Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Suparno Jumar

...satu lawan terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit...

Serangan ‘Monster’ Malam Hari

OPINI | 04 September 2011 | 21:25 Dibaca: 215   Komentar: 0   0

HAMPIR sebagian wilayah ibu kota dan kota penyangganya memiliki sistem pembuangan yang buruk. Saluran pembuangan limbah rumah tangga malang melintang. Diperburuk dengan kebiasaan membuang sampah semaunya. Biasanya masyarakat dan aparat baru mau bergerak setelah jatuh korban. Korban nyamuk berdarah (DBD) misalnya.

Namun, setelah keadaan kembali normal, gerakan itu terhenti. Upaya segelintir warga nyaris tak berarti. Karena masalah menjadi sangat kompleks. Ini daerah kita. Daerah sebelah sana bukan wilayah kita.

Kita masih butuh pemimpin yang gila. Gila dalam melakukan terobosan-terobosan mengurai masalah krusial. Peka terhadap persoalan yang muncul. Bila perlu, langsung aksi memberikan keteladanan. Tidak puas hanya menerima laporan dari bawahan. Masyarakat akan lebih hormat pada aksi nyata, bukan hanya retorika.

Malam ini saja, sambil menulis, serangan bertubi datang dari nyamuk yang memiliki ’selang’ penghisap darah. Usut punya usut, saluran pembuangan air yang berada di sisi jalan tergenang karena macet. Macetnya karena beberapa penghuni atau pemilik usaha membuat jembatan terlalu pendek. Bahkan, di beberapa bagiannya ada yang mampet. Di bagian hulu, tak jarang saya melihat sampah menumpuk di dalam saluran air. Saya yakin, ada yang sengaja membuangnya.

Di sinilah nyamuk mengembangkan anak dan keturunannya. Berulang kali kami mencoba untuk memotong mata rantai kehidupannya. Menaburkan ikan lele dan belut dengan harapan ikan ini akan menyantap jentik nyamuk. Namun gagal. Mengangkat sampah yang mengapung serta mengangkat jentik dengan jaring-jaring juga sudah dicoba. Hasilnya, jentik memang berhasil diangkat sebagian. Namun, lagi-lagi gagal menghambat laju perkembangannya. Cara kami melindungi diri bila malam hari dengan sebagian badan tertutup. Nyaris hanya mata yang tetap kami biarkan terbuka.

Ingin sekali, serangan ini segera berakhir. Tapi dengan cara apa kami harus mengakhirinya. Karena berharap dari aparat pemerintah terlanjur luntur. Andai saja keseimbangan alam terjaga, kelelawar masih banyak. Kodok masih ada, mungkin serangan serangga bersayap ini tak akan sedahsyat malam lalu, malam ini dan malam-malam yang akan datang.

Adakah ide serta saran dari teman-teman, agar kembang biak nyamuk ini bisa dihambat? Kami tunggu!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Di Kupang, Ibu Negara yang Tetap Modis namun …

Mba Adhe Retno Hudo... | 9 jam lalu

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 13 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: