Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Indriatami Suwardi

....... masi banyak titik-titik yang perlu diisi.... www.wanitakampung.com

Hutanku Sayang, Hutanku Malang: Akahkah Indonesia menjadi Hutan Beton?

OPINI | 31 March 2013 | 22:28 Dibaca: 265   Komentar: 0   4

13647176741519162876

Sumber: hutanindonesia.com

Sebenarnya saya bukan ahli hutan, ahli pelestari hutan atau ahli-ahli lain yang mahir bicara soal hutan yang semakin hari semakin miris. Saya hanya penyuka alam hijau, air segar, alam sejuk dan rindang plus udara segar yang disediakan Tuhan bagi manusia secara gratis agar manusia bersyukur dan menjaganya. Semua itu menyehatkan bukan?. Saya juga bukan perusak atau pelestari hutan. Lewat hobi baru saya ini, mendaki dan jelajah hutan saya jadi sangat menyukainya. Merasai betapa bermanfaatnya hutan bagi kehidupan manusia.

Banjir, tanah longsor, kelangkaan air bersih, udara kotor akan menimbulkan berbagai macam penyakit. Belum lagi membinasakan habitat flora dan fauna lain sesama ciptaan-Nya. Manusia masih saja serakah dan banyak yang belum menyadari hal itu. Punahnya beberapa flora dan fauna bisa jadi karena habitat mereka yang hilang dan tidak ada kelangsungan hidup yang terus menerus dan berjalan bersisian layaknya harmoni alam.

13647177981537134451

Pemukiman Hutan Timika Papua. Dok www.facebook.com/denny.e.prasetyo

Sepertinya peran pemerintahlah yang paling penting dan paling besar dalam hal pelestarian hutan. Coba bayangkan banyak hutan diseluruh Indonesia yang banyak dijadikan pemukiman, daerah industri dan lain-lain. Padahal jelas-jelas itu daerah hutan lindung. Para pengambil kebijakan dan pemberi ijinlah yang menurut saya yang harus bertanggung jawab akan punahnya hutan di Indonesia.

Sebagai contoh, saya pernah bekerja di Batam. Coba liat kesana banyak sekali kegiatan membangun pemukiman dan industri dilahan hutan lindung dengan dalih memajukan ekonomi tapi jarang disertai pelestariannya. Disisi kanan kiri jalan ada saja yang berubah dari hari kehari. Mall, pemukiman dan lain-lain. Pernah teman sekantor yang membeli rumah disebuah perumahan ternyata bermasalah dengan lahan. Konon lahan dipemukiman itu merupakan hutan lindung yang diatur dalam Undang-undang. Mereka mau digusur. Lah salah siapa coba. Salah yang mengambil kebijakan dan pemberi ijin pastinya yang meberikan kepada pengembang property, pasti dengan iming-iming uang. Miris.

Soal pembalakan liar menurut saya juga pasti dibelakangnya ada aparat yang mengijinkannya. Kalau penebangan secara liar bisa diatasi dengan reboisasi, tapi kalau sudah jadi pemukiman padat penduduk apa bisa kembali seperti semula?.

13647179551970653689

Menikmati udara segar dihutan. Dok.Pribadi

Akankah Indonesia menginginkan menjadi negara maju seperti Amerika dan Eropa?. Menjadikannya hutan beton? Udara panas, kotor, bisa saja kumuh, air bersih susah. Muncul berbagai macam penyakit aneh. Kasihan sekali anak cucu kita nanti, sudah tidak mengenal seperti apa itu hutan, belum lagi jenis-jenis flora dan fauna yang punah. Hutan seperti catatan sejarah saja.Hilang ditelan jaman. Kita sepatutnya bisa belajar dari mereka. Kekayaan hutan kita masih banyak, mungkin saja ada para ahli yang bisa menata Indonesia agar pembangunan tetap seimbang antar ekonomi dan hutan.

Negara maju dengan lahan sempit saja bisa maju dengan pertanian organiknya kenapa indonesia tidak bisa. Harusnya bisa menghasilkan lebih dari mereka dengan biaya yang tentunya lebih rendah. Karena semua tersedia di alam, air, lahan luas, tanah subur dan lain-lain.

13647180721162230135

Hutan beton Jakarta . Sumber.www.kammilipia.blogspot.com

Sekarang saya di Jakarta amat sangat merasakannya. Pulang pergi kerja bergelut dengan debu, udara kotor, keringat terkadang banjir dan juga macet yang tak bisa terhindarkan. Makanya setiap weekend diusahakan refresing jelajah hutan sebagai penenangnya. Kalau tidak bisa melestarikan hutan yah minimal jangan merusaknya pasti tidak akan punah.

Salam Harmoni Hutan

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Nap a Latte untuk Produktivitas …

Andreas Prasadja | | 23 September 2014 | 22:43

‘86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | | 24 September 2014 | 00:37

Banyak Laki- laki Indonesia Jadi Ayah Gagal …

Seneng Utami | | 24 September 2014 | 04:45

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Polemik Masril Koto …

Novaly Rushans | 4 jam lalu

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 11 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 11 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 14 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Strategi Perang Lawan ISIS Ala SBY …

Solehuddin Dori | 8 jam lalu

Berat dan Ringan itu Relatif dalam Bekerja …

Eko Junaidi Salam | 8 jam lalu

Jika Sulit Memberi, Mari Berbagi …

Saumiman Saud | 8 jam lalu

Jadwal 16 Besar Asian Games 2014 …

Abd. Ghofar Al Amin | 8 jam lalu

Derita Hidup di Negeri Orang …

Usi Saba Kota | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: