Back to Kompasiana
Artikel

Penghijauan

Indah Susanti

Fotografi bawah laut dan artikel perjalanan oleh Indah Susanti: http://indahs.com/ Penulis kontributor untuk: http://diveadvisor.com/sub2o/authors selengkapnya

Surat Terbuka untuk Bapak Sinyo H. Sarundajang

HL | 09 October 2013 | 04:02 Dibaca: 1842   Komentar: 36   19

”Waktu torang masih kacil, torang salalu dengar cerita dari orangtua, kalo di Tangkoko banyak babirusa. Maar sampe torang so basar bagini, torang nyanda pernah lia yang namanya babirusa. Samua itu cuma tinggal cerita.” (Esli Kakauhe, warga Bitung kepada Kompas tanggal 30 April 2008, Kesadaran yang Lahir dari Pinggiran Hutan Tangkoko)

”Ketika masih kecil, kami selalu dengar dari orangtua bahwa di Tangkoko banyak babirusa. Tetapi sampai sekarang sudah besar seperti ini, kami tidak pernah melihat yang namanya babirusa. Semua itu hanya tinggal cerita.” (terjemahan, Kompas)

Yang terhormat Bapak Sinyo H. Sarundajang, Gubernur Sulawesi Utara dan Peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat

Pada tahun 2011, saya mengunjungi propinsi yang Bapak pimpin. Selama dua minggu di sana, saya terkagum-kagum melihat keindahan bawah laut dan keunikan flora dan fauna di Sulawesi Utara. Tak dipungkiri, keindahan terumbu karang propinsi Sulawesi Utara melebihi keindahan perairan Karibia. Saya pernah menyelam di Bonaire, perairan Karibia, yang sistim pembayaran taman lautnya ditiru oleh Taman Laut Nasional Bunaken, sayangnya perlindungan dan konservasi kelautan yang diterapkan di Bonaire tidak ditiru oleh pemerintahan Bapak. Sampah bisa ditemui baik di permukaan maupun di dalam laut. Tidak hanya itu, sepertinya patroli laut nyaris tidak ada. Beberapa kali perahu kami (para penyelam) menjumpai perahu penduduk yang (sepertinya) mencoba menangkap ikan untuk dijual sebagai ikan hias. Naasnya, ikan hias yang mereka coba tangkap termasuk ikan langka yang sulit hidup di aquarium seperti ikan Mandarin misalnya. Dari informasi yang saya peroleh, penangkapan ikan hias laut ini seringkali dilakukan dengan cara pembiusan dengan sodium atau dengan potassium sianida, cara ini efektif digunakan agar ikan masih hidup. Penggunaan racun ini berdampak buruk pada terumbu karang yang dapat mematikan ekosistim di sekitarnya termasuk terumbu karang itu sendiri.

indahs photography: Bunaken Island & Lembeh Strait &emdash;

Ikan Mandarin dari Sulawesi Utara, salah satu ikan hias favorit, namun sulit bertahan hidup dalam akuarium (copyright: I. Susanti)

indahs photography: Kompasiana Blog &emdash;

Sampah plastik merusak terumbu karang. Selain itu hewan laut sering mengira sampah sebagai makanan. Seperti kura-kura misalnya, mengira plastik adalah ubur-ubur untuk dimakan, mereka dapat mengalami masalah dengan saluran pencernaan yang berdampak pada kematian. (copyright: I. Susanti)

Seorang sahabat menganjurkan saya untuk mengunjungi Taman Nasional Tangkoko yang terkenal akan keunikan hewan-nya seperti Yaki (monyet jenis Macaca nigra), Tarsius, burung Rangkong, dan kuskus. Katanya, saya belum ke Sulawesi Utara kalau belum melihat Yaki dan Tarsius. Ironisnya, ketika kami menuju Tangkoko, keindahan dan keunikan alam tersebut diawali dengan pemandangan yang mengenaskan. Kami melewati bukit-bukit yang nyaris gundul dimana pohon-pohon telah habis ditebangi, walaupun kegundulan bukit tersebut belum separah yang pernah saya saksikan di Kalimantan Timur, namun cukup memperihatinkan melihat kemungkinan tanah longsor di daerah perbukitan tersebut pada musim hujan. Pemandangan berikutnya sebelum tiba di Tangkoko adalah wilayah lahan terbuka dengan mesin-mesin berat yang diinformasikan sebagai bagian dari daerah pertambangan. Pertambangan yang berlokasi tidak jauh dari Tangkoko ditakutkan oleh beberapa organisasi lingkungan hidup berpotensi merusak kawasan hutan beserta flora dan fauna-nya. Turut menjadi keprihatinan adalah kemungkinan tumpahan limbah lumpur tailing dapat mengkontaminasi teluk Rinondoran. Teluk yang merupakan industri perikanan lokal, pusat kehidupan para nelayan.

indahs photography: Kompasiana Blog &emdash;

Yaki, Monyet Endemik Sulawesi (copyright: I. Susanti)

Apakah Bapak tahu bahwa di musim-musim saat para nelayan di propinsi Bapak tidak dapat berlayar karena cuaca buruk, mereka terpaksa beralih menjadi pemburu Yaki dan menjual dagingnya di pasar untuk bertahan hidup? Bayangkan bila teluk tempat mata pencaharian mereka terkontaminasi dan hilang ikan-ikan di sana, habislah isi hutan-hutan di propinsi Bapak.  Populasi Yaki sendiri dalam kurun waktu 30 tahun terakhir ini telah menurun hingga 90% dan terdaftar sebagai jenis primata yang terancam punah kategori merah oleh IUCN. Saya yakin Bapak mengetahui hal ini karena baru-baru ini Bapak menjumpai perwakilan organisasi Selamatkan Yaki yang bertujuan untuk menyelamatkan Yaki dari kepunahan. Bantulah program mulia ini dengan menciptakan alternatif pekerjaan bagi para nelayan yang tidak bisa berlayar ketika cuaca memburuk, sulitnya, sosialisasi dan upaya untuk melindungi hewan yang nyaris punah akan sia-sia ketika penduduk berperut kosong tanpa penghasilan.

Selamatkan Pulau Bangka (Save Bangka Island)

Apakah Bapak pernah melihat video ini? Video ini adalah salah satu kampanye damai oleh penduduk Pulau Bangka dan simpatisannya untuk mempertahankan pulau kecil mereka dari pertambangan bijih besi. Perjuangan mereka sudah dilakukan sejak tahun 2011 dan mereka masih terus berjuang hingga detik ini. Mereka melakukan berbagai upaya agar mendapatkan dukungan, mulai dari media sosial, protes langsung di DPRD dan Kabupaten Minahasa Utara, petisi, gugatan ke pengadilan dan bahkan pameran foto untuk memperlihatkan keindahan bawah laut pulau Bangka.

Tahukah Bapak, ketika kampanye menyelamatkan Pulau Bangka ini dimulai, sebagian besar warga Indonesia tidak mengetahui ada pulau kecil bernama Bangka di Sulawesi Utara? Mereka hanya mengenal Pulau Bangka di Propinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Padahal nama Pulau Bangka di Sulawesi Utara tidak asing bagi penyelam Indonesia dan luar negeri. Karena lokasinya yang berada di tengah-tengah Pulau Bunaken dan Selat Lembeh menyebabkan uniknya terumbu karang dan kondisi bawah laut di pulau kecil ini. Terkadang di pulau  ini bisa ditemui ikan duyung (dugong), yang juga termasuk dalam daftar terancam punah kategori merah oleh IUCN.

Perlawanan penduduk pulau Bangka bukan tanpa sebab. Pertambangan bijih besi yang didanai oleh investor Cina dan mendapatkan ijin dari Bupati Minahasa Utara Sompie Singal ini akan mengolah dua pertiga lahan pulau Bangka yang berarti menggusur penduduk dari dua desa di Pulau Bangka untuk pindah dari tempat mereka dilahirkan, dibesarkan dan hidup. Dalam proses perijinan pertambangan itu sendiri, keikutsertaan penduduk Pulau Bangka pun dapat dikatakan sangat minim. Sehingga jelas pertambangan ini jauh dari konsep pembangunan berkelanjutan dengan partisipasi penduduk setempat.

Selain itu, bukan berita baru bahwa industri pertambangan di Indonesia lebih banyak menghasilkan limbah dan kerusakan alam ketimbang memberi kontribusi positif bagi masyarakat sekitarnya. Diperkirakan aktivitas pertambangan ini akan menghancurkan hutan bakau (mangrove) di Pulau Bangka yang sangat penting bagi keberlangsungan pulau-pulau kecil agar terhindar dari pengikisan dan juga meredam gelombang besar seperti tsunami.

Gerakan menyelamatkan Pulau Bangka, Save Bangka Island, kini menjadi simbol perjuangan penduduk dari pulau-pulau kecil di Indonesia lainnya untuk mempertahankan pulau tempat mereka tinggal dari kerusakan akibat aktivitas ekonomi yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Suatu hal yang, entah dilupakan atau diacuhkan oleh pejabat daerah seperti Bapak dan Bupati Minahasa Utara maupun pejabat pemerintahan pusat, adalah Pasal 23 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang menyatakan pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya diprioritaskan untuk kegiatan yang pastinya bukan pertambangan atau industri berat.

Bila kelak menjadi Calon Presiden dari Partai Demokrat

Besar harapan saya akan adanya tokoh dari Indonesia Timur memimpin negara Indonesia sebesar kekaguman saya akan potensi sumber daya alam Indonesia Timur. Hal ini jujur saya utarakan terlepas dari etnis saya. Indonesia Timur memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan tidak dipungkiri dengan adanya tokoh Indonesia Timur sebagai pemimpin di pemerintahan pusat, dapat membawa angin segar bagi kemajuan Indonesia Timur.

Namun menilik krisis lingkungan hidup yang kini terjadi di propinsi Bapak, saya jadi bertanya-tanya bila Bapak menjadi Presiden kelak,  akan mampukah mengelola alam Indonesia secara berkelanjutan untuk generasi berikutnya? Apakah Bapak benar-benar mencintai kelautan Indonesia, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dan peduli untuk melindungi kelestarian dan keberadaan pulau-pulau kecil dan penduduknya di penjuru Indonesia? Dan akankah Pulau Bangka dan Yaki menjadi kisah seperti babirusa yang hilang dari bumi Minahasa?

Di tahun 2007, Kompas mempublikasikan artikel yang memuat pernyataan Bapak, “akan sangat berdosa bagi saya sebagai gubernur melihat rakyat menderita di kemudian hari”.  Entah apakah itu yang Bapak rasakan saat ini, karena saya tahu ada rakyat Bapak  yang kini tinggal di Pulau Bangka menderita karena cemas setiap harinya akan tempat tinggal mereka yang dapat tergusur setiap saat oleh investasi perusahaan dari negara Cina.

Semoga kecemasan mereka tidak akan pernah terjadi. Semoga..

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 8 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 8 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 8 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: