Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Suparno Jumar

...satu lawan terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit...

Serangan ‘Monster’ Malam Hari

OPINI | 04 September 2011 | 21:25 Dibaca: 208   Komentar: 0   0

HAMPIR sebagian wilayah ibu kota dan kota penyangganya memiliki sistem pembuangan yang buruk. Saluran pembuangan limbah rumah tangga malang melintang. Diperburuk dengan kebiasaan membuang sampah semaunya. Biasanya masyarakat dan aparat baru mau bergerak setelah jatuh korban. Korban nyamuk berdarah (DBD) misalnya.

Namun, setelah keadaan kembali normal, gerakan itu terhenti. Upaya segelintir warga nyaris tak berarti. Karena masalah menjadi sangat kompleks. Ini daerah kita. Daerah sebelah sana bukan wilayah kita.

Kita masih butuh pemimpin yang gila. Gila dalam melakukan terobosan-terobosan mengurai masalah krusial. Peka terhadap persoalan yang muncul. Bila perlu, langsung aksi memberikan keteladanan. Tidak puas hanya menerima laporan dari bawahan. Masyarakat akan lebih hormat pada aksi nyata, bukan hanya retorika.

Malam ini saja, sambil menulis, serangan bertubi datang dari nyamuk yang memiliki ’selang’ penghisap darah. Usut punya usut, saluran pembuangan air yang berada di sisi jalan tergenang karena macet. Macetnya karena beberapa penghuni atau pemilik usaha membuat jembatan terlalu pendek. Bahkan, di beberapa bagiannya ada yang mampet. Di bagian hulu, tak jarang saya melihat sampah menumpuk di dalam saluran air. Saya yakin, ada yang sengaja membuangnya.

Di sinilah nyamuk mengembangkan anak dan keturunannya. Berulang kali kami mencoba untuk memotong mata rantai kehidupannya. Menaburkan ikan lele dan belut dengan harapan ikan ini akan menyantap jentik nyamuk. Namun gagal. Mengangkat sampah yang mengapung serta mengangkat jentik dengan jaring-jaring juga sudah dicoba. Hasilnya, jentik memang berhasil diangkat sebagian. Namun, lagi-lagi gagal menghambat laju perkembangannya. Cara kami melindungi diri bila malam hari dengan sebagian badan tertutup. Nyaris hanya mata yang tetap kami biarkan terbuka.

Ingin sekali, serangan ini segera berakhir. Tapi dengan cara apa kami harus mengakhirinya. Karena berharap dari aparat pemerintah terlanjur luntur. Andai saja keseimbangan alam terjaga, kelelawar masih banyak. Kodok masih ada, mungkin serangan serangga bersayap ini tak akan sedahsyat malam lalu, malam ini dan malam-malam yang akan datang.

Adakah ide serta saran dari teman-teman, agar kembang biak nyamuk ini bisa dihambat? Kami tunggu!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 12 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 13 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 14 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 17 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: