Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Iswanti

Seorang teman yang masih muda dan senang olahraga meninggal dalam sebuah perjalanan, bukan karena kecelakaan, selengkapnya

Polusi Suara di Stasiun Kereta

REP | 19 May 2011 | 18:38 Dibaca: 728   Komentar: 2   0

Kemarin siang saat menunggu kereta jurusan Bogor di Stasiun Pasar Minggu, saya menggunakan waktu dengan menelepon seorang teman. Selama menelepon, berkali-kali percakapan kami terganggu akibat suara berisik yang keluar dari dua pengeras suara yang digantung di atas langit-langit atap peron di depan saya. Ya, suara khas seorang laki-kali yang kerap saya dengar di hampir semua stasiun di tanah air tercinta. Saat suara itu keluar, secara otomatis kami menghentikan pembicaraaan karena memang serasa terjadi polusi suara, karena hampir seluruh ruang di sana dipenuhi dan didominasi oleh suara sang announcer. Saat terdengar nada yang menandakan suara itu bakal muncul, teman saya panik, “Bentar lagi suara Donald Bebek dataaang.” Hahaha.

Dari segi penampakan, banyak stasiun kereta di Indonesia tidak sedap dipandang, apalagi ditambah dengan polusi suara dari pengeras suara yang tiap saat selalu terdengar. Bayangkan, sudah panas, banyak orang, berlama-lama ria berdiri karena bangku sudah penuh oleh penumpang yang membludak, kereta yang ga kira-kira telatnya, dll,  juga ditambah harus mendengar suara yang memekakkan telinga. Saya dan teman saya bertanya-tanya di telepon, apakah selama ini para petugas PT KAI tidak pernah mendengar suara merdu yang keluar dari pengeras suara di semua bioskop jaringan 21 atau yang ada di bandara? Bagaimana perasaan kita ketika mendengar suara empuk itu mendarat di telinga kita? Pasti ada perasaan tenang, tentram dan menenangkan, bukan? Bila suara yang ke luar dari pengeras suara saat berada di dua tempat itu dan kita sedang bercakap-cakap, pasti secara sukarela tanpa paksaan kita akan menghentikan pembicaraan kita lalu menikmati suara empuk itu. Beda sekali yang saya rasakan tatkala ada di stasiun kereta.

Kapankah para pemangku jabatan di PT KAI lebih dalam lagi memikirkan nasib para penumpang kereta? Seperti memikirkan penyediaan kereta yang pantas dan manusiawi bagi penumpang kelas ekonomi agar para penumpang bisa berdiri normal di atas kedua kakinya tidak berdempet-dempetan bagaikan ikan cue yang dijual di pasar, juga memikirkan estetika dalam mengumumkan kedatangan dan keberangkatan kereta dengan menghadirkan suara yang tidak memekakkan telinga bagi penumpang. Yaitu misalnya dengan merekam suara merdu seorang announcer dalam bentuk digital, sehingga kapan pun suara itu diputar tidak menimbulkan polusi suara.

Dalam hal materi yang diumumkan pun sebenarnya tidak semua harusnya diucapkan. Sebagai agen perubahan masyarakat, sebenarnya PT KAI pun bisa mendidik rakyat Indonesia dengan menyediakan informasi dalam bentuk tulisan. Pasang papan besar informasi kedatangan kereta yang selalu diapdate, biarkan penumpang belajar membaca jadwal kereta juga informasi keterlambatan-keterlambatan yang terjadi. Atau bisa juga dipasang diplay teks berjalan di setiap peron. Nah, untuk yang terakhir rasanya terlalu idealis diterapkan di semua stasiun, karena pasti umurnya tidak akan lama akibat banyaknya tangan-tangan jahil yang “kreatif”.

Untuk informasi kedatangan kereta bisa juga digunakan lampu. Misalnya, bila akan datang kereta dari arah utara, lampu hijau berkedip menunjukkan kedatangan berkedip, lalu para penumpang bersiap-siap untuk naik. Lampu berkedip diikuti dengan suara merdu seorang announcer yang diputar dari perangkat digital.

Ide-ide lain yang inovatif dan murah meriah pun bisa diterapkan yang utamanya dalam rangka meningkatkan pelayanan bagi para penumpang. Sering sekali penumpang dibuat tidak senang karena kenaikan tarif dan keterlambatan kereta, nah sekarang sudah saatnya penumpang juga diberikan pelayanan yang baik dengan dihadirkannya kenyamanan seperti suara merdu dari pengeras suara di stasiun.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Di Yogyakarta Antre 4 Jam Demi Segelas …

Hendra Wardhana | | 28 August 2014 | 16:35

Ahok: Pro Transportasi Publik atau …

Ilyani Sudardjat | | 28 August 2014 | 12:43

Kompasianer Ini Berbagi Ilmu Pajak …

Gapey Sandy | | 28 August 2014 | 14:56

Ice Bucket Challenge Versi Gaza …

Asri Alfa | | 28 August 2014 | 16:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 6 jam lalu

Rieke Diah Pitaloka Tetap Tolak Kenaikan …

Solehuddin Dori | 10 jam lalu

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 10 jam lalu

Tomi & Icuk Sugiarto Nepotisme! …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Ramping Jokowi: Cukup 20 Menteri …

Roes Haryanto | 8 jam lalu

Listrik dari Sampah, Mungkinkah? …

Annie Moengiel | 8 jam lalu

Sensasi Rasa Es Krim Goreng …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Indonesia Abad ke-9 Masehi …

Ahmad Farid Mubarok | 8 jam lalu

Catatan Harian: Prioritas di Kereta Wanita …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: