Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Fadhila Khairunnisa

Mahasiswa Teknik Industri ITS Indonesia yang mencintai indahnya ciptaan Tuhan serta menjaganya dari benalu-benalu yang selengkapnya

Smart Tunnel, Solusi Terbaik Atasi Banjir

OPINI | 02 January 2013 | 19:08 Dibaca: 477   Komentar: 0   0

Indonesia kini mengalami musim hujan yang berlangsung pada bulan November hingga April. Hujan yang terus-menerus mengguyur Indonesia khususnya kota yang dipadati oleh jutaan penduduk seperti DKI jakarta dan Surabaya dengan intensitas hujan yang cukup besar ini, membuat kota-kota tersebut mengalami kebanjiran di setiap sudut jalanan kota. Bukan karena pengaruh besar kecilnya intensitas hujan yang mengguyur kota tersebut melainkan ulah manusia yang menyebabkan terjadinya bencana banjir yang melanda kota ini. Membuang sampah sembarangan, menebang pohon secara liar, dan lain sebagainya membuat sungai-sungai menjadi sempit, kali meluap, dan juga dapat memisahkan daerah hulu. Banjir yang sering terjadi pada musim hujan ini juga dapat menyebabkan terjadinya kemacetan. Seperti halnya kota Jakarta yang terkenal sekali dengan masalah kemacetannya. Lebih lagi bila hujan deras yang datang secara terus menerus. Otomatis kemacetan yang dialami di kota ini semakin parah dan jalanan di Jakarta semakin sesak meskipun solusi-solusi yang ada seperti fly over, busway, dan 3 in 1 sudah dicanangkan di setiap sudut ibu kota sejak masalah ini mulai muncul. Oleh karena itu perlu adanya ide kreatif serta inovatif yang dapat mencegah terjadinya permasalahan banjir yang terus-menerus melanda kota-kota padat penduduk ini.

Salah satu solusi yang ditawarkan untuk mencegah terjadinya banjir dan kemacetan tersebut adalah SMART Tunnel atau Stormwater Management and Road Tunnel yang dimiliki oleh Negara Malaysia. Smart Tunnel ini dikembangkan untuk berbagai jenis keperluan seperti terowongan untuk LRT (Light Trainsport Railway), jalan tol, hingga yang dipergunakan untuk hybrid (jalan tol sekaligus untuk pengendali banjir), walaupun proyek ini harus menghabiskan dana sekitar 3,9 triliun. Uniknya, selain berfungsi untuk mengalirkan banjir bandang (flash flood) ke sungai, terowongan ini juga dipakai untuk lalu lintas kendaraan kecil seperti mobil (terlarang bagi sepeda motor dan kendaraan berat) dengan dipungut biaya hanya untuk penumpangnya saja. Dalam kondisi normal, terowongan ini dipakai untuk arus lalu lintas kendaraan, sedangkan dalam kondisi banjir besar terowongan segera ditutup untuk lalu lintas kendaraan dan baru dibuka kembali setelah 48 jam berlalu.

Dalam standart operasinya, ada tiga mode pengoperasian Smart Tunnel. Ketika kondisi hujan normal maka Smart Tunnel akan dialiri air pada bagian lantai pertama saja, dan arus transportasi tetap digunakan. Ketika terjadi hujan dalam tingkat tinggi maka seluruh lantai pada smart tunnel akan difungsikan sebagai saluran air.

Terowongan dilengkapi dengan control room yang canggih dengan menerapkan sistem terbaru dalam manajemen operasi, pengawasan dan pemeliharaan dari SMART System. Untuk sistem ventilasi dibuat lubang ventilasi setiap interval 1 km dan air fresh injector untuk memasukkan udara segar kedalam terowongan dari fan yang dipasang diluar terowongan. Dalam terowongan terdapat alat pemadam kebaran, telekomunikasi dan peralatan pemantau setiap jarak 1 km. Masa konstruksi terowongan tersebut berlangsung 4 tahun, dimulai pada tahun 2003 dan selesai tahun 2007 dengan menggunakan metode pengeboran tanah menggunakan alat TBM (Tunnel Boring Machine).

Terbukti setelah beroperasi, terowongan tersebut dapat membebaskan puluhan kali kota Kuala Lumpur dari banjir besar yang melandanya sehingga kota Kuala Lumpur berani mengklaim sebagai satu-satunya kota di dunia yang bebas banjir. Langkah keberhasilan Malaysia kiranya dapat menjadi contoh bagi kita dalam mengatasi masalah banjir yang tidak pernah selesai. Semoga saja suatu saat kota-kota langganan banjir di Indonesia bisa memiliki teknologi untuk mengatasi banjir.

Jadi, sangat diharapkan jika arsitektur dan sipil di Indonesia menciptakan Smart Tunnel seperti itu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 3 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 3 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 4 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 10 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Inovasi, Kunci Indonesia Jaya …

Anugrah Balwa | 8 jam lalu

Hak Prerogatif Presiden dan Wakil Presiden, …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | 8 jam lalu

Kebohongan Itu Slalu Ada! …

Wira Dharma Purwalo... | 8 jam lalu

Rethinking McDonald’s, Opportunity …

Yudhi Hertanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: