blog

competition

Kirim tulisanmu dengan tema
"Nabung Pohon Yuk!"

Menangkan ribuan
hadiah menarik dari
CIMB NIAGA.

Menabung Pohon Menghapus “Dosa”

OPINI | 14 May 2013 | 09:30 Dibaca: 170   Komentar: 3   2

1368497808698228753

Menanam Bakau untuk anak cucuku sumber : www.wetlands.org

Fakta yang mungkin tidak disadari!! Dalam setiap aktivitas kita ternyata menghasilkan karbondioksida (CO2). Setiap perjalanan sejauh 1 kilometer menggunakan kendaraan berbahan bakar solar atau bensin, kita ‘menyumbang’ 200 gram karbon dioksida. Jadi tanpa sadar setiap 1 gram bensin atau solar yang kita habiskan menumpuk 3,14 gram karbondioksida. Di Indonesia sendiri, konsumsi bensin mencapai 584 juta barel per tahun. Ini artinya ada 291,5 juta ton karbon dioksida yang kita hasilkan dalam satu tahun!!.

Saat saklar lampu kita nyalakan, berarti kita telah memompa karbon dioksida ke atmosfer. Setiap lampu berdaya 10 watt yang kita dinyalakan selama 1 jam, karbon dioksida yang kita hasilkan sekitar 9,51 gram, berasal dari pembangkit listrik pemasok energi listrik yang dipakai untuk menyalakan lampu tersebut. Bayangkan jika dikalikan sehari, setahun, dua tahun, lima tahun,…sudah berapa besar kontribusi kita dalam menghasilkan zat yang berbahaya bagi manusia ini? belum lagi ditambah watt yang kita habiskan untuk perangkat personal (laptop, komputer, HP, tablet, dan lainnya) yang pasti kita gunakan setiap hari.

Bukan hanya itu, ternyata kebiasan kita menggunakan kertas untuk mencetak (print) hasil pekerjaan atau untuk kebutuhan lainnya juga membuat kita, sekali lagi, ‘menyumbang’ 226,8 gram karbon dioksida dari setiap lembar kertas yang kita cetak. Bayangkan sudah berapa ribu kertas kita gunakan untuk mencetak dokumen, buku, majalah, dan sebagainya. Sebagai informasi saja, untuk memproduksi satu ton kertas, menghasilkan gas karbondioksida sebanyak kurang lebih 2,6 ton atau sama dengan emisi gas buang yang dihasilkan oleh mobil selama 6 bulan. American Forest and Paper Association mencatat kalau industri kertas adalah pemakai energi bahan bakar ketiga terbesar di dunia. Fakta lain yang juga cukup mengangetkan adalah, menurut kajian Departemen Pertanian Amerika, pernapasan manusia pada umumnya juga menghasilkan kira-kira 450 liter atau sekitar 900 gram karbon dioksida perhari.

Dari fakta-fakta ini sudah tidak dapat dipungkiri bahwa kita, makhluk Tuhan yang bernama manusia, adalah penyebab utama mengapa kadar karbon dioksida makin tinggi di atmosfer. Kitalah yang kian hari kian menumpuk zat yang mengancam keberadaan bumi dan seisinya. Setiap tahun ada sekitar 29 miliar ton karbon dioksida yang kita lempar ke atmosfer dan 80 persennya berasal dari kendaraan bermotor.

Seperti yang kita sudah ketahui bersama-sama, karbondioksida adalah salah satu jenis gas rumah kaca (GRK) yang paling dominan menjadi penyebab pemanasan global (global warming) dibanding jenis lainnya (Metana, Nitro Oksida, Hydrofluorocarbons, Perfluorocarbons, dan Sulfur hexafluoride). Memang secara alami, gas-gas rumah kaca ini  diperlukan untuk berada di atmosfer, karena jika tidak, kehidupan di bumi ini tidak akan dapat berlangsung. Namun jika berlebih juga akan menjadi masalah. Apabila konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer mengalami peningkatan, maka panas matahari yang terperangkap di atmosfer menjadi lebih banyak. Akumulasi panas inilah yang akan menyebabkan peningkatan suhu permukaan bumi. Itulah kenapa pada saat gas rumah kaca terus meningkat, pemanasan  global akan terjadi. Jika pemanasan global terjadi (saat ini sudah terjadi) maka dia akan memacu seringnya terjadi bencana lingkungan akibat berubahnya faktor-faktor iklim seperti curah hujan, penguapan dan temperatur.

Membiarkan Pemanasan Global = Dunia Berakhir

13684979712065230244

Beginilah bumi jika gletser mencair. sumber : www.boostinspiration.com

Seperti pepatah lama, ‘apa yang kita tanam itu yang kita tuai’. Tanpa bermaksud berlebihan, tetapi memang itulah yang terjadi (dunia berakhir) jika kita tidak mengerem laju pemanasan global. Bencana yang sudah pasti terjadi adalah melelehnya gletser (daratan yang terbuat dari es) akibat bertambah panasnya suhu bumi. Akibatnya suplai air minum dan irigasi bagi 500 juta penduduk dunia pasti terganggu. Gletser di Himalaya saat ini menjadi pemasok utama air ke Sungai Gangga, India. Kondisi saat ini, suplai airnya sudah menyusut 37 meter pertahun. Akibat paling mengerikan dari mencair gletser adalah tenggelamnya beberapa pulau di dunia dan negara yang paling terancam adalah Indonesia!!. Saat ini beberapa pulau kita sudah tenggelam. Kalau pernah membaca berita di media bahwa beberapa kali pasang air laut di Pantai Kuta telah membanjiri beberapa lobi hotel di sekitarnya, itu adalah tanda-tandanya. Mencairnya permukaan gletser di kutub yang membuat volume air laut meningkat drastis di tambah menyusutnya hutan bakau akan memperparah pasang-nya air laut. Diperkirakan kalau suhu bumi terus naik, tahun 2050 daerah-daerah Jakarta dan Bekasi seperti Kosambi, Penjaringan, Cilincing, Muaragembong dan Tarumajaya akan terendam.

Seringnya negara-negara di Eropa, Amerika, dan Karibia mengalami begitu banyak badai dibandingkan abad sebelumnya juga disinyalir akibat pemanasan global. Walau memang semua badai ini adalah kehendak alam tetapi intensitasnya yang lebih sering dan kuatnya yang tidak cuma merusak tetapi juga mematikan seperti badai katrina adalah akibat suhu air yang menghangat. Atau masih hangat diingatan kita fenomena yang terjadi pada 2003, banyak orang tewas di Eropa akibatnya cuaca ekstrem yang sangat panas.

Jika sebagian wilayah di dunia dilanda curah hujan yang meningkat, pemanasan global dipastikan akan membuat bencana kekeringan di Afrika dan India akan lebih parah. Inilah anomali cuaca akibat pemanasan global. Air akan semakin sulit di dapat dan tanah akan semakin susah ditanami. Akibatnya kekurangan pangan melanda, kelaparan marajelela, penyakit berjangkit, ujungnya perekonomian dunia kacau dan tidak mungkin perang dan konflik melanda dunia. Kalau sudah begini bukan tidak mungkin kondisi dunia seperti yang dikhawatirkan mantan Wakil Presiden Amerika Al Gore dalam film dokumenternya An Inconvenient Truth akan segera terjadi. Atau jika lebih ekstrem bukan tidak mungkin bumi akan sekacau seperti apa yang digambarkan film hollywood The Day After Tomorrow akibatnya melelehnya gletser.

Jadi dari uraian di atas, akan sangat aneh kalau ada dari kita yang masih merasa tidak ada hubungan langsung dengan pemanasan global. Sangat tidak berperasaan (tanpa bermaksud berlebihan) kalau kita merasa tidak bertanggung jawab terhadap berbagai bencana yang diakibatkan pemanasan global yang kerap terjadi. Dan sangat egois kalau  kita masih acuh bahkan tidak berbuat sesuatu untuk mengurangi menebalnya karbon dioksida di atmosfer, penyebab utama pemanasan global.

Solusi Sederhana = Menanam Pohon

13684984081515915495

Menyisihkan penghasilan untuk menabung pohon. Sumber: www.mytowncolorado.com

Tuhan memang maha adil. Diciptakannyalah makhluk lain bernama POHON yang dapat meminimalisir perbuatan manusia menimbun karbondioksida. Pohon, makhluk yang walau kita tidak sadari sebenarnya hidup berdampingan dan ada di sekitar kita serta menjadi bagian tak terpisahkan dari kita. Dari pohonlah ketersedian air terjaga. Dia  menahan air saat banjir datang, menjadi cadangan air saat kemarau menyerang. Pohonlah yang membuat kota-kota punya estetika dan pohonlah penyumbang terbesar suplai oksigen yang membuat kita bisa bernafas hingga hari ini. Satu lagi anugerah terbesar dari makhluk Tuhan yang katanya tak berakal ini adalah, dia penyedot karbondioksida, gas penyebab utama pemanasan global yang mengancam keberlangsungan hidup manusia.

Bayangkan saja, satu pohon rindang yang sering kita acuhkan mampu menghasilkan oksigen untuk sebanyak 10 orang menarik napas dalam setahun atau satu musim. Satu pohon yang sudah besar juga bisa menyerap karbon dioksida pada tingkat 48 pon/tahun dan melepaskan oksigen ke atmosfer yang cukup untuk memenuhi kebutuhan oksigen dua orang manusia di bumi ini (hasil penelitian Arbor Day Foundation-sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada kampanye penanaman pohon yang berpusat di Nebraska, Amerika). Hasil penelitian beberapa ahli lingkungan hidup bahkan menyebutkan, setiap satu hektar lahan yang ditanami pohon dapat mengubah 3,7 ton karbon dioksida dari aktivitas manusia, pabrik, dan kendaraan bermotor menjadi dua ton oksigen yang dibutuhkan manusia.

Sebagai makhluk Tuhan yang paling ‘berdosa” membuat bencana di bumi ini semakin sering terjadi akibat pemanasan global, akan sangat naif kalau kita masih acuh dan tidak tergerak berbuat sesuatu untuk memperbaiki kerusakan bumi. Saat ini tidak ada kata lain untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global selain menanam pohon. Itulah cara yang paling mudah dan sederhana serta memang telah disediakan Tuhan untuk menebus ‘dosa-dosa’ kita.

Tidak usah dulu berpikir jauh dan besar menyelamatkan hutan, lakukan apa yang bisa kita lakukan saat ini walau kecil. Tanamlah pohon di sekitar rumah kita. Jika tidak memungkinkan menanam pohon di sekitar rumah, maka aktiflah dalam kampanye penanaman pohon yang saat ini banyak digagas berbagai lembaga pemerintah dan swasta. Atau jika waktu tidak memungkinkan untuk itu, sisihkan uang kita untuk membeli bibit pohon dan menyumbangkannya kepada orang dan lembaga yang mau meluangkan waktunya menanam pohon. Atau kalaupun semua itu tidak bisa, cobalah dalam kehidupan sehari-hari beraktivitas yang minim menghasilkan karbon dioksida misalnya bersepeda ke kantor, gunakan listrik seperlunya, dan sebisa mungkin hindari mencetak dokumen atau e-mail yang tidak penting dan gunakanlah kertas bolak-balik saat mem-print dokumen. Semudah itu kita bisa mengurangi laju efek gas rumah kaca yang membahayakan kehidupan, bukan hanya kita, tetapi juga kehidupan anak cucu. Semudah itu kita bisa membuat bencana tidak sering datang menghampiri bumi. Semudah itu kita bisa membuat bumi lebih nyaman ditempati. Ayo menanam kebaikan (pohon) untuk bumi kita.

Tags: Array

Tulis Tanggapan Anda
Guest User