blog

competition

Kirim tulisanmu dengan tema
"Nabung Pohon Yuk!"

Menangkan ribuan
hadiah menarik dari
CIMB NIAGA.

Menabung Pohon, Menabung Kehidupan

OPINI | 13 May 2013 | 16:35 Dibaca: 187   Komentar: 0   0

Ayah saya punya kebiasaan unik. Dalam setiap momen hidup keempat anaknya, misalnya ulang tahun, pernikahan, ayah tidak pernah memberi hadiah berupa materi seperti umumnya orangtua lain. Dari saya kecil, ayah selalu menghadiahi kami pohon untuk merayakan sesuatu. Saat kami masih imut-imut kami sudah memiliki pohon masing-masing sebagai hadiah dari ayah. Waktu itu jenis pohonnya terserah pilihan kami. Pohon yang saya miliki adalah pohon sawo, karena saya suka sekali dengan manisnya buah sawo. Pohon abang saya adalah mangga, sedangkan adik saya jambu, sesuai dengan buah favorit masing-masing. Namun, karena dulu semua pohon tersebut ditanam di rumah dinas milik perusahaan, maka saat ayah saya pensiun, pohon-pohon tersebut pun kami tinggalkan. Sedih?. Tentu saja, soalnya pohon-pohon tersebut seperti sahabat untuk kami, karena dinamai sesuai nama kami.

Setelah saya dewasa kebiasaan ayah tidak berubah. Ia tetap selalu memberi tanda cinta dalam bentuk pohon. Saat satu persatu anak-anaknya menikah dan membangun rumah masing-masing ayah kembali menghadiahi kami pohon. Kali ini selera buah saya sudah berubah. Saya dan suami sukanya mangga, maka ayah menghadiahi kami empat bibit pohon mangga saat kami menempati rumah baru. Tak beda dengan saya, abang dan adik saya juga mendapat hadiah pohon mangga untuk rumahnya.

13684375711944561891

13684376111719262280Tabungan Pohonku, Hadiah dari Ayah

Dulunya saya merasa ayah saya aneh. Tapi belakangan setelah pohon mangganya tumbuh, saya jadi berterima kasih sekali, soalnya walau masih kecil pohon mangga tersebut sudah berbuah. Kebetulan saat itu saya lagi hamil muda jadi si mangga yang masih mentah itu pun sukses menjadi teman ngerujak saya. Bukan itu saja, perkarangan rumah saya juga jadi lebih asri karena dihiasi warna hijau dan udara yang masuk ke rumah juga segar apalagi siang hari saat panas-panasnya cuaca, karena oksigen yang dihasilkan dari hasil fotosintesis pohon mangga tersebut.

Saya jadi kagum dengan ayah saya, dari dulu pemikirannya sudah selangkah lebih maju. Sepetinya ayah ingin mengajarkan kepada kami anak-anaknya untuk mencintai pohon dan turut melestarikan lingkungan. Bukan itu saja, ayah juga sudah memberikan tabungan oksigen untuk kami, yang artinya secara kiasan ayah telah menyediakan oksigen yang kami butuhkan selama hidup melalui pohon yang diberikannya. Ya, ayah telah menabung pohon untuk anak-anaknya.

Menabung pohon?, maksudnya?

Iya, ternyata selain menabung dalam bentuk uang kita bisa juga menabung dalam bentuk yang lain. Salah satunya adalah menabung pohon.

Kenapa kita perlu menabung pohon ?

Ada beberapa fakta yang terus terang sangat mengejutkan untuk saya.Tahukah anda?

Ternyata dalam kehidupan sehari-hari kita telah menebang berjuta pohon yang ada di muka bumi ini dan menyebabkan kerusakan parah pada planet ini. Ambil contoh saja hal yang paling dekat dengan keseharian kita yaitu pemakaian kertas. Faktanya :

  • Untuk memproduksi 1 ton kertas dibutuhkan 3 ton kayu
  • Untuk menghasilkan 1 ton kertas dihasilkan 2,6 ton karbondioksida atau setara dengan emisi gas buang yang dihasilkan mobil selama 6 bulan.
  • Setiap jam, dunia kehilangan 1.732,5 hektar hutan karena ditebang untuk menjadi bahan baku kertas.
  • 1 batang pohon kayu menghasilkan 16 rim kertas
  • 1 batang pohon kayu menghasilkan oksigen yang dibutuhkan untuk 3 orang bernafas.

(sumber : http://www.librarypoint.org/fa_energy)

Membacanya saya terhenyak. Benda yang begitu akrab dengan hari-hari saya. Bahkan saya bisa menghabiskan satu rim kertas hanya dalam waktu 1 minggu saja, sendiri. Bayangkan, coba kita hitung:

1 rim = 1 minggu

16 rim = 16 minggu

16 minggu = 1 batang pohon = 3 orang

Berarti setiap 16 minggu atau 4 bulan saya telah menebang 1 pohon kayu dan “membunuh” 3 orang manusia. Itu baru saya seorang diri. Padahal di kantor saya ada 15 orang dengan pola pemakaian kertas seperti saya.Waduh, ngga nyangka kan, ternyata kita telah membinasakan berapa batang pohon hanya untuk kegiatan sehari-hari yang ternyata memiliki dampak lingkungan yang sangat serius.

Apalagi, pohon adalah salah satu penyerap karbon di alam ini. Kalau pohon habis ditebangi maka penyerap karbon akan berkurang, akibatnya jumlah karbon yang beredar di muka bumi semakin besar. Padahal karbon adalah salah satu gas rumah kaca, yang artinya dengan berkurangnya jumlah pohon maka berkurang juga penyerap karbon kita. Makanya jangan heran kalau bumi semakin panas, dan udara semakin tidak nyaman. Karena kita-kita juga yang menyebabkannya.

Trus gimana dong cara kita menabung pohon?

Menurut hemat saya menabung adalah suatu kegiatan menyimpan sesuatu sedikit demi sedikit untuk dapat digunakan di kemudian hari di saat kita butuhkan.

Banyak hal yang bisa ditabung, kalau uang, maka tujuannya agar suatu saat kita membutuhkannya kita tinggal mengambil sejumlah tertentu dari tabungan. Dalam agama kita juga disarankan untuk menabung amal, untuk bekal saat kita menghadapNya. Bahkan dalam sosialisasi,kita juga sering dengar istilah menabung “networking” agar suatu saat kita butuh bantuan, ada jaringan atau orang lain yang dulunya sudah kita jaga hubungan baik akan dengan senang hati membantu kita.

Seperti itu jugalah menabung pohon. Sejak dini kita menanam bibit pohon untuk kemudian kita tuai hasilnya di kemudian hari. Dalam hal ini yang dihasilkan pohon adalah oksigen, suatu zat yang sangat kita butuhkan untuk hidup. Jika pohon yang kita tabung adalah pohon yang berbuah maka kita juga bisa menuai buahnya. Jadi, menabung pohon itu sama saja dengan menabung kehidupan , karena tanpa oksigen kita tidak mungkin bisa bernafas, sedangkan bernafas adalah salah satu ciri kehidupan.

Cara yang paling simple ya seperti yang dilakukan oleh ayah saya. Dengan mengajarkan sejak dini untuk mencintai pohon. Ayah saya telah membekali kami anak-anaknya dengan investasi jangka panjang yang tidak akan berkurang nilainya sampai kapanpun. Bahkan setelah nanti kami meninggalkan dunia ini, manfaat dari tabungan yang diberikan ayah saya kepada kami pun akan tetap dapat dinikmati oleh orang lain. Ayah saya telah memberikan tabungan abadi kepada anak-anaknya.

Kalau jaman sekarang, dimana mungkin tingkat kesadaran orang terhadap lingkungan semakin menipis. Di tambah lagi tuntutan ekonomi yang semakin memaksa kita untuk memacu ritme hidup lebih cepat, jadinya banyak orangtua yang hanya memikirkan menyiapkan tabungan berupa materi untuk anak-anaknya. Boro-boro mikirin menyediakan oksigen yang cukup untuk masing-masing anaknya, jika semuanya terlihat bisa dibeli dengan uang . Udara panas? Tinggal pasang AC. Kurang adem, minum es. Polusi udara? Tenang, kemana-mana bisa naik mobil kok, ngga akan terkena debu. Waduh, kalau semua orang berfikir demikian, bisa-bisa dalam hitungan beberapa puluh tahun lagi, kehidupan tinggal sejarah.

Menyadari hal tersebut, berbagai elemen masyarakat sudah mulai melakukan gerakan-gerakan cinta bumi. Belakangan malah setiap hari bumi yang jatuh setiap tanggal 22 April akan dilakukan aksi-aksi ramah lingkungan, seperti mematikan listrik di jam tertentu, sampai kegiatan menanam sejuta pohon yang dilakukan oleh beberapa instansi dan perusahaan-perusahaan besar. Kita patut mengapresiasi semua langkah-langkah tersebut.

Namun sebagai individu,kita juga perlu melakukan aksi nyata tidak sekedar mengapresiasi. Kalau saat ini, sebagai orangtua kita bisa mulai dari menabungkan pohon untuk anak kita.

Hal ini telah dipikirkan oleh salah satu bank swasta di Indonesia. Jika menabung pohon terlihat merupakan hal yang berat untuk kita, karena lahan yang tidak ada,tidak sempat atau malah tidak tahu cara menanam pohon, maka ada cara yang lebih praktis dari itu tanpa meninggalkan esensi dari menabung pohon itu sendiri.

How How How ?

Dengan menabung dalam arti yang kita tahu selama ini. Menabung uang untuk anak kita. Sedari dini kita ajarkan kebiasaan menabung agar kelak mereka memiliki perencanaan yang matang dalam kehidupannya.

CIMB Niaga telah meluncurkan salah satu bentuk tabungan untuk anak, yaitu Tabungan Junior. Keistimewaannya adalah untuk setiap pembukaan Rekening Tabungan Junior, CIMB Niaga akan mendonasikan satu bibit pohon. Jadi ngga ada alasan bagi kita untuk tidak bisa menabung pohon karena alasan-alasan yang saya kemukakan tadi. Karena sekarang, sembari menabung untuk perencanaan masa depan anak, para orangtua juga telah turut serta melestarikan lingkungan dengan menanamkan satu pohon untuk anaknya.

Apalagi syarat untuk membuka tabungan junior sangat mudah, cukup dengan Rp 100.000 untuk setiap pembukaan rekening, maka anak anda sudah memiliki sumber oksigennya sendiri. Disamping itu, tabungan Junior juga bebas biaya administrasi dan dilindungi oleh asuransi kecelakaan dengan premi yang juga gratis. Jadi selain merencanakan masa depan anak,, mengajarkan anak menabung sejak dini, orangtua juga sudah mengajarkan anak untuk peduli terhadap lingkungan. Investasi abadi seumur hidup.

Kalau tabungan Junior kan untuk anak usia di bawah 18 tahun. Trus kalau untuk orangtua dan penabung diatas usia itu?

Jangan khawatir, selain anak kita yang bisa nabung pohon, kita sebagai orangtua dan sebagai orang dewasa juga bisa turut menabung uang sekaligus menabung pohon. CIMB Niaga juga melayani pembukaan rekening Tabunganku yang merupakan produk yang diluncurkan oleh BI. Sama dengan Tabungan Junior yang bebas administrasi, Tabunganku juga demikian.

Kalau anda sudah memiliki tabungan namun ingin turut serta menabung pohon, bisa juga dengan mendonasikan dana ke rek 064-01-64351-00-4. Melalui rekening ini, berarti anda juga sudah memiliki pohon sendiri yang disumbangkan untuk bumi kita.

Jadi, tunggu apa lagi. Dari sekarang mari kita turut memikirkan masa depan kita dan bumi ini dengan cara menabung uang sekaligus menabung pohon. Tak ada yang mustahil jika kita semua bersinergi untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Yuk menabung sedini mungkin.

Untuk info lengkap, bisa dibaca di :www.cimbniaga.com

Tags: Array

Tulis Tanggapan Anda
Guest User