Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Agoeng Widodo

Seseorang yang sedang belajar, dan sangat memimpikan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem karto selengkapnya

Kelapa Sawit dan Pelestarian Hutan

REP | 03 April 2013 | 22:31 Dibaca: 646   Komentar: 0   5

Semakin tingginya permintaan akan Crude Palm Oil (CPO) mengakibatkan peningkatan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Bukan hanya di Pulau Sumatra saja, tetapi sudah merambah ke Kalimantan dan pulau-pulau lainnya. Meskipun secara umum perluasan perkebunan kelapa sawit dianggap bisa mengancam kelestarian hutan dan spesies di dalamnya, namun tidak demikian jika pengembangan industri kelapa sawit yang ramah lingkungan diterapkan.

13649708601046106627

Perkebunan kelapa sawit (dok. pribadi)

Perkebunan kelapa sawit dikatakan ramah lingkungan karena pohon kelapa sawit menyimpan lebih banyak karbon dioksida(CO2) dan melepaskan lebih banyak oksigen (O2) yang baik bagi lingkungan. Usaha meningkatkan produksi sawit dengan tidak menambah luas lahan (intensifikasi tanaman) juga merupakan salah satu usaha yang baik guna menjaga pelestarian lingkungan. Dengan demikian tidak akan terjadi yang namanya konflik lahan baik antar petani sawit, perusahaan maupun pemerintah.

1364972586630637650

Pohon sawit penghasil CPO (dok. pribadi)

Jika peningkatan produksi kelapa sawit harus memerlukan perluasan lahan (ekstensifikasi), pemanfaatan lahan tidur untuk lahan perkebunan kelapa sawit bisa menjadi pilihan yang bijak. Dengan demikian tidak akan merusak ekositem hutan alam dan spesies di dalamnya.

136497706612597638

Kelapa Sawit yang hijau (dok. pribadi)

Perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan adalah sistem agroindustri yang melindungi dan memperbaiki lingkungan (alam), layak secara ekonomi, dan dapat diterima oleh masyarakat sekitarnya. Jika hal tersebut bisa dilakukan dengan benar, maka secara otomatis akan meredam isu-isu kerusakan lingkungan yang konon ditimbulkan oleh perkebunan kelapa sawit.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mencari Jejak Pencetus Indonesia …

Olive Bendon | | 05 March 2015 | 13:31

Watu Jaran, Sepotong Surga di Keheningan …

Hendra Wardhana | | 05 March 2015 | 15:18

Menyibak Akar Sengkarut APBD DKI …

Zetya1 Setiawan | | 05 March 2015 | 16:00

Mengenal “Swinger”: Ancaman dan …

Wahyu Tanoto | | 05 March 2015 | 15:31

[Tutorial] Google Hangout dan Cara …

Kompasiana | | 09 January 2015 | 22:15


TRENDING ARTICLES

Mengapa Ruki Tidak Menolak? …

Abd. Ghofar Al Amin | 6 jam lalu

Pelayanan Luar Biasa Fx Sudirman …

Thamrin Dahlan | 13 jam lalu

Perbedaan Negara Bekas Jajahan Belanda …

Rudi Hartono | 13 jam lalu

Humor Revolusi Mental #071: Repetitio Mater …

Felix | 13 jam lalu

Coretan Tangan Ahok: “Pemahaman Nenek …

Edi Abdullah | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: