Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Sudirman Asun

Setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut selengkapnya

Teknologi Rekayasa Pengelolaan Air Sungai Ada di Jakarta

HL | 09 September 2012 | 10:42 Dibaca: 2515   Komentar: 42   28

13471593451206158746

Tidak ada yang mahal ketika kita, pengusaha bertanggung jawab dengan limbah dan lingkungan terdekat kita.
Terdengar miris memang, ketika kita mengetahui begitu besarnya uang yang beredar di Jakarta, tapi lingkungannya terutama sungainya rusak runyam oleh pembangunan itu sendiri.
Jakarta dengan teknologinya, Jakarta dengan orang orang pintarnya, “apakah ngaruh…?”.

Begitu kotornya Sungai Ciliwung, begitu kumuhnya Sungai Kota Jakarta, itu yang selalu media gambarkan untuk sungai mereka. Hampir seperti tidak ada gambaran bagus tentang bagaimana membayangkan seharusnya sungai suatu perkotaan maju, Kota Jakarta Ibukota Indonesia.

Sampai suatu ketika saya diajak oleh seorang teman untuk melihat yang katanya Sungai Jakarta yang ada ikan mas nya, “Ah yang benar Pak Sahroel, masa ada ikan masnya, kok bisa hidup?” saya makin penasaran ketika ditambahi bahwa ini adalah sungai tercantik di Jakarta.

Sambil berjalan kaki ke lokasi karena memang benar sungai ini terletak tidak jauh dari Gedung BPLHD di daerah Kuningan tempat pertemuan acara kegiatan sungai, cuman satu belokan.

Memang sungguh takjub melihatnya, Indah dan cocok untuk kota sekelas Kota Megapolitan Jakarta. Sungai berair bersih dengan ikan ikan hias berenang dengan sehat, dilengkapi dengan taman dan tempat berjalan kaki yang nyaman dan bersih, banyak muda mudi duduk santai ngobrol di taman pinggir sungai.
Ikan yang hidup dengan sehat, indikator bahwa airnya cukup bagus dan kaya oksigen.

Kontras dengan sungai sungai yang sehari hari saya lihat di kotaku, “ohhhh…, mungkin ini nih, yang Bu Niniek gambarin ke dalam mimpi saya, sungai yang beliau ceritakan ketika di luar negeri.”

“Indahkan?, tapi coba ntar sampai ke ujung sungai ini.” Ujar Pak Sahroel sambil memandang mengamati lengak lengok ramainya ikan mas yang berenang bebas di sungai ini, berwarna warni.
Ternyata memang ada ujungnya, ketika saya ditunjukan sungai indah ini berakhir bertemu kembali ke bentuk sungai aslinya, saluran kotor cukup banyak sampah, berair hitam pekat dan bau seperti sungai Jakarta pada umumnya.

Sungai ini tidak panjang lebih kurang hanya berkisar 500M ,memang sekilas mirip sungai, tapi ketika dilihat lebih seksama, ternyata lebih bisa dikategorikan kolam panjang/kanal penampungan air daripada bisa disebut sungai.

Dibangun diatas aliran lamanya yang mengalir dibawah dan dijadikan dalam dua aliran kiri kanan, kolam panjang ini dibangun diatasnya melenggok dengan indah, lengkap dengan empat pintu air (dua di masing masing ujung kolam/kanal) sebagai pengontrol debit air jika keadaan darurat.

Biarpun belum bisa disebut sungai karena airnya hampir tidak mengalir kecuali musim hujan, yang saya kagumi dari semua ini adalah teknologi pengolahan dan pemanfaatan air sungai kotor tercemar menjadi air yang layak untuk ikan hidup. Air sungai aliran lama yang bau dan hitam pekat di olah dalam beberapa bak bak pengolahan di lahan sempit pinggir trotoar jalanan.

Dengan bantuan bakteri pengurai dan pemakan limbah organik, air dinetralisir pencemarnya dan ditambahkan dikayakan dengan oksigen sehingga layak dan aman untuk biota seperti ikan.

“Ini adalah bakteri yang sengaja dibiakan” begitu penjelasan Mas Djoko yang bertugas mengontrol pengolahan air limbah sungai ini, untuk memakan limbah dan pupuk untuk bakteri ini cukup urea dan NPK apabila bakteri terlihat susut dan tidak sehat (persentase jumlah bakteri bisa dilihat dari endapan air bakteri yang sengaja dibiakan dalam 1 kolam khusus.

Dengan bantuan pompa dan mesin mesin yang bisa dikendalikan dalam satu panel, air sungai yang diendapkan dicampur dengan air berbakteri, bakteri inilah yang bekerja memakan polutan dan menetralisirnya, setelah residu polutan berkurang, air tersebut disaring dengan pasir silica dan diperkaya kandungan oksigennya baru dialirkan dipompa ke dalam sungai buatan tersebut.

“Selain teknologi pengolahan bahan baku air sungai tercemar ini, kolam ini juga dilengkapi dengan teknologi Solar Bee yang bekerja dengan energi green dari panel surya untuk mencegah air sungai baru ini berlumut” saya sangat berterimakasih dengan panjang lebar dan senang hati saya dijelaskan teknologi cara kerja kolam ini.
Menikmati sungai ini saya berangan angan, mungkinkah teknologi ini diterapakan di sungai sungai kecil Jakarta yang bermuara ke Ciliwung, sungai sungai kecil bermasalah seperti aliran limbah Kali Baru sepanjang Jalan Raya Bogor yang bermuar di Ciliwung Cililitan.

Rasanya ngin berlama lama di tempat ini, namun akhirnya matahari sore itu mengantarkanku memaksa langkah ini harus kembali pulang ke rumah, sebersit harapan tumbuh lagi untuk Sungai Kota Jakartaku……
Suatu hari nanti……..

Report dan Foto: Sudirman Asun


Sungai dengan taman

Sungai dengan taman

Taman dan tempat berjalan kaki yang nyaman dan bersih, banyak muda mudi duduk santai ngobrol di taman pinggir sungai.

Taman dan tempat berjalan kaki yang nyaman dan bersih, banyak muda mudi duduk santai ngobrol di taman pinggir sungai.

Sungai Yang Bersih

Sungai Yang Bersih

Sungai ini tidak panjang lebih kurang hanya berkisar 500M ,memang sekilas mirip sungai, tapi ketika dilihat lebih seksama, ternyata lebih bisa dikategorikan kolam panjang/kanal penampungan air daripada bisa disebut sungai.

Sungai ini tidak panjang lebih kurang hanya berkisar 500M ,memang sekilas mirip sungai, tapi ketika dilihat lebih seksama, ternyata lebih bisa dikategorikan kolam panjang/kanal penampungan air daripada bisa disebut sungai.

Ikan yang berenang sehat diantara Solar Bee

Ikan yang berenang sehat diantara Solar Bee

aktivitas asyik santai dan ngerumpi di pinggir sungai

aktivitas asyik santai dan ngerumpi di pinggir sungai

Taman dengan area resapan air

Taman dengan area resapan air

Sungai asli mengalir di kiri kanan sebelah bawah, bertemu kembali ke bentuk sungai aslinya, saluran kotor cukup banyak sampah, berair hitam pekat dan bau seperti sungai Jakarta pada umumnya

Sungai asli mengalir di kiri kanan sebelah bawah, bertemu kembali ke bentuk sungai aslinya, saluran kotor cukup banyak sampah, berair hitam pekat dan bau seperti sungai Jakarta pada umumnya

pengolahannya hanya menggunakan beberapa bak pengolahan dalam lahan yg sempit di pinggir jalan, memanfaatkan air sungai hitam di sampingnya yg bau menjadi air yg cukup layak menghidupi ikan

pengolahannya hanya menggunakan beberapa bak pengolahan dalam lahan yg sempit di pinggir jalan, memanfaatkan air sungai hitam di sampingnya yg bau menjadi air yg cukup layak menghidupi ikan

Intake BahanBaku Air Kolam dari Aliran Sungai Lama Yang Tercemar, tampak Di Foto Aliran Lama Mengalir Di bawah kiri kanan Sungai Rekayasa yang dibangundiatasnya.

Intake BahanBaku Air Kolam dari Aliran Sungai Lama Yang Tercemar, tampak Di Foto Aliran Lama Mengalir Di bawah kiri kanan Sungai Rekayasa yang dibangundiatasnya.

Bak Pembiakan dan Pemeliharaan Air BerBakteri Yang Membantu Penguraian dan Menetralisir Limbah.

Bak Pembiakan dan Pemeliharaan Air BerBakteri Yang Membantu Penguraian dan Menetralisir Limbah.

Pencampuran Air sungai tercemar dengan air berbakteri, tampak air sungai berwarna agak bening karena sudah diendapkan, dan air berbakteri yang berwarna coklat keruh.

Pencampuran Air sungai tercemar dengan air berbakteri, tampak air sungai berwarna agak bening karena sudah diendapkan, dan air berbakteri yang berwarna coklat keruh.

Dari Bak Bak inilah, Air Sungai Diolah dengan teknologi bakteri dan Dikayakan dengan oksigen.

Dari Bak Bak inilah, Air Sungai Diolah dengan teknologi bakteri dan Dikayakan dengan oksigen.

Air Yang Sudah Diolah Dialirkan Ke Dalam Sungai Baru Yang Telah Direkayasa

Air Yang Sudah Diolah Dialirkan Ke Dalam Sungai Baru Yang Telah Direkayasa

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 9 jam lalu

Di Kupang, Ibu Negara yang Tetap Modis namun …

Mba Adhe Retno Hudo... | 10 jam lalu

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 13 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 14 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: