blog

competition

Kirim tulisanmu dengan tema
"Nabung Pohon Yuk!"

Menangkan ribuan
hadiah menarik dari
CIMB NIAGA.

Pohon, Budaya dan Investasi Kehidupan

OPINI | 11 May 2013 | 00:17 Dibaca: 324   Komentar: 3   1

Jika ada pertanyaan, “Kapan saat paling tepat menanam pohon “ ?, maka jawaban yang tepat adalah : “beberapa tahun lalu” Mengapa ? Alasannya tentu saja, jika penanaman pohon dilakukan beberapa tahun lalu, maka manfaatnya sudah bisa dirasakan saat ini.


Menabung merupakan satu tindakan antisipatif, dimana prinsipnya adalah menyimpan kelebihan sumber daya, sehingga disaat ada kebutuhan penting atau tak terduga, misalnya untuk pendidikan, kesehatan, dan sebagainya, semua itu dapat terpenuhi.


Menabung Pohon

Apakah menanam pohon adalah salah satu bentuk menabung ? Menurut saya jawabannya “ya”. Tapi tidak hanya itu, menanam pohon bisa juga merupakan upaya pemulihan budaya, merupakan investasi manusia bagi kehidupannya. Mengapa ? Mari simak data berikut yang dengan mudah kita temukan lewat mesin pencari google :

Indonesia merupakan salah satu negara yang dengan resiko bencana tertinggi di dunia. Diantaranya, bencana alam tsunami; Indonesia berada di peringkat pertama dari 265 negara dengan 5.402.239 orang terkena dampaknya, (4.497.645 korban), Bangladesh (1.598.546 korban), India (1.114.388 korban), dan Filipina (894.848 korban). Bencana alam gempa bumi, Indonesia berada di peringkat ketiga setelah Jepang dan Filipina, dari keseluruhan 153 dengan 11.056.806 orang terkena dampaknya.

Bencana alam tanah longsor, Indonesia merupakan peringkat pertama dari 162 negara, dengan 197.372 orang terkena dampaknya. Mengungguli India (180.254 korban), China (121.488 korban), Filipina (110.704 korban), dan Ethiopia (64.470 korban). Bencana alam banjir; Dari 162 negara Indonesia berada diurutan ke-6 dengan 1.101.507 orang yang terkena dampaknya. Peringkat sebelumnya berurutan diduduki oleh Bangladesh (19,279,960 korban), India (15.859.640), China (3.972.502), Vietnam (3.403.041), dan Kamboja (1.765.674) [1].
Jika tsunami dan gempa bumi merupakan bencana yang hingga saat ini tidak bisa dicegah, maka bencana banjir dan tanah longsor sebenarnya bisa. Saya yakin kita semua sejak Sekolah Dasar sudah diajarkan bahwa salah satu penyebab banjir dan longsor adalah kerusakan hutan. Berdasarkan hasil penelitian perusahaan analis dan pemetaan risiko asal Inggris, Maplecroft, Indonesia kehilangan 1 juta hektar hutan setiap tahun, setingkat dibawah Nigeria sebagai peringkat pertama yang kehilangan hingga 2 juta hektar per tahun [2]

Barangkali ada diantara kita yang berkata “ah, saya kan tinggal di kota, jadi nggak ada hubungannya dengan itu semua !”. Mari kita tengok, bagaimana kondisi lingkungan kita, apakah orang perkotaan bisa merasa aman-aman saja ?!. Tentu kita semua cukup paham, bahwa wilayah perdesaan lebih hijau dari wilayah perkotaan. Ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH), merupakan salah satu indikator dalam mewujudkan lingkungan hidup yang sehat di wilayah perkotaan. Berdasarkan data komunitas hi­jau Indonesia, dari target minimal RTH 30% yang diamanatkan Undang-Undang No. 26 Ta­hun 2007 Tentang Penataan Ruang, Kota Blitar terca­tat merupakan kota pengembang RTH terbesar (17 %), diikuti Makassar dan Pare-pare dengan luas RTH 14 %, , Probolinggo 13,2 %, Ma­taram 12 persen, Batam dan Tanjung Pinang 8,3 persen, Ma­lang 7,8 persen, serta Sala­tiga, Semarang, dan Surakarta 4,6 persen [3] .

Secara konkrit, mari kita ingat-ingat lagi: apakah sebelum awal tahun 1990 an sudah dikenal ‘budaya’ minum air dari botol kemasan ?! Apakah dulu ada ‘budaya’ menggunakan masker oleh pengendara motor ?! Saya rasa dua ‘budaya baru’ tadi cukup sebagai bahan perenungan kita bersama.

Mari kita ringkas data dan fakta di atas dalam kerangka “ketika alam rusak, apa kerugian kita” ?. Menurut pendapat saya, setidaknya ada dua akibat – baik langsung maupun tak langsung – yang akan dialami manusia. Pertama, kerugian berupa meningkatnya resiko bencana alam – atau lebih tepat bencana alam akibat campur tangan manusia –, dalam hal ini adalah bencana banjir, tanah longsor, yang bisa mengakibatkan kerugian material dan non-material.

Kedua, kerugian jangka panjang berupa tercerabutnya manusia (masyarakat) dari akar budayanya. Dalam arti luas, ini mencakup semakin sulitnya meneruskan mata pencaharian yang bergantung pada alam seperti nelayan, dan petani. Karena itu tidak heran banyak yang nekat hijrah keluar daerah, dan mengadu nasib ke kota besar. Tanpa bekal keterampilan dan ilmu memadai ditempat baru, akibatnya kebanyakan menjadi pekerja kasar dengan upah di bawah standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL), yang tidak mampu memenuhi bahkan kebutuhan primer semacam sandang, pangan dan papan, dan pendidikan. Dan bemunculanlah rumah-rumah bedeng, anak-anak kurang gizi, anak-anak putus sekolah, pengemis, anak jalanan, kriminalitas, porstitusi, penyalahgunaan narkotika, dan sebagainya. Budaya lama sebagai makhluk sosial porak-poranda, dan digantikan budaya baru individualisme, individualisme, egoisme, transaksional.

Pertanyaannya adalah: “pilih yang mana” ?!. Tentu tidak ada satupun diantara kita yang bersedia memilih. Sayangnya itu bukan pilihan bebas, mau - tidak mau, suka - tidak suka jika alam rusak, ya itulah resiko yang mungkin terjadi, atau bahkan telah terjadi.

Lalu apa yang mesti dilakukan ?
Informasi berikut ini barangkali bisa menjadi semacam alternatif pilihan.

Bambu
Tanaman bambu, menurut penelitian, memiliki banyak manfaat. Diantaranya, bambu merupakan tanaman yang dapat tumbuh dalam waktu singkat dibandingkan dengan tanaman kayu-kayuan. Dalam sehari bambu dapat bertambah panjang 30-90 cm. Rata-rata pertumbuhan bambu untuk mencapai usia dewasa dibutuhkan waktu 3-6 tahun. Tentunya penanaman bambu untuk konservasi alam akan lebih efektif dari segi waktu.

Tanaman bambu mudah beradaptasi dengan kondisi tanah dan cuaca yang ada, serta dapat tumbuh hingga ketinggian 3.800 m di atas permukaan laut.

Tanaman bambu menghasilkan 35% lebih banyak oksigen daripada tanaman lain pada umumnya. Satu hektar tanaman bambu mampu menyerap sampai dengan 12 ton karbondioksida dari udara atau mampu menyerap 4 kali lipat lebih banyak karbondioksida daripada tanaman biasa lain.

Tanaman bambu memiliki akar rimpang yang sangat kuat, selain berguna untuk menahan erosi, struktur akar ini menjadikan bambu dapat dapat menyerap air hujan hingga 90%, sementara tanaman lain rata-rata hanya mampu menyerap 35-40% air hujan. Utthan centre dalam upaya konservasi lingkungan pada lahan yang rusak akibat aktivitas penambangan batu di India melakukan penanaman hutan bambu seluas 106 ha. Hasilnya dalam waktu 4 tahun permukaan air bawah tanah meningkat 6,3 m dan seluruh areal penanaman menghijau. (Tewari, 1980 dalam Garland 2004). Sementara itu berdasarkan hasil studi Akademi Beijing dan Xu Xiaoging, melakukan inventarisasi dan perencanaan hutan dengan melakukan studi banding hutan pinus dan bambu pada DAS., bambu menambah 240% air bawah tanah lebih besar dibandingkan hutan pinus. (Bareis, 1998, dalam Garland 2004) [4]

Sebagai bukti, ketika saya dan beberapa teman melakukan Analisis Sosial di Desa Bangun Rejo, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, sekitar akhir tahun 2010, saya masih menemukan tiga sumber air yang muncul disekitar rumpun bambu.

1368204749994774364
Keterangan foto : Mata air yang muncul di bawah rindangan rumpun bambu

13682049712112137288
Keterangan foto : Sumber air dimanfaatkan untuk keperluan mandi dan cuci oleh masyarakat sekitar

Belum tertarik ?
Baik, mari kita simak sisi manfaat ekomomi tanaman bambu. Karena alasan nilai adat, budaya dan konservasi, China telah berhasil melakukan penanaman hutan bambu seluas 4.3 juta ha ( 35 dari luas hutannya) dan mampu menghasilkan produksi bambu lestari sebanyak 14.2 juta ton/tahun dan memberikan kontribusi US $ 2.8 milyar. Selain itu dari rebungnya sendiri, china menghasilkan 17 juta ton/thn [5].

Jumlah panen bambu sekian banyak, sangat bisa menggerakkan roda ekonomi masyarakat, misalnya dengan memunculkan sentra-sentra pengrajin bambu, lokasi wisata konservasi, penelitian dan pengembangan tanaman obat berbasis tanaman bambu, penelitian dan pengembangan bahan konstruksi berbasis bambu, dan sebagainya.

Namun, sebagai negara bahari, yang memiliki rentang pantai terpanjang di muka bumi ini, tidak elok rasanya jika kita hanya menyoroti kondisi kontinental. Kerusakan hutan mangrove, kerusahkan hutan terumbu karang, juga perlu mendapat perhatian tak kalah besar.

Mangrove
Mangrove adalah sekumpulan pohon dan semak-semak yang tumbuh di daerah intertidal (daerah pasang surut). Luas hutan bakau Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha) (Spalding dkk, 1997 dalam Noor dkk, 1999). [6].

Drs. Bambang Suwignyo, mengelompokkan fungsi mangrove menjadi lima fungsi [7].
Pertama, Fungsi Fisik, meliputi:
Menjaga garis pantai agar tetap stabil dan kokoh dari abrasi air laut; Melindungi pantai dan tebing sungai dari proses erosi atau abrasi serta menahan atau menyerap tiupan angin kencang dari laut ke darat pada malam hari; Menahan sedimen secara periodik sampai terbentuk lahan baru; Sebagai kawasan penyangga proses intrusi atau rembesan air laut ke danau, atau sebagai filter air asin menjadi air tawar.

Kedua, Fungsi Kimia, yakni: Sebagai tempat terjadinya proses daur ulang yang menghasilkan oksigen, Sebagai penyerap karbondioksida; Sebagai pengolah bahan-bahan limbah hasil pencemaran industri dan kapal di laut.

Ketiga, Fungsi Biologi, diantaranya : Sebagai habitat alami bagi berbagai jenis biota darat dan laut; Sebagai penghasil bahan pelapukan yang merupakan sumber makanan penting bagi invertebrata kecil pemakan bahan pelapukan (detritus) yang kemudian berperan sebagai sumber makanan bagi hewan yang lebih besar; Sebagai kawasan pemijahan (spawning ground) dan daerah asuhan (nursery ground) bagi udang; Sebagai daerah mencari makanan (feeding ground) bagi planktonSebagai kawasan untuk berlindung, bersarang serta berkembangbiak bagi burung dan satwa lain; Sebagai sumber plasma nutfah dan sumber genetika.

Keempat, Fungsi Wisata :Sebagai kawasan wisata alam pantai untuk membuat trail mangrove; Sebagai sumber belajar bagi pelajar; Sebagai lahan konservasi dan lahan penelitian. Terakhir, Fungsi Ekonomi, antara lain : Penghasil bahan baku industri, misalnya pulp, tekstil, makanan ringan; Penghasil bibit ikan, udang, kerang dan kepiting, telur burung serta madu (nektar); Penghasil kayu bakar, arang serta kayu untuk bangunan dan perabot rumah tangga

Terumbu Karang
Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae [8] . Terumbu karang berfungsi sebagai tempat tinggal, berkembang biak, dan mencari makan ribuan jenis ikan, hewan, tumbuhan dan makanan laut lainnya. Terumbu karang juga merupakan tempat hidup (habitat) bagi sejumlah spesies yang terancam punah seperti kima raksasa dan penyu laut [9].

Dengan terjaganya terumbu karang, masyarakat bisa memetik berbagai manfaat, diantaranya : Sebagai sumberdaya laut yang mempunyai nilai potensi ekonomi yang sangat tinggi dan menjadi penghasilan bagi nelayan, diantaranya dari tangkapan ikan; Sebagai kekayaan pariwisata, wisata bahari melihat keindahan bentuk dan warnanya yang berdaya jual tinggi; Kecantikannya dapat menjadi potensi wisata, misalnya penyelaman, snorkeling, memancing, yang dipadu dengan restoran, dan penginapan.

Terumbu karang juga dapat difungsikansebagai laboratorium alam untuk pendidikan dan penelitian; Sebagi sumber kekayaan laut yang bisa digunakan sebagai obat-obatan alami, pemanfaatan biota perairan lainnya yang terkandung di dalamnya. Masyarakat tradisional telah menjadikan terumbu karang sebagai bahan alternatif untuk konstruksi bangunan, karena mengandung kapur. Demikian pula pasir yang diambil dari ekosistem terumbu karang digunakan sebagai bahan campuran semen. Kerang atau tiram raksasa diambil cangkangnya untuk dijadikan bahan pembuat lantai bangunan.

Secara fisik, terumbu karang juga memiliki berfungsi sebagai pelindung penahan pantai dari erosi dan abrasi. Struktur karang yang keras dapat menahan gelombang, ombak laut, maupun arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan mencegah rusaknya ekosistem pantai lain seperti padang lamun dan mangrove.

Alternatif di atas dapat ditambah lagi dengan berbagai jenis tanaman yang secara ekologis maupun ekonomis memberi manfaat bagi kita, seperti gayam, jati, mangga, durian, dan lain sebagainya. Masing-masing kita dapat memilih sesuai situasi dan kondisi wilayah dimana kita tinggal.

Sebagai akhir, saya ingin menggaris bawahi bahwa kerusakan alam telah dan akan mengakibatkan manusia tercerabut dari akar budayanya, dan mengakibatkan turunnya kualitas hidup manusia, baik secara individu, maupun sosial. Maka, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan ajakan dari hati terdalam: Mari kita mulai dari diri sendiri, menanam satu pohon, apakah itu bambu, mangrove, karang, gayam, mangga, durian, jambu, belimbing, jati, sengon, dan banyak pilihan lain, di pekarangan kita, dengan harapan itu akan menginspirasi yang lain, menjadi gerakan besar, sehingga menghijaulah kembali kota kita, desa kita, pantai kita, dan berujung pada pulihnya budaya sosial masyarakat kita.

Menanam pohon, semoga berdampak pada hijaunya lingkungan. Menghijaunya lingkungan semoga menumbuhkan kesadaran untuk menjaganya: tidak lagi membuang atau membakar sampah sembarangan, tapi mengolahnya dengan bijak; tidak lagi menangkap ikan dengan bom atau potas; tidak lagi merusak hutan; tidak lagi tidak peduli pada lingkungan. Suatu pemulihan budaya, budaya peduli, budaya tanggungjawab.

Jika ada pertanyaan, “Kapan saat paling tepat menanam pohon, sementara kita belum menanam pohon “ ?, maka jawaban yang tepat adalah : “Saat ini ” !

Mari bertindak kecil dengan kesadaran besar, Menabung Pohon, menuai pulihnya budaya  !!!
.
.
.

Thomas Pras.
.

Tag : http://www.kompasiana.com/cimbniaga
Sumber :
[1] https://www.facebook.com/ForumHijauIndonesia?ref=stream

[2] http://sosialbudaya.tvonenews.tv/berita/view/51326/2011/11/24/penggundulan_hutan_di_indonesia_kedua_tertinggi_dunia.tvOne

[3] http://www.rmol.co/read/2012/11/18/85698/112-Kota-Dimodali-1-Miliar-Buka-Ruang-Terbuka-Hijau-)

[4] http://risenta.wordpress.com/2011/02/24/bambu-sebagai-penjaga-kebutuhan-air/

[5] http://green.kompasiana.com/penghijauan/2011/09/17/tanaman-pencipta-mata-air-396273.html


[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_bakau

[7] http://hutan-bakau1.blogspot.com/2012/12/manfaat-pohon-bakau-mangrove.html

[8] http://id.wikipedia.org/wiki/Terumbu_karang

[9] http://himapikaniku.wordpress.com/?s=Fungsi+dan+manfaat+terumbu+karang

Sumber Foto : Foto Ansos di Desa Bangun Rejo, Kecamatan bangun Rejo, Kabupaten Lampung Tengah.

Tags: Array

Tulis Tanggapan Anda
Guest User