Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Achmad Siddik

Perawat Komunitas Pohon Inspirasi yang cinta pada Yang Mencipta Pohon. Ingin menghembus sejuknya inspirasi, merentang selengkapnya

Menanam Pohon, Membangun Taman di Surga

OPINI | 20 February 2012 | 15:43 Dibaca: 871   Komentar: 8   3

1329705658450698850

Aktifitas Pelajar Menanam Pohon (dok. pribadi)

Seorang pengembara telah berjalan berbulan-bulan untuk mencari inspirasi hidup. Dia sudah mengunjungi banyak tempat di bumi ini. Bila ada pemandangan alam yang menarik atau kegiatan manusia yang dia anggap bermanfaat, dia sempatkan berhenti dan menggali informasi.

Suatu ketika, sang pengembara datang pada tujuh orang yang sedang membangun menanam bibit pohon. Sang pengembara kemudian bertanya pada orang pertama,

“Apa yang Bapak kerjakan ?”
Jawab penanam pertama dengan muka datar, “lihat saja sendiri, saya sedang apa.”

Kemudian sang pengembara beralih pada penanam kedua dan melontarkan pertanyaan yang sama.
“Saya sedang membuat lubang tanam,” jawab penanam kedua tanpa senyum sedikitpun

Pada penanam ketiga, sang pengembara juga mengungkapkan pertanyaaan serupa. Lalu dengan senyum tipis penanam ketiga menjawab,
“Saya menanam bibit pohon”

Ketika sang pengembara beralih ke penanam ke emapat, dia mendapat jawaban dengan senyum lebar,
“Saya sedang membangun taman”

Penanam kelima menyambut pertanyaan dengan senyum yang begitu manis dan kemudian menjawab, “ Saya sedang membangun sebuah kehidupan baru”

Penanam keenam menyambut kehadiran pengembara dengan ramah, senyum dan kemudian memberikan jawaban,
“Saya sedang membangun taman saya di Surga”

Akhirnya sang pengembara tiba pada penanam ketujuh yang sibuk bekerja. Saat pertanyaan yang sama terlontar, senyum lebar dan wajah berseri penuh kegembiraan dari penanam ke tujuh mengiringi jawaban yang terucap, “Saya sedang membangun sebuah kehidupan baru dan taman saya di Surga”

Sang pengembara telah mendapatkan inspirasi hidup yang sangat berharga dari tujuh penanam bibit pohon itu.

***

Kisah penanam bibit pohon adalah adalah gambaran seseorang yang hidup dengan visinya masing-masing. Visi hidup akan berpengaruh pada sikap dan cara kita menjalani hidup. Semakin jauh dan luas visi hidup seseorang, semakin ia akan hidup dengan semangat yang besar dan harapan yang tinggi. Sebaliknya, visi hidup yang pendek dan sempitl akan membuat dia bersikap sesempit dan sependek visi hidup kita.

Saya ingin menjadikan kisah di atas dalam konteks program penanaman pohon yang sangat gencar di negeri kita. Menanam pohon yang dilandasi dengan filosofi yang dalam visi yang jauh akan berbeda hasilnya dengan sekedar menanam untuk tujuan jangka pendek. Orang yang menanam pohon dengan harapan terbangunnya kehidupan baru yang lebih baik tentu akan memilih bibit terbaik, memilih lokasi tanam paling sesuai, menanam dengan cinta dan harap serta merawatnya dengan penuh keceriaan. Semangat memelihara bibit pohon yang dirawat semakin kuat karena dorongan misi suci untuk mendapat ganjaran terbesar dari Tuhan berupa taman di surga.

13297057691406288141

Menanamkan cinta menanam pohon sejak kecil (dok. pribadi)

Surga adalah visi terjauh kita dan disitulah kehidupan abadi. Membangun kehidupan dan berkontribusi bagi perbaikan alam adalah visi yang luas yang akan menembus batas waktu, generasi dan geografis. Seseorang yang telah memulai kerja untuk menggapai visi yang jauh dan luas takkan pernah bisa dihentikan oleh kematian, tempat dan sosok pada zamannya. Orang yang berjuang untuk visi yang jauh dan luas akan menginspirasi banyak orang untuk ikut melanjutkan, menyebarkan dan melestarikannya.

Bila program penanaman pohon di negeri kita punya visi yang menembus batas zaman, saya yakin pemandangan indah akan terhampar di lingkungan kita. Kehidupan baru karena terbangunnya hutan yang lebih baik dan lestarinya hutan yang sudah ada membuat hidup lebih indah dan sejuk. Bencana lingkungan akibat rusaknya pohon dan hutan semakin jauh dari kehidupan kita. Dengan kesadaran penuh semua orang merawat pohon dengan riang dan semangat. Semua orang melindungi hutannya agar tidak rusak dengan kesadaran tinggi. Sebuah mimpi yang semoga menjadi kenyataan.

Faktanya, program penanaman masih terbatas pada mencapai target angka-angka jumlah bibit dan luas tanam. Program yang tak terhubung dan tersambung dengan filosofi yang kuat dan visi yang jauh takkan mendapatkan hasil terbaik. Program yang seharusnya memiliki visi jangka panjang seringkali digarap dengan pola proyek berujung pada minimnya kualitas pekerjaan.

Sudah jutaan pohon ditanam, jutaan hektar tertancap bibit pohon, milyaran rupiah digelontorkan dan ribuan manusia menanam. Sudahkah mereka menanamnya dengan penuh harap terbangunnya kehidupan baru yang lebih indah dan sejuk. Sudahkah mereka merencanakan program penanaman untuk mendapat surga terindah dari-Nya?

Bagaimana dengan visi hidup kita. Semoga bisa menjadi orang seperti penanam bibit pohon yang ke tujuh. Menanam bibit pohon untuk membangun kehidupan yang lebih indah bagi manusia, hewan, tanah, air dan udara di dunia. Di kehidupan setelah dunia, kita akan mendapat ganjaran besar berupa taman di surga sebagai buah dari amal kita yaitu menanam untuk kehidupan karena mengharap kebaikan-Nya.

Semoga saja, masih banyak bibit pohon yang ditanam itu tumbuh subur dan terawat karena visi terjauh dan penanamnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | | 24 April 2014 | 23:45

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 12 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 12 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 13 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 16 jam lalu

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: