Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Syaiful Rohman

SEMANGAT, KESABARAN dan KEIKHLASAN, 3 (tiga) istilah yang membuat kita tetap BERKARYA di dalam kehidupan. selengkapnya

Madura, Tanaman, dan Papan Nama Ilmiah (Latin)

HL | 29 October 2011 | 14:33 Dibaca: 2012   Komentar: 6   1

Jika kita mau membandingkan pulau Madura pada awal tahun 1980-an dengan tahun 2000-an keadaannya jelas jauh berbeda. Pada awal tahun 1980-an, keadaan pulau Madura sangat gersang, panas dan jarang sekali ada tanaman penghijauan yang tumbuh di 4 (empat) kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep). Namun pada masa sekarang ini (baca: tahun 2000-an) banyak sekali jenis, jumlah dan macam tanaman penghijauan serta tanaman hias yang tumbuh, baik itu tanaman lokal asli Madura maupun tanaman yang sengaja di impor atau didatangkan dari daerah lain yang ada di Indonesia, sehingga pulau Madura kembali menjadi hijau, sejuk dan segar kembali.

Kondisi di atas mengingatkan penulis kembali pada saat awal menempuh kuliah di jurusan pendidian biologi FPMIPA IKIP MALANG (sekarang : Universitas Negeri Malang) tahun 1990-an, teman kuliah yang kebetulan juga berasal dari Madura tapi lain jurusan pernah bertanya” mohon maaf sebelumnya, kenapa kamu kok mengambil jurusan biologi?, di Madura khan jarang terdapat tanaman (baca: keanekaragaman tanaman sedikit), “Bagaimana kalau sudah lulus kuliah dan kemudian mengajar di sekolah yang ada di Madura, bisa nggak dipraktekkan ilmunya, terutama tentang ilmu tanaman (botani)?. Mendengar pertanyaan teman kuliah tadi, penulis berpikir sejenak dan kemudian menjawab”kita lihat saja nanti”.

Saat ini, jika kita pernah mengunjungi beberapa sekolah yang ada di 4 (empat) kabupaten di Madura, kita pasti akan menjumpai berbagai macam tanaman penghijauan dan tanaman hias yang tumbuh di dalam lingkungan sekolah. Secara sengaja maupun tidak sengaja, kalau kita bertanya kepada peserta didik tentang nama umum, nama ilmiah (latin) dan nama lokal tanaman yang ada di sekolah tersebut, penulis yakin bahwa sebagian besar peserta didik akan menjawab belum tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali nama umum, nama ilmiah (latin) dan nama lokal tanaman tersebut. Hal ini bisa terjadi karena pada berbagai jenis tanaman itu tidak tersedia papan nama yang berisi nama umum, nama ilmiah (latin) dan nama lokal tanaman. Sangat disayangkan sekali, padahal papan nama yang berisi nama umum, nama ilmiah (latin) dan nama lokal tanaman penghijauan dan tanaman hias itu bisa digunakan sebagai salah satu media pembelajaran dan sumber bahan belajar bagi peserta didik di sekolah.

Fakta di atas juga terjadi pada sejumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH), yaitu taman kota, hutan kota, dan tanaman di sepanjang jalan raya (jalur hijau) yang terdapat di berbagai kawasan 4 (empat) kabupaten di wilayah Madura. Banyak sekali tanaman penghijauan dan tanaman hias yang tumbuh di Ruang Terbuka Hijau tersebut, namun jarang atau sedikit sekali yang tersedia papan nama yang berisi nama umum, nama ilmiah (latin) dan nama lokal tanaman itu. Padahal tanaman yang tumbuh itu sebagian besar di impor atau didatangkan dari daerah lain yang ada di Indonesia oleh Pemerintah Kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep). Menurut penulis, banyak masyarakat Madura yang hanya mengenal bentuk luar (morfologi) tanamannya saja, dan jarang yang mengenal atau tahu secara benar dan rinci tentang nama umum, nama ilmiah (latin) dan nama lokal dari masing-masing tanaman tersebut.

Berdasarkan pengamatan penulis, di antara sekian banyak Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada di pulau Madura, kawasan monumen Trunojoyo di kabupaten Sampang adalah salah satu kawasan yang pernah memberikan identitas atau papan nama yang berisi nama umum, nama ilmiah (latin) dan nama lokal pada beberapa jenis tanaman yang tumbuh di kawasan tersebut. Oleh karena itu, kawasan ini bisa digunakan sebagai salah satu sumber bahan belajar bagi peserta didik dan guru tentang materi ilmu tanaman (botani) dan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Untuk mendukung hal ini, penulis pernah memberi Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur (KMTT) kepada peserta didik untuk melakukan inventarisasi dan identifikasi tanaman penghijauan dan tanaman hias yang ada di kawasan monumen Trunojoyo, tujuannya adalah (1) mengenal beberapa jenis tanaman yang tumbuh di kawasan itu, (2) pengelompokan (taksonomi) tumbuhan, (3) penanaman cinta lingkungan hidup pada peserta didik sejak dini, dan (4) bagaimana cara merawat dan melestarikan tanaman itu. Namun sayang sekali, seiring dengan berjalannya waktu dan keadaan, papan nama yang berisi nama umum, nama ilmiah (latin) dan nama lokal pada beberapa jenis tanaman yang tumbuh di kawasan tersebut hilang tanpa bekas.

1319862692402342189

Kawasan Monumen Trunojoyo - Sampang

Oleh karena itu, penulis mengharapkan kepada pemangku kepentingan (stake holders) yang ada di masing-masing Pemerintah Kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) untuk memprogramkan (kembali) pembuatan papan nama berbagai jenis (species) tanaman yang terdapat di berbagai kawasan, baik itu di lingkungan sekolah, taman kota, hutan kota maupun tanaman yang ada di sepanjang jalan (jalur hijau). Caranya? berbagai jenis tanaman yang terdapat di kawasan itu diberikan papan kecil yang berisikan nama umum (bahasa Indonesia dan Inggris), nama ilmiah (latin), dan nama lokal tanaman itu. Tentunya akan lebih baik jika dilengkapi dengan deskripsi singkat tentang asal-usul tanaman, daerah persebaran, manfaat dan data yang lain tentang tanaman tersebut. Misalnya, pohon Trembesi. Di bawahnya diberikan papan kecil dengan tulisan “Trembesi”. Nama Ilmiah: Samanea saman (Jacq.) Merr, Sinonim: Albizia saman (Jacq.) Merr. Nama Lokal: Ki Hujan (Sunda), Kajuh Ojan (Madura), Meh, Punggur, Munggur (Jawa), Kayu Ambon (Melayu). Deskripsi singkat: Diperkirakan berasal dari Peru, Brazil, atau Meksiko. Merupakan tanaman yang mempunyai kemampuan menyerap CO2 (karbon dioksida) sangat tinggi, sehingga cocok sebagai pohon penghijauan.

Di antara berbagai jenis tanaman penghijauan dan tanaman hias yang tumbuh di pulau Madura (khususnya Kabupaten Sampang), ada satu tanaman yang perlu mendapat “perhatian khusus”, yaitu pohon Bintaro (Cerbera manghas). Tanaman ini pada awalnya merupakan salah satu bagian dari ekosistem hutan mangrove, sehingga sering digunakan untuk tanaman penghijauan karena tingginya bisa mencapai 12 meter, memiliki akar yang kuat, pelindung bagi tanah dalam menghindari abrasi dan hilangnya unsur hara, tanaman yang kuat dalam bertahan hidup, aspek tumbuhnya cepat dan bisa bertahan di media seperti apapun.

Menurut Wikipedia (2011) bahwa Bintaro (Cerbera manghas) adalah tumbuhan pantai berupa pohon dengan ketinggian dapat mencapai 12 meter. Dikenal di Pasifik dengan nama leva (Samoa), toto (Tonga), serta vasa (Fiji). Daunnya berbentuk bulat telur, berwarna hijau tua, yang tersusun berselingan. Bunganya harum dengan mahkota berdiameter 3-5 cm berbentuk terompet dengan pangkal merah muda. Benang sari berjumlah lima dan posisi bakal buah tinggi. Buah berbentuk telur, panjang 5-10 cm, dan berwarna merah cerah jika masak.

