Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Donni Desyandono

Jakarta, Indonesia

Hari Bumi

OPINI | 06 April 2011 | 04:20 Dibaca: 106   Komentar: 3   0

HARI BUMI

Seringkali kita mendengar istilah hari bumi atau jam bumi (earth hour) dimana pada waktu tersebut masyarakat dunia sejenak bersama-sama mengurangi emisi karbon dengan membatasi penggunaan energi, atau dalam bentuk kegiatan lainnya.

Bumi kita ini tidak saja terdiri dari dataran atau lautan saja, melainkan semua penunjuangnya yang selama masih di dalam atmosfir bumi adalah bagian dari bumi yang harus tetap kita jaga.

Kita melihat adanya perubahan iklim yang ekstrim akibat pemanasan bumi secara global, semua ini menurut para ahli sebagian besar merupakan akibat dari berlebihnya kadar emisi karbon di permukaan bumi yang mengakibatkan efek ‘rumah kaca’ dimana panas matahari yang menerpa bumi tidak bisa terpantulkan secara sempurna, sehingga panas tersebut mengakibatkan bencana di muka bumi yang terjadi akhir-akhir ini.

Pemanasan global dapat terjadi diantaranya karena :

- Pemborosan energi yang digerakan dengan cara pembakaran fosil (yang kita kenal sebagai minyak bumi) yang menghasilkan emisi karbon

- Penggunaan alat pendingin udara

- Kebakaran hutan

- Pengrusakan dan penebangan hutan

- Pencemaran udara

- Limbah sampah (plastic, elektronik, dll)

Mari kita mencoba melihat salah satunya sebagai bahan renungan kita. Bagaimana kita menyikapi sampah plastik dalam kehidupan kita sehari-hari.

Berapa banyak limbah kantong plastik kresek yang keluar dari pasar swalayan maupun pasar tradisional yang awalnya sebagai bungkus pada saat kita belanja di sana.

Bahkan SOP (standar operation procedure) dari pasar-pasar swalayan, memisahkan barang yang dibeli sesuai dengan kelompok, misalkan sabun dengan susu kaleng, yang mengakibatkan semakin banyak lagi kantong plastik yang kita bawa pulang.

Dulu ada kampanye dari beberapa pasar swalayan untuk gerakan ‘hijau’ dengan menawarkan tas kepada para konsumen agar tidak perlu membawa kantong plastik setiap habis belanja. Namun gerakan ini kelihatannya saat ini sudah berkurang bahkan mungkin sudah hilang, atau memang masyarakat tidak peduli, toh pikirannya kalau bisa bawa kantong plastik banyak, lumayan bisa disimpan dirumah untuk bungkus sampah atau digunakan lagi untuk bawa barang.

Tanpa disadari perilaku kita ini akan meningkatkan limbah plastik (yang tidak bisa didaur secara alami) dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk hancur.

Kemana sampah-sampah plastik ini harus dibuang?

Jika setiap keluarga mulai menyadari hal ini dan belajar disiplin, setiap akan berbelanja membawa tas khusus yang agak besar sebagai tempat membawa seluruh hasil belanja saat itu, tentunya tidak diperlukan lagi kantong plastik berlembar-lembar. Jika ini dilakukan terhadap misalkan 500 orang yang belanja di pasar swalayan, berapa banyak kita bisa menekan jumlah limbah ini, apalagi dilakukan oleh seluruh warga Negara Indonesia, mungkin bukan tidak mungkin kantong plastik di pasar-pasar swalayan dan tradisional suatu saat tidak diperlukan lagi, hal yang sama juga apabila belanja makanan yang dibungkus (dibawa pulang) kita membawa tempat makan sendiri, berapa banyak limbah Styrofoam yang juga tidak bisa didaur ulang oleh alam dapat dihindari?

Tanamkan budaya ini kepada keluarga, teman-teman dan anak-anak kita, dimana akan pasti akan membantu menyelamatkan bumi kita, dan lebih memberikan arti pada hari bumi yang selalu kita rayakan.

Ini adalah sebagain contoh yang dapat kita lakukan dalam rangka turut menjaga lingkungan dan bumi kita untuk masa depan.

Jangan lupa, “bumi ini bukan diwariskan oleh nenek moyang kepada kita, melainkan kita meminjam dari anak dan cucu kita”.

Selamat Hari Bumi!…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Petrus Lengkong, Seniman Dayak, Pensiunan …

Emanuel Dapa Loka | | 20 September 2014 | 08:56

Menilik Kasus Eddies Adelia, Istri Memang …

Sahroha Lumbanraja | | 20 September 2014 | 11:51

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 10:24

Wow… Peringkat FIFA Indonesia Melorot Lagi …

Hery | | 20 September 2014 | 09:35

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 6 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 7 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 7 jam lalu

Hanya di Indonesia: 100 x USD 1 Tidak Sama …

Mas Wahyu | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Gas Elpiji 12 Kg dan Elpiji non subsidi …

Asep Wildan Firdaus | 7 jam lalu

Wow! Demi Cinta, Wanita Ini Tinggalkan …

Handarbeni Hambegja... | 7 jam lalu

Sempol, Desa Eropa di Kaki Gunung Ijen …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Memangnya di Sorga Ada Apa?? …

Fenusa As | 8 jam lalu

Menikmati Penyakit Hati …

Orang Bijak Palsu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: