ulang perlu diorganisir sedemikan rupa menjadi kegiatan yang menarik,menantang, menjanjikan secara ekonomis dan bisa memacu daya kreasi/imaginative peserta. Sekolah-sekolahpun perlu mempersiapkan fasilitas yang diperlukan untuk itu (tentunya menjadi bagian dari perencanaan pembangunan pendidikan oleh pemerintah).

Dan yang lebih penting lagi kegiatan-kegiatan ini harus mendapat apresiasi penuh dari pemerintah.

Kegiatan dengan dimensi pendidikan dan pelatihan kemahiran yang mungkin saja menjadi salah satu yang dapat membantu masalah pengangguan

Masih banyak sampah sebagai bahan baku yang belum terkelola dengan maksimal. Mungkin kegiatan lainnya masih banyak yang dapat dilakukan, misalnya kita perlu mewacanakan untuk kemudian dilaksanakan tentang pemberian semacam sertifikat hak penanam bagi setiap anak yang ikut teribat di dalam kegiatan penghijauan atau penanaman pohon didaerahnya masing-masing. Sertifikat itu berguna bagi anak untuk mendapatkan semacam royalty apabila satu saat pohon yang ia tanam itu sudah waktunya untuk dimanfaatkan secara komersial, atau paling tidak bisa dijadikan semacam tabungan pendidikan mereka selanjutnya. Artinya ini dapat dijadikan sebagai rangsangan sekaligus menciptakan system pengawasan kolektif terhadap kelangsungan hidup pohon-pohon tersebut. Bagaimanapun juga selama ini ada indikasi bahwa rakyat (pemuda) yang turut dalam kegiatan penghijauan itu tidak memiliki akses apapun terhadap wilayah yang ia hijaukan, paling hanya janji normative saja, sementara pada saatnya tiba pohon yang ia tanam justru dimanfaatkan oleh pihak lain dengan dalih milik Negara. Bayangkan saja seandainya pohon yang ditanam itu sejenis kayu Meranti atau Damar. Ya semestinya jenis pohon yang ditanam itu juga harus memiliki nilai ekonomis juga, yang perlu diawasi adalah waktu pemanfaatannya harus tepat, tepat dalam arti sudah cukup usianya, sudah ada penggantinya yang perbedaan usianya wajar. Demikian selanjutnya sampai kepada anak-anak muda itu bahkan masyarakat diberi pengetahuan dan keterampilan soal pembibitan berbagai jenis pohon dan tumbuhan agar selanjutnya kegiatan ini berkembang dan jika perlu harus berproyeksi pada penguasaan dari hulu ke hilir.

Penutup

Program pendidikan lingkungan harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. Program ini tidak boleh hanya bernuansa proyek. Dan dimulai sejak dini dengan mengkader siswa-siswi di sekolah-sekolah kita. Kegiatan Lingkungan harus bisa memberi nilai tambah ekonomis masyarakat. Siswa-siswi yang dijadikan sebagai kader lingkungan itu harus bisa memiliki akses yang jelas dari pohon yang ia tanam sehingga prinsip kebergunaan akan menumbuhkan kesadaran yang kuat dalam diri mereka untuk melindungi alam raya kita ini. Masih banyak bentuk kegiatan/program yang dapat diciptakan yang dapat menarik semua orang terutama para generasi muda kita yang memiliki potensi besar itu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 9 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 12 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 16 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 17 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: