Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Dhanang Dhave

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat selengkapnya

Hutan Palsu Kalimantan

HL | 05 February 2013 | 07:16 Dibaca: 2062   Komentar: 0   12

1360022871939969717

Rimbunya pohon Akasia (Acacia mangium) yang menjadi penghuni baru hutan Kalimantan (dok.pri)

Rerimbunnya pohon Akasia (Acacia mangium) menjadi pagar setinggi puluhan meter yang mengapit jalan merah ini. Sepintas yang terlihat didepan mata ada hutan alam yang lebat dan alami. Kenyataannya memang benar demikian, namun tanda tanya itu muncul mengapa hutan yang lebat ini terasa gersang ?

Hutan Kalimantan memang terkenal sebagai paru-parunya dunia. Sumber oksigen bagi planet biru ini sudah compang-camping karena penebangan hutan dan kegiatan pertambangan terbuka. Kini dicoba untuk mengembalikan fungsi semula yakni sebagai hutan. Beberapa lokasi sudah dilakukan penanaman kembali seperti fungsi aslinya dan menjadi hutan lindung.

Sisa-sisa lahan tebangan yang sudah gundul kini menjadi lahan baru untuk bercocok tanam kayu. Akasia dan Kayu Putih/Ecaliptus adalah dua spesies yang menghiasi lahan-lahan bekas tebangan tersebut. Tanaman rimbun, lebat sepertinya sudah membuat sela-sela Kalimantan menjadi alami kembali.

13600229571892841676

Penduduk setempat sempat bertutur,

Model tanaman yang monokultur yakni dengan satu jenis pohon sepertinya indah didepan mata. pohon yang seragam, tinggi yang sama, tertata rapi dan enak dipandang. Mata manusia sepertinya sudah tertipu dengan permintaan ekologis. Keragaman hati yang sudah diberangus oleh satu jenis tanaman dan mengakibatkan flora fauna lain tak bisa hidup disini karena tidak ada tempat dan makanan.

Penduduk setempat sempat menceritakan, dulunya lahan disini sebelum ditebang masih banyak hewan berkeliaran. Orang utan bergelayutan berpindah dari pohon satu ke pohon lainnya, tetapi sekarang mereka entah hilang kemana. Ironisnya saat mereka kembali, kini dianggap sebagai hama tanaman.

Pohon Acacia mangium sebagai bahan pembuat kertas yang menjadi hutan dadakan menjadi makanan Pongo-pongo yang kelaparan. Orang utan ini menyesap kulit-kulit akasia untuk memakan kambium dan daun mudanya. Kelakian mamalia aboreal ini menjadi ancaman bagi pengusaha kayu dan dianggap sebagai hama, akibatnya sekarang menjadi hewan buruan.

1360023058518244855

Jalan baru yang menjadi urat nadi transportasi di pelosok-pelosok Kalimantan (dok.pri)

Pembukaan jalan darat sebagai sarana transportasi tak juga ubahnya membuka jalan untuk kerusakan lingkungan. Mungkin dampak membuka lahan untuk akses jalan tak begitu bermasalah, namun mudahnya akses ini memudahkan juga untuk merambah sisi-sisi jalan yang berupa hutan. Inilah dampak yang timbul kemudian, karena akses yang dipermudah.

Jalan dengan tanah liat berwarna merah yang super lengket kala hujan kini bak nadi-nadi di pedalaman Kalimantan. Dari sinilah pelosok-pelosok kalimantan bisa ditembus dan sebagai sarana angkutan barang dan jasa. Dampak negatif ada konsekuensi saat tidak ada kendali yang ketat terhadap mereka yang kurang ramah terhadap lingkungan.

1360023137847751147

Inilah jalan tol yang mengantar ke sela-sela pedalaman Kalimantan, kini sudah kalah dengan jalur darat. Sei Kujan terlihat dar badan sungai (dok.pri)

Sebelumnya jalur sungai adalah sebagai andalan utama untuk sarana transportasi. Sungai besar dan lebar yang membelah seluruh pelosok Kalimantan sebenarnya adalah jalan tol, namun tak efektif untuk menjangkau pedalaman dan sangat tergantung pada musim dan resiko yang besar.

Kini sungai-sungai besar tak seramai dulu saat jalan-jalan darat belum sebaik seperti sekarang. Jembatan penyebrangan sudah bertebaran dimana-mana yang semakin membuat mudah akses jalan darat. Walaupan sudah banyak ditinggalkan, fungsi sungai masih juga dipakai untuk sarana transportasi jarak dekat. Ketingting, speed baot, tongkang, klotok masih terlihat berkeliaran di sungai Lamandau, salah satu sungai besar di Kalimantan Tengah.

Kalimantan tetaplah paru-paru dunia apapun keadaanya. Alih fungsi lahan, kerusakan lingkungan yang kini menjadi momok dan perhatian dunia setidaknya mampu menyadarkan beberapa pihak. Disisi buruknya Kalimantan dengan adanya degradasi fungsi ekologi, setidaknya masih ada sisi alaminya. Penduduk lokal masih bisa mencari penghidupan dengan cara yang ramah lingkungan.

13600232861281525893

Jaga alam ini, maka alam akan memberikan sumber kehidupan (dok.pri)

Alam ini sudah menyediakan apa yang manusia dan penghuninya butuhkan. Tindakan tidak ramah lingkungan inilah yang menguntungkan salah satu pihak telah mengubah keseimbangannya. Ada yang tertimpa bencana ada yang berpesta poya diatas belantara Kalimantan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Ga Pengen Gundul? Rawat Rambutmu??? …

Kang Isrodin | | 29 November 2014 | 12:00

Sentilan-sentilun SBY dan Jokowi …

Gunawan | | 29 November 2014 | 09:00

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Festival Payung Indonesia Pertama, …

Indria Salim | | 29 November 2014 | 13:31

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 11 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Seperti Apa Mas Kawin di Zaman Rasulullah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kontraversi Aborsi …

Jahrianti Nur Tahir | 8 jam lalu

Remang-remang Kunang-kunang …

Harry Ramdhani | 8 jam lalu

Panggung Rising Star Indonesia Gagal …

Sakinah Fitri | 9 jam lalu

Terpidana Pembunuh Munir Itu Telah Bebas …

Agusman | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: