Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Sulis Diah

Communication, conservationist and nature lover

Mbah Suko, Simbol Kedaulatan Petani Desa

REP | 03 October 2011 | 08:10 Dibaca: 769   Komentar: 1   0

Hari itu, mendung  mengelayut di langit. Entah mendung bertanda akan hujan atau matahari tertutup debu-debu bekas mutahan Gunung Merapi. Memang, saat itu kami berniat menjambangi Mbah Suko (70), Petani di Dusun Kenteng, Desa Mangunsari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang juga pemenang KEHATI award 2001. Mbah Sukopun dengan senang hati menerima kami ditengah-tengah ruang tamunya yang penuh beras, padi dan timbangan. Maklum saja, Mbah Suko ini adalah penjual beras organik jenis mentik wangi yang termasuk varietas lokal. selain itu, Mbah Suko adalah sesepuh bagi kelompok tani di desa tersebut yang mempelopori sistem pertanian organik sejak tahun 1985 hingga saat ini, jadi nama Mbah Suko sudah terkenal dikalangan petani dan juga restoran-restoran di Jogya yang kerap menggunakan berasnya.

Di Cap Sebagai Pendukung Organisasi Terlarang

Mbah Suko awalnya dicibir dan dikucilkan bahkan dicap sebagai pengikut G30SPKI karena menolah program pemerintah yang memaksa petani menanam jenis varietas unggul tahan wereng, merupakan program revolusi hijau pemerintah yang berupaya menyeragamkan varietas padi. Kemudian tragedi gagal panen pun melanda, tanaman padi yang ditanam sesuai anjurang pemerintah gagal panen, dan terserang hama tikus dll. Petani yang sudah mengeluarkan banyak modal untuk pupuk  dan pestisida pun terpuruk, bangkrut kehabisan modal sementara pemerintah tidak mau menanggung habisnya modal untuk menanam padi yang dianjurkan pemerintah.

Lantas Mbah Suko pun segera ambil inisiatif untuk menggali bibit lokal, tanpa bergantung pada pemerintah, dan tidak mau menggunakan pupuk kimia, memilih pupuk organik atau kotoran ternak. Padinya juga tak pernah disemprot dengan pestisida. Dia mengembangkan predator alami yang dibiakkan di laboratorium mini di belakang rumahnya. Benih padi lokal Mbah Suko tahan hama dan hasil panen pun lumayan. Harga jual lebih tinggi dibandingkan dengan harga beras di pasaran. Hal yang lebih penting, Mbah Suko merasa merdeka karena tidak bergantung pada pihak luar untuk memproduksi padi.

Untuk menambah hasil produksi, Mbah Suko memelihara ikan di sela tanaman padinya dengan sistem minatani. Karena menolak bibit dan pestisida pemerintahMbah Suko waktu itu dinilai sebagai rongrongan terhadap pemerintah. Mbah Suko dituding menentang Repelita. Namanya masuk daftar hitam dan diawasi secara ketat oleh aparat keamanan yang disusupkan di pemerintahan desa. Kartu tanda penduduk (KTP) Mbah Suko diberi cap anggota OT (Organisasi Terlarang). Mbah Suko pun tak bisa ikut Pemilu 1977. Intimidasi juga tak pernah sepi. Tetapi Mbah Suko menghadapinya dengan kecerdikan. Seperti ketika ia diteror PPL pada era program INSUS/SUPRA INSUS, yang menuding sawah Mbah Suko menjadi sumber hama dan penyakit sehingga harus disemprot pestisida. Mbah Suko pun berargumen, ”Apakah berani bertanggung jawab kalau ikan-ikan saya mati?”.

Untuk mempertahankan kedaulatannya, tak segan Mbah Suko ikut berdemo, seperti berada di baris depan dalam aksi demo petani tahun 1997 di Magelang, guna mempertahankan pasokan air irigasi dari mata air Dusun Ngudal dan Semaren yang hendak diambil paksa PDAM setempat.

Setelah kejatuhan rezim Orde Baru, upaya bertani organik dengan benih lokal yang dirintis Mbah Suko mulai dilirik petani-petani lain. Mbah Suko makin giat mengumpulkan benih-benih padi lokal.

apalagi setelah menang KEHATI award tahun 2001, Mbah Suko banyak diundang ke seluruh Indonesia untuk membagikan pengalaman bertani organik. Sedikitnya 35 jenis padi lokal yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia telah dia kumpulkan, misalnya rojo lele, ketan kuthuk, kenongo, rening, menthik wangi, menthik susu, gethok, leri, papah aren, berlian, tri pandung sari, dan si buyung.

hingga saat ini, rumahnya pun tak sepi dari siapa saja yang ingin belajar bertani organik, dengan bangganya mbah Suko memunjukan hasil desertasi salah satu mahasiswa luar negeri yang meneliti dirinya. “Siapa saja boleh belajar disini” ucapnya.

Semangat Mbah Suko, harusnya menjadi tauladan pemerintah Indonesia yang terus mengimpor beras asing, dengan alasan puso, ketersediaan pangan akibat kekeringan atau upaya mengisi pundi-pundi kantong tertentu?













Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 6 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 7 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 10 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Usia 30 Batas Terbaik Untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 7 jam lalu

Sepenggal Cerita dari Takabonerate Islands …

Hakim Makassar | 7 jam lalu

Demokrat Dukung Pilkadasung, PKS Kebakaran …

Revaputra Sugito | 7 jam lalu

4,6 Juta Balita Gizi Buruk-Kurang di …

Didik Budijanto | 7 jam lalu

‘Belgian Waffles’, Menggoyang …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: