Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Ratsari Mardika

seorang anak manusia yang sedang menggodok diri di kawah candradimuka..

Hutan Indonesia…Riwayatmu Dulu..

OPINI | 08 April 2013 | 05:49 Dibaca: 141   Komentar: 0   0

Sajak sajak tentang hutan jarang saya dengar dan dapatkan penyair penyair Indonesia masa kini. Entah karena pengetahuan saya yang terbatas atau kurang akrab dengan puisi puisi  jaman sekarang. Mengapa harus syair? Tentang hutan pula? Bukankah itu menjadi terlalu naif dan terdengar seperti melakukan pemaksaan idealisme untuk mencampuradukkan dunia kealaman riil dan  alam imajinasi kata kata yang estetik, namun tak jarang pula sarkastis dan sinis.

Berbicara mengenai hutan Indonesia, saya sulit untuk mengambil sudut pandang sebagai peneliti atau aktivis yang telah benar benar terjun di dalam dunia kehutanan. Membayangkan dari data data yang telah tersediapun saya merasa menjadi orang awam yang hidup jauh dari hijau dan rimbunnya hutan yang terbentang luas dan memberi segala aroma kesegaran bagi paru paru manusia. Saya hanya pernah menjadi seorang anggota pecinta alam sekolah menengah yang idealismenya menggebu namun tak mengerti harus berbuat apa. Saya hanya pernah singgah 2 malam dan mendirikan tenda di sebuah hutan kecil kawasan Wonogiri yang kondisinya sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan hutan hutan besar di Kalimantan. Hutan kecil itu memerlukan pembaharuan karena hutan kecil itu sesungguhnya mampu menyimpan air tanah untuk pengairan lahan desa desa di sekitarnya.  Dan kami, para anggota kegiatan kepecintaalaman sekolah menengah, dibekali beberapa bibit tanaman dari perhutani kota kami untuk berpartisipasi dalam proses pengembalian lagi kesehatan hutan itu.

Lagi lagi membayangkan. Akar akar besar mencengkeram tanah yang strukturnya agak liat, dan dari atas terlihat liukan air kecoklatan mengalir di tengah tengahnya. Hutan dan sungai selalu menjadi sebuah kesatuan alami yang bahu membahu untuk menyeimbangkan ketersediaan air di muka bumi.  Namun bayangan itu tetap saja hanyalah bayangan.  Di Kalimantan ataupun Sumatera, alih fungsi lahan meninggalkan jejak jejak yang melukai. Hamparan hijau itu tergantikan secara besar besaran, menjadi pertambangan, atau perkebunan sawit yang secara rakus menyedot air.

Tentu masyarakat kita menanggung akibatnya, bagaimana bila kita menanamkan rasa peduli kepada hutan kita, mulai dari anak anak kita,  melalui puisi puisi cinta dan dongeng kepada hutan, berkata kata kepada sungai, air, tanah yang liat, dan kepada gambut?  mulai dari pola pikir yang menumbuhkan cinta kepada aksi nyata dan pembelaan pada hutan kita tercinta. Semoga.

Sumber: Http://Hutanindonesia.Com/1-Juta-Hektare-Hutan-Di-Jambi-Lenyap-10-Tahun/.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 7 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 10 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 14 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 15 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: