Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Mita

Minat yang terlalu sering berubah-ubah

Cara Gampang Membuat Kompos

OPINI | 02 July 2012 | 07:57 Dibaca: 34567   Komentar: 16   8

Ini cara membuat kompos dari sampah rumah tangga dengan cara yang paling sederhana.

Poster edukasi untuk pemilahan sampah

Kalau mau copy poster ukuran A3 silakan kesini lalu klik download.

Kompos definisinya adalah material organik yang sudah didekomposisi dan digunakan sebagai pupuk dan penyubur tanah.  Kompos juga merupakan bahan penting dalam pertanian organik yang sedang in sekarang ini.  Ada beberapa cara membuat kompos: aerob (dengan udara) dan anaerob (tanpa udara), dengan bantuan cacing dll.  Bahan baku kompos bisa dari apa saja asal organik seperti: tumbuhan, kotoran ternak, sampah organik, bahkan kotoran manusia.  Yang kita buat disini adalah cara membuat kompos secara aerob dan bahan bakunya dari sampah halaman dan dapur.

Ada empat hal yang diperlukan dalam membuat kompos, yang sederhananya seperti ini:

  1. Bahan warna hijau.  Bahan warna hijau ini maksudnya yang banyak mengandung Nitrogen (N).  Untuk proyek ini hijauan ini didapat dari sampah dapur, daun-daunan dan rumput dari halaman.
  2. Bahan warna coklat.  Maksudnya Karbon (C) dan biasanya berwana coklat, misalnya: sekam, jerami, gergajian kayu, dedaunan kering, ranting kering, potongan kertas dan kardus.
  3. Kelembaban.
  4. Udara.

Perbandingan bahan hijau dan coklat supaya pengomposan berjalan cepat kira-kira 1:1.  Penyiraman dan membalik-balik kompos dilakukan seminggu sekali.  Kalau proses pengomposan berjalan baik kompos akan bersuhu hangat akibat aktivitas mikroorganisma sehingga pembusukan berjalan cepat.

Untuk komposternya saya memakai komposter model putar.  Keunggulannya komposter ini tertutup sehingga tidak diganggu tikus, mudah dibolak balik, kompos mudah dikeluarkan dengan sekop dan ukurannya cukup besar.  Sebetulnya semua jenis kontainer bisa digunakan sebagai komposter.  Lebih baik bertutup supaya tidak dikorek-korek tikus, jangan lupa dilubang-lubangi bagian bawah dan sampingnya supaya cairan bisa keluar dan ada udara.  Simpan di halaman diterik matahari atau teduh sebagian.

Caranya:

  1. Isi komposter dengan sekam 1 kantung (seukuran bantal).
  2. Masukkan kompos yang sudah jadi 1 sekop (untuk inokulan/biakan bakteri) atau tanah kalau tidak ada.
  3. Kalau sudah ada sampah dapurnya dimasukkan saja.
  4. Siram sedikit sampai lembab
  5. Putar komposternya.

Sampah dapur sebaiknya sudah dibilas.  Supaya tidak menambah pemakaian air dan pekerjaan taruh baskom saringan dengan tutupnya di sink /keran cucian piring dan masukkan sampah dapur kesitu.  Otomatis kalau mencuci piring sampah tercuci juga.  Kalau hampir penuh baru masukkan kedalam komposter.

Kalau sampah sudah mulai banyak, tambah lagi sekamnya.  Kalau tidak kompos jadi terlalu berair dan berbau.  Sisa daging/ayam sebaiknya tidak dimasukkan, kalau saya diberikan ke kucing liar yang mampir reguler.  Tulang-tulangnya saya masukkan ke komposter.

Isi terus komposter sampai penuh, jangan lupa dibolak balik seminggu sekali.  Kalau sudah penuh putar seminggu sekali, dan panen komposnya kalau warnanya sudah menghitam (kurang lebih dua bulanan).

Kota seharusnya mengolah sampah bukannya membuangnya begitu saja ke satu area sehingga mengakibatkan masalah kesehatan,  lingkungan dan sosial.  Pembuatan kompos ini bisa membantu mengurangi sampah kota.  Kapan ya para walikota mulai mengolah sampah kota?

Sumber: herbgardens

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 11 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 14 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 15 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 16 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Aktif Menulis: Ikhtiar Guru Meninggalkan …

Rohani Elita Simanj... | 8 jam lalu

Catatan Ibu Muda – Pahlawan Pejuang SSK …

Kurnia Kartikawati | 8 jam lalu

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Pencerahan Problematika Kenaikan BBM …

Randy Saktyawan | 8 jam lalu

Menempa Generasi Berliterasi …

Lalu Abdul Fatah | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: