
Seorang hawa yang lahir di kota Ponorogo. Mencoba mengungkapkan isi hati lewat tulisan meski kadang sulit di baca dan di pahami. mampir juga ke sini ya, kita berbagi tentang BMI http://buruhmigran.or.id/
Dibaca: 288
Komentar: 53
4 dari 9 Kompasianer menilai inspiratif
banyak negara yang telah menggunakan tas seperti ini untuk mengurangi penggunaan plastik
“Toce ci jo wan po”
Beginilah ucapan dari para kasir di supermarket saat para pembeli menjawab “tidak” waktu ditanya “sai em sai toi?” (perlu tas tidak). Hong Kong sudah mulai menekan penggunaan plastik beberapa tahun terakhir ini. Saat belanja ke supermarket seperti Welcome, Park N Shop, JUSCO dan supermarket lain saat para pembeli membutuhkan plastik, mereka harus mengganti HK$ 50 cent (setara Rp550) per satu plastik. Bisa dibayangkan saat belanja dalam jumlah banyak dan masuk ke plastik dari supermarket semua, berapa uang yang harus diganti? Untuk menyiasati hal ini, orang-orang Hong Kong yang sadar akan arti apa itu pemanasan global punya cara yang patut kita tiru, yaitu membawa tas sendiri saat belanja.
“Wan po toi” atau tas yang bisa digunakan berulang -ulang dan tentu saja ramah lingkungan ini sangat efektif untuk mengurangi penggunaan plastik. Para pembeli saat belanja dan melakukan pembayaran tinggal memberikan tasnya ke kasir, dengan telaten kasir akan memasukkan barang-barang belanjaan tadi kedalam tas.

Kesadaran masih sangat minim.
Saya punya pengalaman unik saat belanja di Indonesia saat pulang kampung. Hampir setiap hari saya belanja entah itu ke warung dekat rumah atau pun supermarket sekelas LUWES (bagi warga Solo pasti tahu ya) saya selalu bawa tas sendiri.
“Tidak usah plastik, masukkan saja ke sini, mbak.” Kata saya sambil menyerahkan tas kain.
“Oh tidak apa-apa, mbak” Jawab kasir dengan tetap memasukkan barang-barang tadi ke dalam tas kresek.
Saya katakan sekali lagi dengan nada pelan dan jelas, “Mbak, saya bawa tas sendiri, saya tidak mau kresek.”
Pernah juga saat saya membeli satu sarung tangan, si kasir memasukkan sarung tangan tadi ke plastik kecil warna putih. Saya ambil sarung tangan dan mengembalikan plastik tadi ke kasir sambil berkata, “cuma sarung tangan mbak, tidak perlu masuk kresek lah biar hemat.” Lagi-lagi saya mendapat jawaban yang sungguh tidak saya inginkan, “tidak apa-apa mbak, ambil saja.”
Saat belanja ke supermarket dan saat melihat orang menenteng tas kresek ditangan kanan dan kiri berjumlah lebih dari tiga, ada rasa “sayang” bahasa jawanya “eman” menyelimuti saya. Jujur saja seandainya orang-orang tersebut adalah keluarga saya, ingin saya teriak ke orang-orang itu untuk membawa tas sendiri saat belanja, itu akan lebih baik dan ramah lingkungan dan tentu lebih memudahkan saat membawa pulang belanjaan, karena tas kain atau “wan po toi” tentu lebih kuat jika dibanding dengan tas kresek.
Memulai dari diri sendiri
“Every day No Plastic Bag” Saya mulai belajar untuk menghemat penggunaan plastik sekitar 4 tahun ini. Belajar dari majikan saya yang selalu membawa tas kemana pun. Tas belanja yang bisa dilipat menyerupai dompet ini bisa dimasukkan ke tas tangan atau pun kantong celana. Saat membeli barang kering, plastik yang ada masih terlihat bersih dan tidak basah, saya lipat lalu disimpan masukkan kedalam tas, ini bisa digunakan saat belanja ke pasar untuk membeli sayur, buah, daging atau sea food, tinggal memberi ke pedagang, dengan senang hati dia akan menerima dengan ucapan, “toce cece, ci ji wan po” (terima kasih mbak, sudah mendukung penggunaan tas ramah lingkungan)
Pun juga saat hari libur. Saya selalu membawa tas untuk jaga-jaga, saya masukkan ke dalam tas tangan. Entah digunakan atau tidak saya usahakan untuk tidak lupa membawa tas ini dan saya lihat banyak juga BMI yang mulai sadar untuk membawa tas saat liburan.

Menularkan ke Orang Lain.
Ini yang agak susah. Saya sering mengingatkan keluarga saya untuk membawa tas sendiri saat belanja ke warung dan menolak saat diberi tas plastik. Tapi jawabannya ya itu tadi, “gratis saja kok ditolak.” Memang hampir disemua warung dan supermarket selalu menyediakan plastik untuk pembeli, tapi tahukan kalau plastik adalah barang yang sangat tidak ramah lingkungan. Plastik bukan berasal dari senyawa biologis karena memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Sampah kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara. Memang sampah plastik bisa dibakar setelah kita tidak membutuhkannya, tapi pembakaran tidak bisa mengurai partiket dengan sempurna yang justur menjadi dioksin di udara. Bila manusia menghirup dioksin, akan rentan terhadap berbagai penyakit di antaranya kanker, gangguan sistem syaraf, hepatitis, pembengkakan hati, dan gejala depresi.
"Go Green" dengan menggunakan tas ini, bisa menghemat ratusan tas plastik, menghemat pengeluaran dan juga ramah lingkungan pastinya
Yang bisa kita lakukan saat ini adalah mengurangi seminimal mungkin penggunaan plastis dan kresek. Mari beralih ke tas yang ramah lingkungan, yang bisa kita gunakan berulang-ulang dan bisa dicuci setelah digunakan.
Tapi sekali lagi, peran pemerintah dalam hal ini sangat diperlukan. Bagaimana menekan penggunaan plastik dan menularkan kesadaran ke semua orang akan bahaya penggunaan plastik serta mengenalkan tas yang ramah lingkungan.
_
Semua foto koleksi pribadi