Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Dhanang Dhave

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat selengkapnya

Belajar dari Edelweis tentang Keabadian, Ketulusan dan Pengorbanan

REP | 07 December 2011 | 02:05 Dibaca: 18293   Komentar: 25   7

Photobucket

Edelweis, sebuah tanaman eksotik dan endemik khas daerah alpina atau montana. Tanaman dari family Asteraceae tumbuh dan berkembang di daerah pegunungan dengan iklim yang dingin dan pada ketinggian diatas 2000mdpl. Hampir semua pegunungan ditumbuhi Edelweis. Beragam spesies muncul sehingga menciptakan keragaman yang menarik. Dari morfologi bunganya saja, terlihat ada Edleweis berwarna putih, ungu dan kuning, dan masih ada lagi mungkin di tempat lain. Anphalis Javanica, adalah Edelweis yang banyak di jumpai di pegunungan pulau Jawa.

Photobucket

Beragam istilah muncul untuk menyebut nama tanaman eksotis ini. Ada yang menyebut sebagai bunga keabadian, ketulusan dan perjuangan, dan masih banyak lagi intepretasi yang lain. Disebut bungan keabadian, karena bunganya yang terus awet dan berada dipuncak gunung sebagai simbol keabadian. Lambang ketulusan, karena Edelweis tumbuh di daerah yang khusus dan ekstrem, sehingga seolah menerima keadaan apa adanya tanpa menuntut kondisi yang mengenakan. Bunga ini juga mengandung arti sebagai lambang perjuangan, karena bunga ini tumbuh ditempat yang tandus, dingin, miskin unsur hara dan untuk mendapatkannya harus bersusah payah mendaki gunung.

Photobucket

Karena demikian hebatnya bungai ini, membuat mereka yang mengaku pecinta alam atau penggiat alam bebas berusaha mengabadikan bunga tersebut bahkan harus rela memindahkan habitatnya walau hanya setangkai bunganya saja. Di beberapa tempat wisata, Edelweis menjadi barang dagangan yang cukup menjanjikan karena banyak diburu mereka yang tak sanggup memetik di gunung. Saking laris manisnya, maka eksploitasi Edelweis dilakukan penduduk untuk di perdagangkan. Tidak berbeda jauh dengan tangan-tangan jahil penggiat alam bebas, walau tidak melakukan jual beli Edelweis, tetap saja mengambil tanpa memikirkan dampaknya. Memetik tanpa menanam, begitulah yang terjadi dan kenyataannya demikian. Entah sampai kapan prilaku tersebut akan berhenti, apakah menunggu kesadaran masing-masing pribadi atau setelah bunga keabadian tersebut habis dari habitatnya.

Mungkin bagi kita yang memiliki kesadaran akan arti penting Edelweis yang terancam oleh tangan-tangan jahil, tidak usah terlalu risau. Mungkin jika mata kita jeli, maka tanpa bersusah payah akan menemukan bunga keabadian tersebut. Tentu saja ada aturan main, dan menaati aturannya sebelum bertemu dengan bunga eksotik tersebut. Jangan berpikir, Edelweis hanya tumbuh pada stratifikasi vegetasi tertentu, yakni montana atau alpina yang terletak hampir di puncak gunung. Tetapi bunga ini, bisa di temui di tempat-tempat tertentu dan spesifik sesuai dengan habitat aslinya. Mari arahkan mata dan pandangan kita untuk sejenak bisa menikmati Anaphalis Javanica. Jangan mengambil atau merusak, cukup nikmati dan abadikan lewat gambar agar semua orang bisa menikmati.

Photobucket

Di Jalan Lingkar Salatiga, di sekitar kanan kiri bekas galian untuk jalan, banyak sekali di tumbuhi Edelweis. Edelweis merupakan tanaman perintis dalam suksesi lahan. Pada awalnya lahan yang di pangkas menjadi tebing-tebing yang curam, serta terlihat lapisan-lapisan tanahnya. Nampak tanah lapisan atas yang berwarna kecoklatan, lalu tanah liat “clay” kemudian tanah berpasir, berkerikil dan berbatu. Irisan tanah secara vertikal ini menyulitkan beragam tumbuhan untuk hidup, dan hanya tanaman pioner saja yang mampu tumbuh dan berkembang disana. Ibarat lahan tandus, makan beberapa tanaman perintis yang mampu tumbuh, seperti; paku-pakuan, lumut, rerumputan dan Edelweis adalah salah satunya.

Photobucket

Edelweis adalah tumbuhan perintis di tanah vulkanik yang tandus, bebatuan pegunungan dan lembah-lembah. Keistimewaan Edelweis adalah mampu hidup dalam media yang miskin unsur hara, karena tanaman ini bersimbiosis dengan mikoriza. Mikoriza adalah jamur yang berasda di perakaran yang bertugas menambat Nitrogen dan dekomposisi materi organik. Dari peran Mikoriza tersebut Edelweis mendapatlan nutrisi, sehingga mampu hidup ditanah tandus sekalipun. Lahan yang dipangkas vertikal menjadi habitat yang cocok untuk Edelweis, sehingga banyak ditemui di tebing-tebing curam disepanjang Jalan Lingkar Salatiga. Dengan perakaran yang kokoh dan mampu menembus celah-celah bebatuan memungkinkan Edelweis mampu hidup ditempat-tempat yang sudah dijangkau.

Photobucket

Menjadi pertanyaan sekarang adalah darimana asal Edelweis ini, apakah ada yang menanam atau tumbuh dengan sendirinya. Family Asteraceae memiliki karangan bungan, dan menghasilkan banyak sekali bunga generatf. Oleh angin, serbuk-serbuk bunga yang berisi bungan-bungan generatif di terbangkan dan disaat mendapat media yang tepat akan tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan Edelweis tergolong cepat, walau hanya memiliki tinggi 1 meter, akan menghasilkan bunga-bunga generatif yang melimpah. Di daerah yang sama sekali tidak terusik, seperti pegunungan Edelweis mampu tumbuh hingga 8m dan dengan batang yang kokoh.

Dari kajian ekologis, Edelweis memiliki peran sebagai pioner dalam revegetasi dan suksesi. Menjadi tanaman pertama yang tumbuh dan menghasilkan unsur-unsur hara sebagai media tumbuh tanaman lain. Selain tanaman perintis, Edelweis menjadi “cover corp” atau tanaman penutup yang mempu menahan hempasan air hujan dan laju permukaan, sehinga meminimalkan resiko erosi. Disisi lain, banyak serangga yang hidup didalam bunga untuk sekedar menghisap nektar atau berlindung didalam rimbunya dedaunan.

Photobucket

Jangan mengira Edelweis di Jalan Lingkar Salatiga seperti yang ada di gunung-gunung. Jalan Lingkar Salatiga dengan ketinggian dari permukaan laut sebesar 670m berbeda dengan Edelweis di ketinggian diatas 2000mdpl. Faktor lingkungan seperti, ketinggian, suhu, cahaya, nutrisi, kelembapan dan lain sebagainya berpengaruh terhadap pertumbuhan Edelweis. Di lokasi yang bukan habitat aslinya, Edelweis akang mengalami gangguan pertumbuhan. Di lokasi tersebut, Edelwesi terlihat dengan daun dan bunga yang tak serimbun di pegunungan, dan terkesan kurus. Namun adanya pembatas faktor lingkungan tak menghalangi Edelweis untuk tetap hidup, yakni dengan beradaptasi walau dengan pertumbuhan yang tidak normal. Sungguh perjuangan yang tidak mudah bagi Edelweis agar tetap hidup dilingkungan barunya. Yang menjadi ancaman, bukanlah kondisi lingkungan, tetapi yang ditakutkan adalah ulah tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.

Photobucket

Menjadi pertanyaan sekarang, bisakah kita menjaga dan mengapresiasi tanaman eksotis tersebut. Jangan gara-gara dengan embel-embel bunga keabadian lantas memetik dan mempersembahkan kepada kekasih, percumah tak ada yang abadi kecuali bunga plastik yang perlu ratusan tahun agar terurai. Naif juga jika memetik Edelweis sebagai wujud ketulusan cinta, sebab Edelweis sudah lebih tulus dari cinta siapapun, sebab dia rela menjadi yang pertama untuk sebuah kehidupan. Jangan tanyakan tentang perjuangan untuk Edelweis, karena bunga ini harus benar-benar survive agar mampu menjadi yang pertama dalam suksesi dan revegetasi. Bijak sekali juga kita bisa belajar dari Edelweis Jawa ini bagaimana tentang keabadian, ketulusan dan pengorbanan, baik kepada orang terkasih, sesama dan alam ini, seperti yang ditunjukan Edelweis dalam habitatnya.

salam

DhaVe

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penjelajah Kuburan, Mencintai Indonesia …

Olive Bendon | | 23 October 2014 | 03:53

Batik Tanpa Pakem …

Agung Han | | 23 October 2014 | 07:31

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Putri Presiden Jokowi Ikut Tes CPNS, Salah …

Djarwopapua | | 23 October 2014 | 14:08

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 3 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 9 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 10 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 11 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

X-Gene: Dao (1) …

Ryan M. | 7 jam lalu

Pemanasan Global dalam Perspektif Islam …

Kukuh Fany Fatkhulo... | 7 jam lalu

Bangsa yang Merangkak Dewasa …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

Sulitnya Seleksi Menteri, Kabinet Bersih vs …

Arnold Adoe | 8 jam lalu

Astaghfirulloh, Ada Kampung Gay di …

Cakshon | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: