Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Anjar Anastasia

saya senang menulis, menulis apa saja maka lebih senang disebut "penulis" daripada "novelis" berharap tulisan saya tetap selengkapnya

Dulu Keranjang Belanja Sekarang Kresek Ramah Lingkungan

REP | 02 February 2012 | 15:30 Dibaca: 422   Komentar: 2   3

Tahun lalu, ada seorang teman FB yang setia sekali memberi postingan tentang kampanye menggunakan tas belanja non plastik. Dia sampai sengaja membuat beberapa macam gaya tas buatan tangan sendiri agar orang tertarik untuk mengikuti kampanyanye itu. Tidak harus membeli, tapi paling  tidak  ia mencoba mencontohkan apa yang telah ia kampanyekan. Bukan omdo saja.

Pada masa itu belum ada fan page yang marak seperti sekarang. Jadi ia pun hanya bisa membuat grup khusus untuk lebih mengkampanyekan apa yang sedang giat ia kerjakan. Tak jarang ia selalu menyapa para anggota grupnya dengan kalimat, “Jangan lupa kalau belanja ke pasar atau supermarket, bawa keranjang sendiri ya” sembari sekalian mempromosikan keranjang buatannya itu.

Jauh sebelum kampanye teman FB tersebut, sedari kecil saya sudah dibiasakan belanja di pasar tradisional yang letaknya di belakang rumah.  Sebelum sekolah, ibu alm sudah memberikan saya daftar belanjaan hari itu beserta uangnya. Kurang dari 5 menit saya  sampai di pasar itu.

Selain daftar belanjaan dan uang, saya juga dibekali keranjang ke pasar yang pada masa itu memang selalu dimiliki hampir semua keluarga. Tas plastik yang sekarang demikian banyaknya, dulu tidak terlalu banyak ada. Sebagai pembungkus makanan atau bumbu dan lain-lain justru lebih banyak menggunakan daun dan kertas. Plastik hanya digunakan untuk barang-barang tertentu seperti mengemas gula, minyak, daging/ikan atau tahu mentah.

Nah, untuk membawa barang-barang belanjaan itu, para pembeli telah membawa tasnya sendiri dari rumah. Termasuk saya dan ibu alm. Karena sudah terbiasa, jadi barang penting tersebut tidak akan terlupa dibawa. Ketika  kian banyak tas (kresek) atau kantong plastik , keranjang belanja itu makin kehilangan pamor dan sempat hilang dari peredaran. Baru setelah go green dicanangkan dimana-mana, keranjang belanja itu pun mulai dipopulerkan kembali dengan segala macam modelnya.

Tas plastik atau kresek yang semakin hari semakin memenuhi ruang di bumi ini menjadi permasalahan yang tidak mudah diselesaikan. Apalagi kemudian sangat mudah didapat, mengatasnamakan keefektifan serta menjadi bagian sampah dari banyak limbah rumahtangga atau ruang bisnis lain. Meski sudah mulai dicanangkan tempat sampah organik dan unorganik, tetap saja sampah plastik nampak tidak dapat terbendung. Padahal sudah banyak orang yang mengetahui keburukan dari sampah plastik yang konon butuh waktu lama untuk bisa hancur atau bersatu dengan tanah.

Kondisi demikianlah yang kemudian memacu banyak orang mencari alternatif agar sampah plastik bisa berkurang terutama dari rumah tangga. Selain mulai diaktifkan kembali keranjang belanja seperti pada masa saya kecil dulu, kampanye dimana-mana, saya juga mulai melihat penggunaan tas plastik  yang mudah hancur dengan sendirinya di beberapa supermarket sebagai alat membawa semua barang yang dibeli di sana. Tas plastik jenis ini sering disebut juga dengan tas ramah lingkungan.

1328195997285606215

foto pribadi, contoh tas ramah lingkungan dari dua supermarket berbeda

Beberapa kali saya perhatikan, tas kresek jenis ini memang tas yang tidak akan kuat bertahan lama. Meski disimpan atau tidak digunakan lagi sesudahnya, jika telah terlalu lama disimpan maka plastik tersebut niscaya akan berkurang kekuatannya dan malah hancur sendiri.

Apa yang dilakukan pihak pasar modern seperti beberapa supermarket tersebut (terutama yang di Bandung) patut diparesiasi dengan baik. Walau belum semua supermarket melakukan hal serupa, kiranya kesadaran untuk membuat lingkungan sekitar kita menjadi lebih baik memang tanggungjawab semua pihak. Tidak peduli siapa dia jika memang kita hendak mewariskan dunia ini dengan kondisi yang baik.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

KOMiK Nobar Film Silat Pendekar Tongkat Emas …

Komik Community | | 17 December 2014 | 11:56



Subscribe and Follow Kompasiana: