blog

competition

Kirim tulisanmu dengan tema
"Nabung Pohon Yuk!"

Menangkan ribuan
hadiah menarik dari
CIMB NIAGA.

Pohon sebagai Benteng Pertahanan Sawah Wisata

OPINI | 06 May 2013 | 09:15 Dibaca: 151   Komentar: 0   0

1367806316756572290

Areal Persawahan di Selatan Kota Sukabumi

Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) antara tahun 2006-2010, pernah diusulkan pembangunan dan pengembangan sawah serta kampung wisata di Kota Sukabumi. Usulan ini memiliki kesan terlalu melangit untuk direalisasikan jika dipandang dari sudut bahwa pembangunan selalu berkutat pada pengadaan hal-hal fisik semata. Bahkan, usulan ini selama hampir empat tahun sama sekali tidak – jangankan masuk ke dalam skala prioritas- sekedar untuk masuk ke dalam deretan sejumlah pembangunan fisik lainnya pun sama sekali tidak pernah. Usulan ini masih kalah trend oleh usulan pembangunan dan renovasi ratusan gang dengan panjang hanya 50 meter saja.

Jika dikatakan terlalu melangit memang benar, sebab konsep dalam usulan pembangunan dan pengembangan sawah wisata ini mebutuhkan kejernihan dan cara pandang kita terhadap konsep-konsep pembangunan di negara ini. Alam pikiran kita, masyarakat di negara-negara ke-tiga, masih menginjakkan pikiran bahwa pembangunan itu harus bersifat massive, terlihat, dan bisa terukur agar mudah dihitung dan segera selesai. Sementara, pembangunan sawah dan kampung wisata membutuhkan pengekplorasian nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat, agar sawah dan kampung wisata yang tercipta tersebut bisa sesuai dengan kondisi, sosial budaya masyarakat setempat.

Padahal, usulan melangit ini masih kalah oleh beberapa konsep pembangunan di negara ini yang memiliki kesan melangit seperti; pembangunan kesejahteraan masyarakat, keluarga benerancana, dan pembangunan pendidikan. Artinya, konsep pembangunan sawah dan kampung wisata ini bisa direalisasikan jika i’tikad baik dari pemerintah dan masyarakat sekitar benar-benar telah menyentuh ranah holistik konsep pembangunan.

Salah satu latar belakang dari usulan pembangunan sawah dan kampung wisata adalah betapa di era ketika dunia telah memasuki sebuah ruang bernama Global Village, arah pembangunan akan mengikuti trend terkini yang sedang membanjiri arus kehidupan global. Lahan-lahan pertanian secara perlahan akan semakin tergerus oleh penyediaan bangunan-bangunan, ruko, perumahan, bahkan pusat-pusat perbelanjaan dari yang mega besar sampai ke mini market-mini market. Ini merupakan ancaman bukan laten tetapi ancaman permanent dan kongkrit bagi ketahanan pangan di negara ini. Jika sawah-sawah dibiarkan tergerus oleh keberadaan bangunan maka akan semakin mengecil produksi pertanian; padi.

Mayoritas dari kita memang kurang menyadari jika invasi kemajuan ini merupakan salah satu ancaman bagi kelangsungan manusia juga karena kita memang menikmati apa yang telah dihasilkan oleh pembangunan-pembangunan di era teknomasia ini. Orang akan lebih senang memasuki mall-mall, entah itu berbelanja atau sekedar jalan-jalan daripada harus berjalan di atas pematang sawah. Maka, ancaman besar ini lebih tidak dirasakan oleh mayoritas dari kita. Intinya, kemudahan telah menjadi alasan keberadaan mall dan mini market akan lebih mudah diterima daripada kita mengusulkan sebuah konsep pembangunan untuk menyelamatkan nasib areal pesawahan dan lahan-lahan penduduk di perkampungan.

Pembangunan kampung wisata pun dilatar belakangi oleh semakin hebatnya invasi budaya dari berbagai penjuru dunia menyerang ruang-ruang sempit kehidupan masyarakat. Harus diakui, teori evolusi sosial dan budaya ini dibantah habis-habisan oleh para penganut keyakinan namun dalam praktik kehidupan semua itu diterima dengan lapang. Proyeksi pikiran warisan leluhur kita tergerus oleh apa yang telah diciptakan oleh kemajuan jaman. Tidak bisa dibohongi, hawu dan seeng secara permanen telah dikalahkan oleh kompor gas dan magic-com.

Jika kita tidak mengarahkan konsep pembangunan ini secara utuh dan dibumbui oleh upaya kita untuk menyelamatkan apa yang telah diwariskan oleh leluhur, kakek, nenek, dan orang tua kita. Di masa depan, kekhawatiran tentang hilangnya lahan pertanian, lunturnya budaya bangsa, tidak akan menjadi satu kekhawatiran lagi tetapi akan menjadi hal yang memang telah hilang dalam kehidupan kita. Kemudian kita akan mengenang masa lalu, bahwa di negara ini pernah mengalami sebuah masa; di mana beras , padi, dan kapas bisa menghidupi masyarakat.

KONSEP SAWAH WISATA DENGAN ORNAMEN PEPOHONAN SEBAGAI BENTENG PERTAHANAN

Sawah wisata merupakan sebuah konsep terencana. Dalam Musrenbang di tahun 2006-2010 (selama empat tahun) diusulkan pembangunan dan pengembangan sawah wisata dengan berbagai pertimbangan antara lain;

1. Pemerintah tidak harus membebaskan lahan-lahan pertanian, kecuali memfasilitasi dan mengkomunikasikan perencanaan pembangunan sawah wisata kepada para petani dan penggarap lahan pertanian.

2. Pada tahap awal pembangunan sawah wisata, areal persawahan yang akan dijadikan obyek pembangunan harus dipagari dan dibentengi dengan pepohonan besar, areal persawahan di Barat Bojongloa dengan luas hampir 30 hektar sangat cocok untuk dijadikan obyek sawah wisata ini.

Teknis pelaksanaan dalam pengembangan sawah wisata ini harus memperhatikan aspek budaya dan kearifan lokal. Setiap empat sampai lima petak sawah harus dibangun lumbung padi, gubuk-gubuk kecil, dan disiapkan berbagai perangkat serta alat-alat pertanian sederhana seperti; pembajak sawah tradisional, sabit, cangkul, dan garpu. Kecuali itu harus ditunjang oleh ketersediaan alat-alat lain sebagai komplemen pertanian seperti; lesung dan alu, alat dan tempat penjemuran padi, dan kerbau pembajak sawah.

Pematang-pematang sawah harus diperlebar, sebab jika melihat dan membandingkan antara pematang sawah di era tahun 40-80an dengan zaman sekarang terdapat sebuah perbedaan mencolok. Sawah-sawah di tahun 40-80an rata-rata memiliki pematang dengan ukuran cukup lebar, sementara sawah-sawah di zaman sekarang ukuran pematang cenderung meramping. Ada alasan kenapa para petani dulu membuat pematang-pematang ini dengan ukuran lebar, selain memiliki fungsi sebagai tempat berjalan, pada pematang-pematang tersebut bisa ditanami berbagai tumbuhan seperti: jagung, kedelai, bahkan beberapa petani tradisional di sudut-sudut sawah biasa menanam pohon-pohon besar seperti; melinjo, sirsak, dan jambu kluthuk. Sawah wisata pun demikian, harus memberi ruang yang lebar terhadap dimungkinkannya pemantang-pemantang sawah ditanami oleh berbagai pohon dan tumbuhan.

Beberapa keuntungan di masa depan sebetulnya telah bisa diprediksi dengan dibangunnya sawah wisata ini. Pertama, Para petani akan mendapatkan penghasilan tambahan dari para pengunjung. Kedua, Areal persawahan akan dipenuhi oleh berbagai macam tumbuhan dan dibentengi oleh pohon-pohon besar. Membentengi areal persawahan dengan pepohonan besar ini merupakan proteksi terhadap datangnya hawa-hawa padi. Ketiga, sinkronisasi dan perpaduan antara kearifan lokal dengan pemikiran-pemikiran kekinian, masyarakat modern akan melihat langsung bahwa unsur-unsur tradisional bukan merupakan hal yang harus dihadapkan secara frontal dengan pemikiran modern, mereka akan saling melengkapi satu sama lain.

Konsep ini terlalu melangit, namun dengan tekad yang kuat dari berbagai element dan unsur masyarakat, Kita bisa membumikannya. Sudah pasti, ini diawali oleh sebuah impian besar: Kelak di masa depan anak cucu kita akan menikmati areal persawahan yang dibentengi oleh rapatnya pepohonan, udara segar dan sejuk, menyatu dengan harmonisasi kearifan lokal tanpa mereka harus kehilangan unsur-unsur modernitas dan kekinian. Kita harus bermimpi, di hari depan nanti, para wisatawan asing, turin mancanegara mengunjungi perkampungan kita, duduk di atas punggung kerbau, membajak sawah, menanam padi, menuai padi, dan merasakan betapa sebuah kesederhaan seperti sederhananya kita dalam menanam satu tunas pohon mampu membahagiakan manusia. Ini yang sering kita abaikan. [ ]

Tags: Array

Tulis Tanggapan Anda
Guest User