Penyebarannya secara alami di daerah tropis Indo Pasifik, dari Seychelles hingga Polinesia Perancis. Bintaro (Cerbera manghas) sering kali merupakan bagian dari ekosistem hutan mangrove. Di Indonesia, Bintaro sekarang digunakan sebagai tumbuhan penghijauan daerah pantai serta peneduh kota. Daun, bunga dan buahnya mengandung bahan yang mempengaruhi jantung, suatu glikosida yang disebut cerberin, yang sangat beracun. Getahnya sejak dulu dipakai sebagai racun panah atau tulup untuk berburu.

Pohon Bintaro di suatu sekolah

Berdasarkan hal di atas, penanaman pohon Bintaro sebagai tanaman penghijauan dan tanaman hias di berbagai kawasan (sekolah, daerah pemukiman penduduk, di median dan pinggir jalan) perlu untuk dipertimbangkan kembali, karena sebagian besar masyarakat umum dan peserta didik tidak mengetahui bahwa getah daun, bunga dan buah Bintaro itu beracun. Siapa yang bisa menjamin bahwa peserta didik, anak-anak, dan masyarakat umum secara tidak sengaja menemukan buah Bintaro yang banyak berserakan di bawah pohon. Kemudian secara iseng, mencoba-coba untuk menggigit atau sekedar mengupas buah Bintaro (karena buahnya mirip buah apel atau buah mangga)? Banyak kemungkinan bisa terjadi mengingat Bintaro akan merontokkan buahnya yang tua hingga berserakan dan mengundang orang dewasa, remaja dan anak-anak untuk memegangnya.

Menurut Profesor Aseng Ramlan (2009), salah satu staf pengajar Fakultas Biologi Universitas Pajajaran Bandung bahwa pohon Bintaro mengandung racun yang sangat berbahaya. Jika getah yang terkandung di dalamnya mengenai luka tubuh manusia dapat menyebabkan kelumpuhan. Sementara itu, menurut Rodiyati Adianingsih (2009), ahli Flora Universitas Brawijaya Malang menjelaskan bahwa dari segi fitokimia atau zat senyawa kimiawi yang terkandung dalam tumbuhan, semuanya memiliki sifat racun dan obat. Namun demikian, tidak semua tumbuhan beracun merugikan dan tidak semua tanaman obat memberikan manfaat. Termasuk pohon Bintaro, meskipun getah daun, bunga dan buahnya mengandung racun, tapi belum tentu berbahaya bagi manusia. Kalau memang disebut berbahaya, cukup dihindari saja.

Sebagai solusinya, penulis mengajukan 4 (tiga) pilihan yang bisa dilakukan oleh pemangku kepentingan (stake holders), yaitu: (1) melakukan penebangan pohon Bintaro dan menggantinya dengan jenis (species) tanaman yang lain, (2) merelokasi atau memindahkan pohon Bintaro ke tempat lain yang lebih aman, (3) melakukan sosialisasi secara benar dan tepat sasaran kepada masyarakat umum dan peserta didik di sekolah bahwa getah daun, bunga dan buah Bintaro itu beracun, dan (4) memberi papan nama yang berisi nama umum, nama ilmiah (latin) dan nama lokal serta deskripsi singkat pada pohon Bintaro tersebut.

Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini bisa membantu mencerahkan semua pemangku kepentingan (stake holders) dan masyarakat umum bahwa ada keterkaitan yang sangat signifikan antara Madura, tanaman dan papan nama ilmiah. Amin ….

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Usul Mengatasi Kemacetan dengan “Kiss …

Isk_harun | | 21 September 2014 | 17:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 6 jam lalu

Logika aneh PKS soal FPI dan Ahok …

Maijen Nurisitara | 11 jam lalu

Usai Sikat Malaysia, Kali ini Giliran Timor …

Achmad Suwefi | 15 jam lalu

Warga Menolak Mantan Napi Korupsi Menjadi …

Opa Jappy | 15 jam lalu

Warisan Dapat Jadi Berkah untuk …

Tjiptadinata Effend... | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: