Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Paulus Londo

Aku bukan siapa-siapa

Pohon Kalpataru Bukan Sekedar Mithos Oleh Anastasia Widiyanti

OPINI | 22 December 2012 | 21:12 Dibaca: 2425   Komentar: 0   1

13561854492053541350

Pohon Kalpataru (sumber: Kaskus)

Pohon Kalpataru

Bukan Sekedar Mithos

Oleh:

ANASTASIA WIDIYANTI

Apa benar, ada pohon bernama “Kalpataru? Atau hanya sekedar mithos bersumber dari ceritera para leluhur?, “ tanya seorang siswa salah satu SLTA di Jakarta saat menyaksikan Pameran Lingkungan Indonesia beberapa waktu lalu.

Meski cukup mengusik, pertanyaan ini tentu lumrah karena tidak mudah menemui jenis tumbuhan ini di lingkungan perkotaan. Karena itu wajar, bila sebagian besar masyarakat hanya mengenal kalpataru sebagai sebuah trofi yang diberikan kepada mereka yang berprestasi di bidang lingkungan hidup. Atau lukisan bulatan yang terbentuk dari akar-akar yang menjadi logo Kementerian Lingkungan Hidup.

Pada hal pohon Kalpataru, bukan sekedar mithos, tapi memang satu jenis pohon sungguhan yang merupakan tanaman asli kawasan Asia Tenggara, yang tumbuh menyebar di sepanjang pantai Samudera Hindia hingga Pasifik. Pohon ini memiliki nama ilmiah “Barringtonia Asiatica,” dan termasuk dalam suku “Barringtoniaceaf. “ Tapi masyarakat kerap menyebutnya sebagai pohon Keben.

Pohon kalpataru berbatang lunak, tingginya berkisar antara 5 hingga 7 meter. Pohon ini memiliki banyak akar sehingga selain tegakkannya menjadi kokoh, juga banyak menyimpan air. Daunnya rimbun dan berdahan rindang sehingga sering dimanfaatkan banyak satwa untuk dijadikan tempat membuat sarang.

Kalpataru mempunyai bunga dan buah yang indah. Daunnya tebal dan mengkilap, saat masih muda berwarna merah tua dengan tulang daun merah muda. Para nelayan Papua kerap memanfaatkan biji kalpataru untuk menuba (meracun) ikan. Biji ini juga bisa dijadikan obat kudis dan kejang perut. Tapi belakangan, biji kalpataru mulai dipopulerkan sebagau obat tetes mata yang manjur.

Pohon Kehidupan

Karena kerimbunan dan menjadi tempat berlindung berbagai jenis satwa, pohon Kalpataru memiliki arti khusus dalam mitologi masyarakat Indonesia. Ia dianggap sebagai pohon kehidupan. Dalam bahasa sansekerta, Kalpataru adalah kata majemuk yang terbentu dari perpaduan kata “Kalpa” yang berarti kehidupan, dan “Taru” yang berarti pohon.

Eratnya, pohon ini dengan nilai-nilai tradisi masyarakat Indonesia, setidaknya terlihat pada banyaknya relief pohon Kalpataru menghiasi dinding sejumlah candi di tanah air. Sayangnya, para penjual bibit tanaman jarang menjual jenis pohon ini, sehingga bentuknya yang sebenarnya jarang diketahui masyarakat. Tentu, akan sangat baik bila pohon Kalpataru ditanam untuk menghias sejumlah taman di ibukota. Tentu terutama di halaman kantor Kementerian Lingkungan Hidup, agar keraguan masyarakat sebagaimana pertanyaan siswa salah satu SLTA di atas dapat terjawab. (LS2LP

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Lisa Rudiani, Cantik, Penipu dan Pencuri …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Merayu Bu Susi …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Jokowi Menjawab Interpelasi DPR Lewat …

Sang Pujangga | 8 jam lalu

Tipe Kepemimpinan Jokowi-JK …

Gabriella Isabelle ... | 12 jam lalu

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Cerita Ulang …

Nabila Anwar | 8 jam lalu

Di Bawah Ranjang Tidurku …

Lembah Timur | 8 jam lalu

Obat Kuat dan Kehidupan …

Rahmatul Ummah As S... | 9 jam lalu

Insomnia di Usia Lanjut …

Dian Fakhrunnisak | 9 jam lalu

Terima Kasih Guru …

Anugerah Oetsman | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: