Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Bung Kusan

Penyuka jalan-jalan, sejarah, dan budaya - penikmat kuliner, buku, dan transportasi umum - pemerhati tv, selengkapnya

Berkunjung ke Rumah Kebun Aquaponic Fadly Padi

REP | 24 October 2012 | 17:39 Dibaca: 3118   Komentar: 0   0

Doomsday preppers!

Begitu kata Andy Fadly Arifudin alias Fadly tentang rumah kebunnya di Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Jelas vokalis band Padi ini, konsep rumah dengan kebun aneka tumbuhan ini sengaja ia buat untuk kebutuhan sehari-hari, terutama kebutuhan akan sayuran organik dan protein hewani.

Kita makan apa yang kita tanam,” ujarnya.

Istilah doomsday preppers (DP) atau ‘preppers kiamat’ ini diakuinya, saat ia nonton di National Geographic (Nat Geo), yakni di situs www.gardenpool.org. DP adalah acara reality showdi kanal National Geographic (NatGeo). Konsepnya menggambarkan aktivitas orang-orang yang mempersiapkan diri menghadapi akhir peradaban. Salah satu persiapan adalah memproduksi sendiri kebun berisi tanaman untuk kebutuhan hidup. Sehingga, pada saat musim kelaparan

Saya pikir (DP) ini sama dgn yang saya bikin. Cuman orang Amerika lebih lengkap. Mereka bersiap untuk kejatuhan Dollar. Saya merasa, kita semua sudah berada di akhir zaman, dimana suatu saat tanaman akan menjadi alat tukar.”

1351074976207649598

Kompasianers, terlepas dari fenomena DP, saya beruntung bisa berkunjung ke rumah kebun Fadly Padi siang kemarin. Kebetulan istri saya, Sindhi, yang aktif di #IndonesiaBerkebun mengabarkan pada saya, bahwa komunitas yang bergerak dalam berkebun, ingin melakukan kunjungan ke rumah Fadly. Sudah sejak lama saya ingin melihat rumah kebunnya yang inspiratif ini. Alhamdulillah, impian saya tercapai.

Kompasianers, Fadly membangun kebun di atas tanah seluas 386 m2 ini sejak 2012. Di tanah ini, ada bangunanan. Sementara sekitar 150 m2 dipergunakan untuk kebun. Sebelum menjadi kebun, rumah pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 13 Juni 1975 sekadar rumah ‘biasa’, sebagaimana rumah-rumah tetangga sebelahnya. Ada bangunan, plus tanah dengan tanaman ala kadarnya.

Ia membeli rumah kebun yang lokasinya di gang persis di seberang lapangan udara Pondok Cabe ini pada 2007. Saat itu, ia ditawari oleh Dika, pemain bas Ada Band, yang tak lain sepupunya. Si pemilik menjual tanah bersertarumah tua seluas kurang lebih 500 m2. Dari luas itu, Fadly dan Dika membagi dua.

Saya mengambil tanah 386 meter persegi, plus bonus rumah tua ini, sementara Dika mengambil sisanya,” jelas suami Dessy Aulia ini.

1351075062268985443

Dua tahun setelah dibeli, barulah Fadly giat menjadikan rumahnya penuh dengan tanaman. Tak kurang dari pak choy, cabe, sereh, pohon salam, jahe merah, binahong, lengkuas, pandan, tomat, basil, timun suri, kacang panjang, dan kemangi. Ada pula buah-buahan, mulai dari alpukat, sirsak, manggis, jambu, pepaya, pisang ambon, dan durian.

Alhamdulillah, targetnya kebun ini bisa untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar ayah dari Bilal, Aidan, Fathimah, dan Hasan ini.

Kompasianers, melihat aneka jenis tanaman dan buah-buahan yang ada di kebun Fadly ini, jelas sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Betapa tidak, ingin memasak sayur, tinggal ambil di kebun. Untuk lauk-pauk, ia juga memiliki kolam ikan. Jika sebelumnya, ia memelihara ikan lele, ketika saya berkunjung, yang ada di kolam adalah ikan nila.

Di kolam ini lela cuma bertahan 2 bulan. Bukan karena mati, tapi kita makanin terus,” papar mantan vokalis Mr. Q. Band dari Surabaya, yang kini sedang mempersiapkan mengelola ribuan lele di dalam sebuah bekas watertoren ini.

13510751001618039604

Dalam mengelola kebunnya, Fadly cukup kreatif. Ia rajin mengumpulkan barang-barang bekas dan memanfaatkannya menjadi pot. Ada bekas bath tube, gentong air, botol minuman mineral, watertoren, dan barang bekas lain. Selain digunakan untuk pot, ia memanfaatkan botol minuman mineral untuk membungkus bambu-bambu yang menjadi penyangga tanaman di kebun itu.

Bambu ini diplastikan supaya tidak kena rayap,” jelas Fadly, yang mengurus kebunnya ini bersama 2 orang lain. “Rayap nggak mungkin masuk, karena nggak ada celah untuk masuk, karena bambu sudah terbungkus plastik. Kalo kena air, bambu juga nggak cepat lapuk. Soalnya kalo penyangga nggak mau cepat lapuk harus pake kayu jati dan itu jelas mahal.

Tentu untuk mengumpulkan, Fadly harus hunting. Namun, katanya, ia hunting jika mau cari kolam dan growbed untuk Aquaponic. Huntingnya pun dekat rumah. Khusus untuk bamboo, ia mengaku punya teman penjual bambu dan lapak barang bekas, dimana biasa mengantarkan botol minuman mineral bekas dan bambu ke rumah kebunnya.

Selama ini, ia belajar berkebun dengan otodidak, termasuk belajar Aquaponic. Khusus Aquaponic, ia belajar dari YouTube dan berbagai sumber internet. Juga dari buku karya Sylvia Bernstein berjudul Aquaponics gardening.

Bagi Kompasianers yang belum tahu, Aquaponics adalah campuran antara budidaya ikan atau peternakan ikan dan hidroponik atau budi daya tanaman dengan menggunakan sedikit tanah dalam sistem tertutup. Dengan naiknya harga bahan bakar dan pupuk, sementara pasokan air irigasi berkurang, Aquaponics bisa menjadi alternatif.

Menurut Sylvia Bernstein, “Aquaponics benar-benar merupakan sistem sirkulasi lahan basah, sehingga sistem itu berjalan tepat di tepi danau kami.”

Sistem Aquaponic ini menarik dan semakin banyak orang di seluruh dunia berkebun Aquaponics, dan menikmati hasilnya: pasokan makanan yang sehat, aman dan lezat sepanjang tahun. Di India, Aquaponics dijadikan salah satu kegiatan ekonomi yang tumbuh paling cepat dalam 10 tahun terakhir ini. Menurut Fadly, sibuknya hanya di awal-awal pada saat membangun system. “Setelah itu tingggal menyemai dan menanam. Jadi sebenarnya tidak terlalu menyibukkan.”

Selain tidak menyibukkan jika ssstem sudah berjalan, dari segi pendanaan pun relatif murah meriah. Ungkap Fadly, dana yang dibutuhkan untuk perawatan, paling cuma membayar tagihan listrik dan pembelian benih. Selama berkebun dengan Aquaponic ini, tagihan listriknya setiap bulan sekitar Rp. 200.000. Lalu, tenaga kerja cuma datang 2 kali sepekan.

Mereka datang untuk nge-check mesin pompa.

1351075169437398857

Kompasianers, tentu saja, selain fokus berkebun dengan Aquaponic-nya, Fadly tetap bergabung dengan rekan-rekannya: Ari (gitar), Yoyo (drum), Rindra (bas), dan Piyu (gitar) di Padi. Maklumlah, ia adalah pendiri band yang didirikan pada 8 April 1997 ini. Belakangan, ia sedang mengerjakan proyek bersama Rindra, Yoyo, dan Stephan Santoso dengan nama Musikimia.

Kita cuma berempat. Anggotanya memang minimalis, tetapi musiknya maksimalis,” jelas Fadly, yang aliran musiknya seperti Soundgarden atau Led Zeppelin.

Musikimia ini adalah proyek Fadly dan kawan-kawan selama mengisi kekosongan Padi yang sedang vakum. Band ini sendiri dimanajeri oleh Ari, yang tak lain adalah gitaris Padi, selain gitaris utama: Piyu. Di Musikimia, selain menjadi Manajer, Ari juga bertindak sebagai co-Producer dan fokus di belakang layar. Saat ini mereka sedang mempersiapkan album.

Kompasianers, sebelum saya dan teman-teman dari #IndonesiaBerkebun pamit pulang, Fadly sempat ditodong nyanyi. Awalnya ia malu-malu. Namun, karena didesak oleh permintaan para ‘ibu-ibu’, Fadly pun menyerah. Ia pun menyanyi sepotong lagu Padi sambil memainkan gitarnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tim Indonesia Meraih Emas dalam Taste of …

Ony Jamhari | | 20 September 2014 | 13:35

Pendaftar PNS 1,46 juta, Indonesia Minim …

Muhammad | | 20 September 2014 | 12:59

Dari Melipat Kertas Bekas Bergerilya Berbagi …

Singgih Swasono | | 20 September 2014 | 17:28

Di Pantai Ini Tentara Kubilai Khan Mendarat! …

Mawan Sidarta | | 20 September 2014 | 13:30

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 10 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 11 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 11 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | 8 jam lalu

Hargai Penulis dengan Membeli Karyanya …

Much. Khoiri | 8 jam lalu

Kompilasi Buku, Haruskah Ada Ijin dari …

Cucum Suminar | 8 jam lalu

“Kematian Allah” untuk Kehendak …

Ps Riswanto Halawa | 9 jam lalu

Masyarakat Pedesaan Pikir-Pikir Beli Elpiji …

Akhmad Alwan A | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: