
Dibaca: 763
Komentar: 58
6 dari 8 Kompasianer menilai inspiratif
patung-patung pahatan korban tragedi minamata di area reklamasi limbah (foto: syam)
Awal tahun 2000-an, tragedi Minamata menjadi bahan penting dalam kampanye penolakan impor limbah kimia dari Singapura ke Pulau Bangka, pulau kecil sebelah timur Sumatra, Indonesia. WALHI dan sejumlah organisasi lain bersama masyarakat lokal menyerukan Jangan jadikan Bangka sebagai Minamata kedua!
Rencana impor limbah beracun dan berbahaya dari Singapura itu pun berhasil ditolak setelah gelombang protes berlangsung cukup massif.
Tragedi lingkungan hidup dan kemanusiaan yang terjadi di Minamata telah membuka mata dunia tentang dampak buruk pembangunan, khususnya industri kimia. Di sisi lain, bencana akibat ulah perusahaan Chiso membuat kota kecil di Pulau Kyushu ini menjadi sangat terkenal.
Saya tak akan menjabarkan apa yang terjadi di Minamata. Banyak buku yang membahasnya. Bahkan cukup googling dengan kata kunci minamata desease, semua tulisan terkait akan muncul.
Saya berkesempatan melihat langsung dan berdiskusi dengan para korban dan masyarakat Minamata umumnya. Semacam ziarah bencana sekaligus untuk lebih memahami kasus ini.
Museum Penyakit Minamata yang dibangun atas prakarsa dan swadaya korban (foto: syam)
Tapi temuan yang memberikan kesan mendalam justru bukan tentang isu lingkungan dan tragedi Minamata itu sendiri. Saya terkesan dengan cara pandang para korban. Sekalipun mereka menderita cacat, atau anggota keluarga mereka mati, dan mereka marah, tetapi mereka tetap melakukan introspeksi tentang apa kontribusi mereka terhadap bencana ini. Ini mengagumkan, tapi juga aneh. Bagaimana seorang bayi yang tak berdosa terlahir cacat karena kandungan merkuri organik (limbah perusahaan Chiso) di otak mereka, kemudian mempertanyakan sumbangsih dirinya terhadap bencana yang terjadi sebelum dia lahir?
Aneh! Sekalipun cukup alasan untuk marah, tetapi mereka masih mempertanyakan kontribusi terhadap kesalahan yang tidak mereka lakukan. Saya membayangkan bila kasus Minamata yang menimbulkan ribuan orang korban mati, sakit, atau terlahir cacat, terjadi di Indonesia. Rasanya, cukup alasan bagi korban untuk membakar pabrik sumber pencemaran, lalu meminta pabrik ditutup selamanya. Tapi di Minamata, pabrik milik perusahaan Chiso masih berdiri di lokasi yang sama. Tentu setelah melakukan konpensasi dan mengubah jenis industri mereka.
Dengan satu kawan, Steven Cutting, kami diskusi ringan tentang orang Jepang dan prinsip harmonisasi. Ya, ini soal budaya. Dan mungkin karena itu pula maka tidak pernah ada pergerakan yang revolusioner di Jepang. Tentang gerakan revolusioner di Jepang, saya teringat obrol ringan dengan Sato-san salah satu guru di Kita Highschool, Otsunomiya City. Menurutnya, orang Jepang takut dengan perubahan.
Hijau Muda
teluk minamata, ikan di sini terlarang dikonsumsi selama 30 tahunan (foto: syam)
Tragedi minamata menjadi titik balik bagi para korban untuk memulai gerakan ramah lingkungan. Sebagian nelayan yang menjadi korban minamata kemudian pindah ke daerah pegunungan dan menjadi petani anti bahan kimia atau petani organis. Mereka membuat serikat untuk saling mendukung dan memudahkan pemasaran. Salah satu serikat ini adalah Han Nou Ren. Tak cuma sector pertanian, bahkan sector industri skala rumah tangga pun mengambil peran sebagai agen gerakan selaras alam. Salah satu tempat yang saya singgahi adalah pabrik pengolahan minyak bekas menjadi sabun.
Generasi muda Minamata juga memberi kesan khusus pada saya. Mereka yang sudah menempuh pendidikan di berbagai tempat misalnya di Tokyo, memutuskan pulang kampung untuk membangun Minamata yang lebih baik dan damai.
Salah satu kawan muda di Minamata, Nahoko Osawa, bilang;
“Generasi orang tua kami hidup dalam suasana yang tak damai akibat perbuatan Chiso. Seringkali mereka bertikai satu sama lain antara kelompok korban, entah nelayan atau penderita penyakit minamata, dengan karyawan Chiso, pemilik perusahaan, serta kelompok lainnya. Semua pertikaian akibat ulah Chiso. Tapi generasi muda Minamata seperti kami punya tugas untuk tumbuh bersama dan menciptakan perdamaian bagi Minamata yang lebih baik.“
Umm, entahlah… tiba-tiba saya merasa satu dari cintaku jatuh pada kota kecil yang indah ini.