Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Rahmad Pujiansyah

Pedd : STM mesin hobby: membuat artikel/ blog & musisi karier : Juara III popsinger

Hutan dan Satwa Berduka

REP | 03 June 2013 | 02:15 Dibaca: 225   Komentar: 2   0

Kerusakan lingkungan hidup pada hutan tropis sangat farah, akibat penebangan hutan yang tak terbatas dan tanpa adanya pengawasan, sehingga terlihat bukit-bukit gundul,  tak adanya arahan dan ketentuan bagi perkebunnan dan  penambangan maka kerusakan hutan kita semakin diambang kepunahan,  seharusnya hutan janganlah ditebang semua harus disisakan untuk resapan air, perkekebunan dan penambangan  melakukan penebangan pohon di bukit dan di gunung tanpa menanamnya kembali, tak terfikirkan akan adanya akibat dari semua pohon yang ditebang dapat menimbulkan banjir di saat hujan datang.

kerusakan lingkungan hidup harus di tata kembali agar tidak semua bukit boleh ditebang pohonnya.

Kerusakan lingkungan hidup lainnya adalah, adanya pengambilan tanah pakai excavator di bukit dipinggir kota untuk dijual, hal ini menyebabkan semua bukit yang ada di sekitar pinggir kota menjadi gundul dan berlobang-lobang bekas galian, begitu hujan turun maka airnya dengan leluasa mengalir deras ke tempat pemukiman penduduk sehingga terjadi erosi dan ada juga yang mengalir deras ke sungai, sehingga menyebabkan banjir akibat luapan air dari sungai.

Hampir disemua desa, kota dan ibukota, sejauh kita memandang di pinggir kota yang terlihat adalah bukit yang gersang atau bukit yang berlobang-lobang bekas galian, tak ada lagi kehidupan margasatwa dan ada lagi kicau burung yang merdu terdengar setiap fajar menyising, yang ada adalah suara gemuruh air hujan yang turun dengan deras dari bukit ke sungai dan parit-parit penduduk.

Siang dan malam masyarakat di pinggiran kota selalu merasa was-was apabila hujan turun dengan deras, bila malam tiba tak bisa tidur dengan nyenyak takut diterjang banjir bandang, tak ada lagi ketenangan dan tak ada lagi harapan ingin tinggal lama di daerah tersebut, apabila tidak ada usaha untuk mengatasi penyebab adanya banjir tersebut.

Kalau sudah banjir melanda apa hendak dikata, ibarat nasi sudah jadi bubur, tak bisa mengembalikan lingkungan hidup seperti dulu bebas banjir secara cepat, karena harus menanam pohon menunggu puluhan tahun agar pohon tersebut berfungsi menampung dan menahan air hujan,  namun hal tersebut tetap harus dilakukan kalau tidak maka anak cucu kita akan terancam banjir berkepanjangan.

Saat ini manusia terlena oleh kemajuan jaman, sehingga tak peduli pada lingkungan hidupnya. Manusia lebih betah tinggal di dalam rumah nonton TV, dan internetan, rupanya kemajuan jaman membuat sebagian manusia menjadi masa bodoh, tak peduli lagi  terhadap lingkungannya,  tak peduli sesamanya yang ditimpa bencana, apabila ke luar rumah itupun hanya untuk urusan bisnis yang menghasikan uang.

Siapa yang bertanggungjawab mengatasi banjir?

Mengatasi banjir adalah tanggungjawab kita bersama, kesadaran masyarakat untuk mengatasi banjir, pemerintah akan berusaha pula dengan programnya ke depan pembuatan kanal atau anak sungai agar air hujan yang mengalir dari bukit bisa cukup tertampung sehingga tidak terjadi lagi air sungai menggenangi pemukiman penduduk.

Perusahaan tambang dan perusahaan perkebunan kelapa sawit ikut andil membantu penanggulangan banjir, menata kembali bekas tambang, menanam kembali pohon-pohon yang ditebang untuk resapan air oleh penambangan dan perkebunan kelapa sawit, dengan sistem hutan tanaman industri (HTI ) , menjaga kelestarian hutan lindung sebagai resapan air di area perusahaan dan membantu mengalihkan aliran air hujan agar tidak mengalir ke sungai pemukiman penduduk yaitu membuatkan danau tersendiri di lokasi perusahaan agar tidak mengalir langsung ke sungai saat terjadinya hujan.

Sumbangan dari perusahaan sangat diharapkan untuk penanaman seribu pohon di bukit-bukit yang gundul didekat pemukiman penduduk.

Hutan yang indah menghiasi bumi sebagai sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di dunia ini, bagaiman kehidupan margasatwa bisa tenang karena adanya penebangan pohon yang setiap waktu terdengar suara chainsaw yang memekakan telinga mengusik kehidupan margasatwa, sehingga margasatwa lari menjauh menghindar dari suara bising yang mengusik kehidupan mereka, tetapi apa daya kemana pun marga satwa lari selalu saja terdengar suara mesin pemotong pohon yang memekakan telinga, karena memang di mana-mana ada penebangan pohon, dalam kebingungan dan dalam kelaparan margasatwa kehilangan tempat berteduh dan kehilangan cadangan makanan akibat hutan dibabat yang terlihat tinggal bukit yang gersang tanpa ada pepohonan, margasatwa menangis merenungi nasib kehidupannya yang malang tak punya tempat tinggal dan tak punya cadangan makanan lagi, sehingga lama-kelamaan margasatwa semakin kurus dan tak mampu lagi berjalan lalu marga satwa yang langka menjadi mati dan punah di peredaran bumi kita ini.

Apa yang dilakukan sebagian manusia adalah untuk kepentingan pribadi, tanpa memikirkan kehidupan makhluk lainnya yang sudah lama menempati hutan tersebut, kini mereka tergusur lari tempat tempat tinggalnya, mereka lari meninggalkan hutan belantara,  kita lihat monyet-monyet yang mencari makan ke pemukiman penduduk, akibat tempat tinggal mereka yang telah digusur menjadi bukit yang tandus dan gersang tanpa ada lagi sebatang pohon pun

Kerusakan hutan tropis kita semakin farah dan margasawa langka diambang kepunahan, apabila kita tak segera membenahi, maka malapetaka akan menimpa terhadap kehidupan kita dan kehidupan anak cucu kita di masa mendatang. ( Rahmadpujiansyah  )

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wahana Baru Ice Age Arctic Adventure, Dufan …

Rokhmah Nurhayati S... | | 19 April 2014 | 01:35

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Araira …

Fandi Sido | | 16 March 2014 | 19:39

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 9 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 11 jam lalu

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 21 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: